ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Kamis, 27 Juni 2013

Hakekat Kehidupan di Alam Barzah - KEHIDUPAN YANG HAKIKI (Bagian Satu)

==========

Hakekat Kehidupan di Alam Barzah - (Bagian Satu)


  KEHIDUPAN  DI ALAM  BARZAKH
=============================

A.  BARZAKHIYYAH : KEHIDUPAN YANG HAKIKI

1. Kehidupan di alam Barzakh
Kehidupan di alam barzakh sebagai suatu kehidupan yang hakiki diisyaratkan oleh beberapa nash Al-Qur’an dan Hadis Shahih. Kehidupan hakiki di alam barzakh ini tidak bertentangan dengan   persoalan kematian manusia, sebagaimana firman Allah swt
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ(34)
Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS Al-Anbiya’,[21] : 34)
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ(30)
Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (QS Az-Zumar,[39] : 30)
Yang dimaksud dengan kehidupan barzakhiyah sebagai kehidupan Hakiki adalah suatu kehidupan yang benar-benar nyata, dan  bukan suatu kehidupan yang bersifat utopia, khayalan atau hanya ada di angan-angan, sebagaimana yang diyakini oleh kaum atheis dan materialis yang berpikiran sempit yang hanya percaya kepada hal-hal yang bersifat empiris,  serba nampak dan langsung dapat ditangkap indera manusia, yang tidak percaya pada hal-hal yang bersifat ghaib dan yang tidak dapat ditangkap oleh pikiran serta indera manusia.
Banyak Hadis Nabi dan Atsaryang menjelaskan tentang kemampuan pendengaran, pengelihatan, pengetahuan dan perasaan orang-orang yang sudah wafat, baik yang mukmin maupun yang kafir.
Imam Bukhary dan Muslim didalam kitab Ash-Shahihain mengetengahkan Hadis Nabi dari jalur sanad yang beragam, dari Abu Thalhah, dari Umar dan juga dari Ibnu Umar, yang menjelaskan bahwa Rasulullah saw memerintahkan para sahabat agar kedua puluh empat mayat tentara kafir Quraisy yang tewas di tengah pertempuran Badar dilemparkan saja kedalam salah satu sumur di situ. Selanjutnya beliau saw memanggil nama mereka satu persatu : “Hai Umayyah bin Khalaf…! Hai Utbah bin Rabi’ah…! Hai Syaibah bin Rabi’ah…! Hai Fulan bin Fulan…! …(dan seterusnya) …Apakah kalian sudah menemukan apa yang telah dijanjikan “tuhan-tuhan”  yang kalian sembah? Sementara aku benar-benar sudah menemukan apa-apa yang dijanjikan Tuhanku (Allah swt ) kepadaku !”.
Menyaksikan prilaku “aneh” Rasulullah saw tersebut, Umar bin Khatthab ra bertanya: “Apakah engkau berbicara dengan jasad-jasad yang sudah tidak bernyawa lagi ?”. Beliau saw menjawab : “Demi Allah yang jiwaku berada didalam kekuasaan-Nya! Sesungguhnya kalian tidak lebih mampu mendengar terhadap apa yang telah aku ucapkan kepada mereka tadi. Hanya saja mereka tidak mampu menjawabnya”.
Demikianlah Hadis yang diketengahkan oleh imam Bukhary dan Muslim dari jalur Ibnu Umar. Senada dengan di atas, ada beberapa hadis lagi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dari jalur Anas bin Malik ra, dari Thalhah; Imam Muslim meriwayatkannya dari jalur  Anas bin Malik ra, dari Umar bin Khatthab; At-Thabrany meriwayatkannya dari Ibnu Mas’ud dengan sanad yang shahih dan dari Abdullah bin Saidan,  yang didalamnya terdapat teks hadis : “Ya Rasulullah! Apakah mungkin mereka mampu mendengar!”. “Mereka mampu mendengar sebagaimana kalian mendengar. Hanya saja mereka tidak mampu menanggapi atau menjawabnya”, jawab beliau saw. 
Al-Bazzar meriwayatkan hadis yang dinilai shahih oleh Ibnu Hibban, bersumber dari Ismail bin Abdurrahman as-Sadiy, dari ayahnya, dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya mayit itu dapat mendengarkan suara ketukan sandal para pelayat yang pulang dari penguburannya”.
Imam Bukhary meriwayatkan hadis didalam kitab Shahih-nya pada bab Al-Mayyit Yasma’u Khalqan-ni’al, dari jalur Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda : “seorang mayit jika sudah diletakkan di liang kuburnya, dia dapat mendengar suara ketukan sandal para pelayat yang pulang meninggalkannya. Sementara ia didatangi oleh dua malaikat (Munkar dan Nakir) dan didudukkannya”.
Kemampuan mayit mendengar suara ketukan sandal para pelayat yang kembali dari penguburan tersebut diisyaratkan oleh bebarapa hadis selain di atas, di antaranya hadis yang menceritakan tentang adanya pertanyaan kubur, disertai materi pertanyaan dan jawabannya. Juga diisyaratkan oleh beberapa hadis yang memerintahkan para peziarah kubur agar mengucapkan Salam kepada ahli kubur dengan ucapan : 
السَّـلاَمُ عَـلَيْـكُمْ   دَارَ قَـوْمٍ مُـؤْمِنِـيْنَ
Salam sejahtera semoga dilimpahkan Allah swt kepada kalian, wahai penghuni kubur kaum mukminin!”.
  
