ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Senin, 27 Januari 2014

SEJARAH BURDAH (PUJIAN BUAT NABI SAW) DARI MASA KE MASA

===============

SEJARAH BURDAH (PUJIAN BUAT NABI SAW)

=============
 
SEJARAH:


BURDAH KA’AB BIN ZUHAIR R.A (PUJIAN BUAT NABI SAW)

Burdah artinya mantel dan juga dikenal sebagai Burdah yang berarti syifa' (kesembuhan). Sedang Burdah yang selama ini kita kenal tidak hanya tertuju kepada gubahan-gubahan al-Bushiri. Burdah ternyata juga memiliki akar yang kuat dalam budaya dan kesejarahan sastra di masa Rasululloh SAW.



A. Burdah Masa Nabi Muhammad saw.

Barangkali, selama ini kita, kalangan pesantren, hanya mengenal Burdah karya al-Bushiri semata. Padahal, ada kasidah Burdah lain yang muncul jauh sebelum al-Bushiri lahir (abad ke tujuh H, atau abad tiga belas M.). Kasidah itu adalah bait-bait syair yang di gubah oleh seorang sahabat yang bernama lengkap Ka'ab bin Zuhair bin Abi Salma al-Muzny. Sebagai ungkapan persembahan buat Nabi Muhammad Saw. Ka’ab termasuk salah seorang Muhadrom, yakni penyair dua zaman: Jahiliyah dan Islam.

Ada kisah menarik dibalik kemunculan Burdah Ka'ab bin Zuhair ini. Mulanya, ia adalah seorang penyair yang suka menjelek-jelekkan Nabi dan para sahabat dengan gubahan syairnya, kemudian ia lari untuk menghindari luapan amarah para sahabat Nabi.


Pada peristiwa Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah), saudara Ka'ab yang bernama Bujair bin Zuhair berkirim surat padanya yang berisikan antara lain: anjuran agar Ka'ab pulang dan menghadap Rasulullah. Ka'ab-pun kembali dan bertobat. Lalu ia berangkat menuju Madinah dan menyerahkan dirinya kepada Rasul melalui perantaraan sahabat Abu Bakar. Diluar dugaan Ka'abb, ia justru mendapat kehormatan istimewa dari baginda. Begitu besarnya penghormatan itu, sampai-sampai Rasul rela melepaskan Burdah (jubah yang terbuat dari kain wol/sufi)nya dan memberikannya pada Ka'ab.

Dari sini, Ka'ab kemudian menggubah qasidah madahiyah (syair-syair pujaan) sebagai persembahan pada baginda Nabi yang terkenal dengan nama kasidah âBanat Suâadâ (Wanita-wanita Bahagia.) Kasidah ini terdiri dari 59 bait, dan disebut juga kasidah Burdah. Di antara prosa berirama gubahan Ka'ab adalah Aku tahu bahwa Rasul berjanji untuk memaafkanku/dan pengampunannya adalah dambaan setiap insan/Dia adalah pelita yang menerangi mayapada/pengasah pedang-pedang Allah yang terhunus

Burdah (jubah) pemberian Nabi itu, kemudian dibeli oleh sahabat Muâawiyah bin Abi Sufyan dari putra Kaâab. Dan biasa dipakai oleh khalifah-khalifah setelah Muâawiyah pada hari-hari besar.


B. Burdah Al-Bushiri

Kasidah Burdah karya Syaikh al-Bushiri, adalah salah satu karya sastra Islam paling populer. Ia berisikan sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad Saw. yang biasa dibacakan pada setiap bulan maulid/Rabiul Awal, bahkan di beberapa belahan negeri Islam tertentu, Burdah kerapkali dibacakan dalam setiap even.

Sajak-sajak pujian untuk Nabi dalam kesusastraan Arab di masukkan dalam genre (bagian) al-madaih al-Nabawiyah. Sedang dalam kesusastraan Persia dan Urdu, dikenal sebagai kesusastraan naâtiyah (bentuk plural naât yang berarti pujian). Dalam tradisi sastra Arab, al-madaâih atau naâtiyah mula-mula ditulis oleh Hasan ibnu Tsabit, Kaâab bin Malik dan Abdullah bin Rawahah. Sedang yang paling terkenal ialah Kaâab bin Zuhair.

