ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Minggu, 26 Januari 2014

Ingin Tahu Kealiman Kiai Sahal, Baca “Thariqatul Hushul” (Kitab Ra'is Aam Dikaji di Luar Negeri, Ada 8 (Delapan) kitab buah karya Ra'is Am PBNU tiga periode: KH Sahal Mahfudh, yang ditulis Berbahasa Arab)

============
Ingin Tahu Kealiman Kiai Sahal, Baca “Thariqatul Hushul”
=============
Jakarata, NU Online
Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh dikenal sebagai ulama yang memiliki dedikasi keilmuan yang tinggi. Kealiman Kiai Sahal di antaranya tercermin dari karya-karya ilmiah yang dihasilkan.

“Kita kehilangan tokoh, kiai yang alim. Kalau kita ingin tahu kealimannya, kita baca Thariqatul Hushul, syarah (penjelasan) Ghayatul Wushul karangan Abu Zakariyya al-Anshari, sehingga kita lebih mudah memahaminya,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Jumat (24/1).

Ghayatul Wushul yang merupakan kitab ushul fiqih karya ulama Syafiiyyah abad ke-9 H itu sebenarnya adalah syarah atas kitab Lubbul Ushul. Sehingga Thariqatul Hushul yang ditulis Kiai Sahal lebih tepat disebut hasyiyah (ulasan terhadap syarah) atas kitab Ghayatul Wushul.

Dalam pengantar karyanya ini, Kiai Sahal bercerita bahwa sekitar tahun 1380 H (1961 M), ia diminta rekan-rekannya sesama santri untuk mengajarkan kitab Ghoyatul Wushul. Waktu itu Kiai Sahal sedang belajar di Pesantren Sarang, Jawa Tengah.

Saat meminta izin kepada gurunya, Kiai Zubair bin Dahlan (ayah KH Maimun Zubair), ia tak hanya diberikan izin melainkan juga ijazah (sambungan sanad keilmuan). Kiai Sahal yang ketika itu berusia sekitar 24 tahun menuliskan banyak catatan penjelasan tentang isi kitab Ghayatul Wushul hingga akhirnya menjadi sebuah kitab setebal lebih dari 600 halaman seperti saat ini.

Kang Said, sapaan akrab KH Said Aqil Siroj, mengakui kepakaran Rais Aam PBNU itu. Menurut dia, Kiai Sahal adalah ulama berbobot yang teguh dalam berprinsip.

“Beliau adalah orang yang lurus, bersih, yang laa yakhafu law mata laim, tidak gentar dikritik, tidak gentar dicaci, dan tidak sombong ketika dipuji. Dan beliau selalu (menerapkan pernyataan) qulil haqqa wa law kana murran, katakanlah kebenaran walaupun itu pahit,” katanya.
 
 
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,49675-lang,id-c,nasional-t,Ingin+Tahu+Kealiman+Kiai+Sahal++Baca+%E2%80%9CThariqatul+Hushul%E2%80%9D-.phpx
 
Kitab Ra'is Aam Dikaji di Luar Negeri
==================
Tanpa mesti buka kamus bahasa Indonesia, semua orang mengerti kitab. Kitab merupakan buku bacaan. Sementara kuning adalah salah satu warna yang serupa dengan warna emas murni atau warna kunyit. S
etidaknnya begitu dikatakan oleh kamus besar bahasa Indonesia.

Sedangkan kitab kuning lain lagi persoalannya. Kitab kuning boleh juga dipahami sebagai buku bacaan yang dipelajari kalangan pesantren atau masyarakat khususnya di Indonesia. Kitab kuning ditulis dengan bahasa Arab atau Arab pegon baik Melayu, Jawa, Sunda, dan lainnya.
Selain ulama Timur Tengah, para kiai di Indonesia juga produktif dalam menulis. Mereka menulis dengan standar keilmuan yang tidak diragukan. Mereka menulis dengan aneka tema, mulai dari fiqih, tafsir, hadis, doa, ushul fiqih, tasawuf, aqidah, falak, dan bidang ilmu lainnya.
Satu contohnya kitab Thariqathul Hushul 'ala Ghayatil Wushul. Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab oleh Rais Am PBNU KHM Ahmad Sahal Mahfudz. Kitab ini dicetak pertama oleh penerbit Dianatama Surabaya pada tahun 2000/1421 H.
Kitab berisi 460 halaman ini berbicara ilmu Ushul Fiqih. Ia menguraikan kitab Ghayatul Wushul karya Syekh Abu Zakaria Al-Anshari.
“Kitab ini dipelajari di Pesantren Benda Brebes,” kata Syatiri Ahmad Ketua Pengelola Perpustakaan PBNU kepada NU Online di Perpustakaan PBNU, Kantor PBNU lantai dua, Jakarta Pusat, Jumat (15/3) siang.
Dalam pengakuanya, Syatiri mengatakan kitab itu menjadi sumber referensi utama di salah satu universitas di Timur Tengah. Perihal ini diungkapkan oleh seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di universitas itu saat mengunjungi Perpustakaan PBNU.
“Selain patut diapresiasi, perihal ini juga dapat mendorong para kiai Indonesia untuk lebih produktif dalam menulis kitab,” tambah Syatiri.
“Universitas itu adalah Jamiatul Quranul Karim di Sudan,” kata Biro Kerja Sama Beasiswa Timur Tengah PBNU Ahmad Ridho kepada NU Online di Kantor PBNU lantai tiga, Senin (18/3) petang.
Syatiri menyayangkan bahwa kitab itu belum dikaji di pondok-pondok pesantren di Indonesia. Sejumlah alasan dapat dikemukakan. Pertama, keterbatasan jumlah cetak kitab itu. Kedua, kurangnya sosialisasi dari pihak penerbit. Ketiga, ketertutupan pesantren di Indonesia dalam menerima karya-karya ulama Nusantara. http://wwwahamid.blogspot.com/.../kitab-rais-aam-pbnu-kh...
===================
Ada 8 (Delapan) kitab buah karya Ra'is Am PBNU tiga periode: KH Sahal Mahfudh, yang ditulis Berbahasa Arab, yaitu: Thoriqotul Husul (Ushul Fiqh) sbg khasyiyah /penjelasan dari kitab Ghoyatul Wusul, karya Syekh Abu Zakariya Al-Anshori, Al-Bayanul Mulamma’ (ushul fiqih), Faidhul Hija (fiqih), Faraidhul ‘Ajibah (nahwu), Fawaidun Najibah (nahwu), Lum’atul Himmah (hadits), Tsamratul Hajiniyyah (fiqih), dan Intifakhul Wadjaini (fiqih).

Dalam pengantar Thoriqotul Husul buah karya Ra'is Am PBNU tiga periode: KH Sahal Mahfudh disebutkan ada tujuh lagi karya Kiai Sahal yang ditulis dalam bahasa Arab, yakni Al-Bayanul Mulamma’ (ushul fiqih), Faidhul Hija (fiqih), Faraidhul ‘Ajibah (nahwu), Fawaidun Najibah (nahwu), Lum’atul Himmah (hadits), Tsamratul Hajiniyyah (fiqih), dan Intifakhul Wadjaini (fiqih). Rupanya buah karya Mbah Sahal tsbt kurang tersosialisasikan ke publik, padahal kitab Thoriqotul Husul ini infonya sudah menjadi bahan kajian di Universitas Al-Azhar Mesir, namun malah belum banyak dikenal di pasca sarjana perguruan tinggi Islam di Indonesia.http://wwwahamid.blogspot.com/.../ada-8-delapan-kitab...