Ibnu al-Qayyim mengatakan bahwa ucapan Salam dengan lafazh seperti di atas hanya disampaikan kepada orang yang bisa mendengar lagi berakal. Jika tidak demikian, berarti ucapan Salam itu sama dengan disampaikan kepada orang dan barang (benda padat) yang tidak ada. Hal ini jelas tidak masuk akal. Dengan kata lain, Ahli Kubur yang diberi ucapan Salam seperti ucapan di atas jelas menunjukkan bahwa ia bisa mendengar. Jika tidak mampu mendengar, tentulah tidak ada perintah salam kepada Ahli Kubur dengan shighat salam seperti di atas. Para ulama Salaf bersepakat terhadap persoalan ini. Banyak Atsar-atsar yang mutawatir dari mereka yang menjelaskan bahwa mayit mampu mengetahui dan mendoakan baik kepada setiap orang yang menziarahinya.
Abdurrazzaq meriwayatkan hadis tentang persoalan ini dari Zaid bin Aslam, ia  menjelaskan bahwa  Abu Hurairah ra bersama-sama dengan temannya melewati sebuah pekuburan, kemudian ia bilang kepada temannya: “Ucapkan salam!”. Temannya bertanya : “Apakah aku akan mengucapkan salam kepada penghuni kubur?”. Jawab  Abu Hurairah ra : “Jika ia diberi kesempatan kembali hidup di dunia ini barangkali sehari saja, tentu ia akan mengenalimu sekarang ini!”. (HR Abdurrazzaq didalam kitabnya, Al-Mushannif , juz 3, hal. 577).
Itulah keyakinan dan akidah yang dimiliki oleh kaum Salaf, yakni golongan Ahlussunnah wal Jamaah. Hanya saja saya tidak mengerti, kenapa orang-orang yang mengaku dirinya sebagai kelompok dan pengikut ulama salaf, justru lupa, melupakan, atau mungkin pura-pura lupa terhadap kenyataan adanya  kehidupan Barzakhiyah ini.
Ibnul Qayyim secara panjang lebar menguraikan persoalan ini didalam kitabnya yang berjudul Ar-Ruh. Dan pada kesempatan ini, kami mencoba menukil fatwa-fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari bukunya, Al-Fatawa al-Kubra”, yang menjelaskan bahwa ia pernah ditanya orang : “Apakah mayit-mayit itu mengetahui dan mengenal orang yang sedang menziarahi kuburannya? Apakah mereka juga mengenal mayit yang baru saja datang dari alam dunia ini, apakah ia masih keluarganya ataukah bukan?”  Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sejenis.
Ibnu Taimiyah menjawab : “Alhamdulillah. Benar, bahwa mereka mengenal. Banyak Atsar-atsar yang menjelaskan kebenaran tentang bertemunya mayit yang sudah lama menghuni alam barzah dengan mayit yang baru saja datang dari alam dunia dan menjadi penghuni baru alam barzah. Mayit-mayit yang sudah lama bertanya kepada mayit yang baru saja datang, tentang keadaan keluarga mereka yang masih hidup di alam dunia, dan juga diceritakan kepadanya tentang kiriman doa dan pahala amal shaleh dari keluarganya yang masih hidup di alam dunia. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnul Mubarok yang bersumber dari Abu Ayyub al-Anshary: “Bila seorang mukmin wafat, sesampainya di alam kubur, ia ditemui orang-orang yang sudah lama wafat, sama halnya seperti mereka yang bertemu secara langsung di alam dunia. Mereka menyambut kedatangan mayit yang baru datang dan menanyakan segala hal kepadanya. Sebagian di antara mereka ada yang mengatakan kepada sebagian yang lain : “Lihatlah saudaramu yang baru saja datang ini! Dia nampaknya sedang istirahat”, atau ada yang mengatakan : “Sesungguhnya ia sedang bingung dan nampaknya sangat susah sekali”. Selanjutnya mereka sama mendatanginya dan menanyakan tentang keadaan keluarga mereka yang masih hidup di alam dunia, tentang keadaan teman-teman yang mereka kenal di alam dunia, atau juga, tentang apakah si Fulan atau Fulanah sudah menikah ataukan belum”.