Pada abad ke-11 H., muncul seorang penyair al-madaih terkemuka, Saâlabi, yang juga seorang kritikus sastra. Namun munculnya al-Bushiri dengan Burdahnya, sebagaimana munculnya karya Majduddin Sanaâi dalam bahasa Persia, al-madaih atau naâtiyah mencapai fase baru, yaitu tahapan sufistik, karena bernuansa nafas tasawuf. Lahirnya karya kedua penyair ini yang membuat puisi al-madaih berkembang pesat dalam kesusastraan Islam. Khusus karya al-Bushiri, selain sangat populer, ia juga sangat besar pengaruhnya terhadap kemunculan berbagai bentuk kesenian umat Islam. Karya al-Bushiri juga memberikan pengaruh yang tidak sedikit dalam mengoptimalkan metode dakwah Islamiyah, pendidikan dan ilmu retorika (ilmu Badiâ)

Nama Burdah muncul setelah pengarangnya mengemukakan latar belakang penciptaan karya monumentalnya ini. Ketika al-Bushiri mendapat serangan jantung, sehingga separuh tubuhnya lumpuh, dia berdoa tak henti-hentinya sembari mencucurkan air mata, mengharapkan kesembuhan dari Tuhan. Kemudian dia membacakan beberapa sajak pujian. Suatu saat dia tidak dapat menahan kantuknya, lantas tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya, ia berjumpa Nabi Muhammad saw. Setelah Nabi menyentuh bagian tubuhnya yang lumpuh, beliau memberikan jubah sufi (Burdah) kepada al-Bushiri . Kemudian aku terbangun dan kulihat diriku telah mampu berdiri seperti sediakalaâ ujar Syekh al-Bushiri.

Awalnya, al-Bushiri memberi nama karyanya ini dengan nama kasidah Mimiyah, karena bait-bait sajaknya diakhiri dengan huruf Mim, selanjutnya kasidah ini dikenal dengan kasidah Baraâah, sebab menjadi cikal bakal sembuhnya sang pujangga dari kelumpuhannya. Hanya saja nama kasidah Burdah lebih populer di kalangan umat Islam dibanding sebutan yang lain.

Kasidah Burdah terdiri atas 162 sajak dan ditulis setelah al-Bushiri menunaikan ibadah haji di Mekkah. Dari 162 bait tersebut, 10 bait tentang cinta, 16 bait tentang hawa nafsu, 30 tentang pujian terhadap Nabi, 19 tentang kelahiran Nabi, 10 tentang pujian terhadap al-Quran, 3 tentang Isra Miraj, 22 tentang jihad, 14 tentang istighfar, dan selebihnya (38 bait) tentang tawassul dan munajat.


Kasidah Burdah telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia; seperti Persia, India, Pakistan, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Pastun, Indonesia, Sindi dan lain-lain. Di Barat, ia telah diterjemahkan antara lain ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol dan Italia.


Qoshidah Burdah ini tersebar ke seluruh penjuru bumi dari timur ke barat. Bahkan disyarahkan oleh sekitar 20 ulama, diantaranya yang terkenal adalah Imam Syaburkhiti dan Imam Baijuri.


Memetakan hak-hak Allah dan RasulNya adalah satu diantara tujuan penting dalam aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Tidak heran jika beberapa orang dengan intuisi sastra transcendent (sufi) menuangkan buah tulisannya perihal hubungan dirinya dengan Allah dan RasulNya. Jika saja kita dapat merangkai sebuah tema sentral mengenai tujuan hidup kita, tak lain mencerna serta memahami perilaku salik (orang yang menuju ridlo Allah) untuk mencapai Akhlaqul Karimah. Lewat karya-karya sastra merekalah kita bisa meneguhkan aqidah kita.

Memuji Rasulullah adalah sebuah hal terpuji. Para sahabat Rasulullah seringkali mengungkapkan pujian kepada Rasulullah dalam gubahan syair di depan beliau, bahkan menyampaikannya ketika sedang berada di masjid. Rasulullah pun senang dengan pujian syair yang mereka lantunkan. Terdapat beberapa sahabat yang dikenal sebagai penyair di era nabi, di antaranya adalah Hasan bin Tsabit, Abdullah bin Rowahah, dan Ka’ab bin Zuhair. Sebuah syair yang terkenal dalam memuji Rasulullah adalah syi’ir Ka’ab bin Zuhair yang dikenal dengan “banat su’ad”. Syair ini secara keseluruhan berjumlah 34 bait. 


Ka’ab bin Zuhair adalah seorang penyair. Sebelum memeluk Islam, ia pernah membuat tiga bait syair yang membuat nabi murka dan menghalalkan darahnya. Dalam syair itu, ia mencela kakaknya, Bujair bin Ka’ab yang telah masuk islam setelah bertemu nabi termasuk celaan kepada Abu Bakar as-Shiddiq. Ketika syair ini sampai ke telinga Rasulullah, beliau berkata, “siapa yang bertemu Ka’ab, maka bunuhlah dia”. Mendengar nabi saw murka, Bujair mengirimkan sebuah surat kepada adiknya tentang sabda Nabi tersebut dan mengajaknya untuk masuk Islam. Maka ia pun datang ke kota Madinah untuk menyatakan Islamnya dan menemui nabi yang ketika itu sedang berada di masjid. Ia pun menyatakan keislamannya di depan nabi dan merubah isi syair yang mencela Abu Bakar lalu melantunkan sebuah syair yang keindahannya diakui oleh para pakar bahasa, yang diawali dengan bait banat su’adu fa qolbil yauma matbulu.



بانت سعاد فقلبي اليوم متبول

متيم إثرها لم يفد مكبو ل.

ان الرسول لسيف يستضاء به

مهند بسيف من سيوف الله مسلول


Ketika Ka’ab sedang melantunkan syairnya tersebut, Rasulullah memberi isyarat kepada sahabatnya untuk mendengarkan, bahkan Rasulullah lalu memberikan hadiah berupa sebuah burdah. Cerita tentang Ka’ab bin Zuhair diriwayatkan selengkapnya oleh al-Hakim dalam al mustadrok ala as-shohihain, juga disebutkan dalam al-ishobah karangan Ibnu Hajar al-Asqollani dan usdul ghobah karya Ibnul Atsir.

Dari cerita di atas, dapat kita lihat bahwa bersyair yang berisi pujian untuk Rasulullah bukan merupakan hal tercela. Rasulullah sendiri senang dengan pujian yang ditujukan padanya dan menyuruh para sahabat untuk menyimaknya meskipun syair itu disampaikan di dalam masjid. Tidak berhenti di situ, Rasulullah pun memberikan hadiah untuk sang penggubah syair Ka’ab bin Zuhair. 


Tentang syirik yang dituduhkan mereka kepada al-imam al-Bushiri karena menyifati makhluknya (baca: Rasulullah) dengan sifat Allah dan menisbahkan pekerjaan yang hak Allah. Seperti Rasulullah sebagai makhluk disifati sebagai pemberi hidayah, syafa’at dan semisalnya, justifikasi syirik tersebut disebabkan kesalahan mereka dalam memahami bait-bait pujian tidak dengan proporsional. 


Mereka menggunakan dalil sebuah hadis, “jangan berlebihan dalam memujiku seperti orang nashrani memuji Isa putra Maryam”. Hadis ini bukanlah larangan dalam berlebihan memuji nabi, tetapi larangan untuk menuhankan Rasulullah sebagaimana kaum nashrani menuhankan nabi Isa alaihis salam. Bukankah Allah sendiri telah menyebut hambanya tersebut dengan sebutan ro’uf dan rohim dalam al-Qur’an, padahal Allah pemilik sifat rohim seperti tersebut dalam basmalah? 


Diantara kesesatan nalar itu adalah menyalahkan saudara seiman karena membaca syair meskipun bacaan tersebut berisi pujian untuk nabi Muhammad saw. Pujian kepada Rasulullah dianggap oleh kaum extremist terlalu berlebihan dan fakta di lapangan telah diclaim ke dalam kekafiran atau syirik karena menyekutukan Allah, mencampur aduk sifat Allah atau menisbahkan sebuah pekerjaan yang hanya merupakan pekerjaanNya kepada makhluknya. Al-Imam al-Bushiri, pengarang qasidah yang dikenal dengan nama burdah, sering menjadi sasaran kritik dalam masalah ini. Mereka bahkan mengatakan bahwa burdah adalah qasidah syirik, tidak lain hanya nalar yang sesat. 


Mereka juga salah dalam mengartikan tawassul sebagai syirik karena meminta kepada selain Allah. Ini merupakan problem klasik yang telah diulas, dibantah dan dijawab berulang kali oleh ulama ahlussunnah melalui berbagai tulisan mereka. Trancendent berarti ada pemahaman diluar akal yang sifatnya ta’abudi, sedangkan pemusyrikan terjadi karena ranah nalar dipaksakan memahami ranah tauhid yang hanya dimiliki Allah dan Rasulullah saw. Ahlussunnah menjaga betul keserasian nalar dalam menjangkau perihal yang trancendent, salah satu kitab yang membahasnya syawahidul haq karangan Yusuf an-Nabhani dan Mafahim yajibu an tushohhah karangan al-Musnid Assayyid al Muhaddits Muhammad al-Maliky al hasny.