Mengenai persoalan apakah mayit dapat mengenal siapa yang datang menziarahi kuburannya dan mengucapkan Salam kepadanya, telah dijelaskan oleh hadis yang bersumber dari Ibnu Abbas ra , bahwa Rasulullah saw bersabda : “Tiada seorang pun yang melewati suatu pekuburan saudara mukminnya yang pernah ia kenal di dunia, lalu  mengucapkan salam kepadanya, melainkan saudaranya (yang sudah wafat) itu tentu mengenalnya dan akan menjawab salamnya”.
Ibnul Mubarok mengatakan: “Hadis tersebut benar-benar berasal dari Rasulullah saw. Abdul Haq, seorang penulis kitab Al-Ahkam menilainya Shahih”. (Majmu’  Fatawa asy-Syaikh Ibnu Taimiyah, juz 24, hal. 331).
Pada kesempatan yang berbeda, Ibnu Taimiyah pernah ditanya : “Apakah mayit dapat mendengarkan pembicaraan dan melihat pribadi orang yang menziarahinya? Apakah saat itu ruh si mayit dikembalikan kepada jasadnya? Ataukah pada saat itu dan pada saat yang lain ruhnya bergerak-gerak dan mengepak-epakkan di atas  kuburannya? Apakah ruh orang yang baru saja wafat akan bertemu dan berkumpul atau bergaul dengan ruh-ruh para karib kerabatnya yang sudah lama wafat?”
Jawaban Ibnu Taimiyah : “Alhamdulillahi rabbilalamiin. Benar katamu. Secara global, mayit itu mampu mendengar, sebagaimana yang dijelaskan didalam kitab hadis “Ash-Shahihain”, dari Rasulullah saw : “Mayit mampu mendengar suara sandal para pelayat yang kembali dari penguburannya”.
Selanjutnya Ibnu Taimiyah mengemukakan beberapa hadis yang menjelaskan persoalan kehidupan barzakhiyah ini, dan ia menambahkan : “Nash-nash hadis ini menjelaskan bahwa mayit mampu mendengar secara global pembicaraan orang yang masih hidup di alam dunia. Namun hal ini bukan suatu kemestian. Terkadang mayit tersebut dapat mendengar pada suatu saat dan tidak dapat mendengar pada saat yang lain, disebabkan terhalang oleh hal-hal tertentu. Yang dimaksud dengan “Mendengar” dalam persoalan ini adalah dalam pengertian “memahami apa yang didengarnya”, bukan dalam pengertian “mendengar secara khayalan atau kiasan”. Hanya saja, pendengaran mayit tersebut tidak diikuti dengan kemampuannya untuk menyahuti atau membalas dengan suatu ucapan tertentu, sehingga orang lain (yang masih hidup) balik dapat mendengar ucapan si mayit.
Allah swt berfirman :
إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى
Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar “ (QS An-Naml,[27] : 80)
Yang dmaksud “mendengar” didalam ayat di atas adalah  dalam pengertian mendengar untuk menyambut dan mentaati perintah Allah swt, karena Allah swt menjadikan orang Kafir sama seperti Mayit yang tidak dapat menyahuti dan menuruti ajakan orang yang mengajaknya, dan bagaikan Hewan yang tidak mampu mendengarkan suara orang dan tidak mampu menangkap makna pemahaman yang terkandung didalamnya. Sementara Mayit, kalaupun ia dapat mendengar, ia pun juga dapat memahaminya, hanya saja ia tidak mampu menjawab orang yang mengajaknya bicara dan tidak mampu mentaati apa yang diperintahkan kepadanya dan menjauhi apa yang dilarang untuknya, sehingga tidak berguna  mengajak ber-amar makruf dan nahi munkar kepada mayit, sebagaimana tidak bergunanya mengajak orang  Kafir untuk beramar makruf dan nahi munkar, meskipun ia mampu mendengar pembicaraan atau ucapan ajakan dan mampu memahami isi pembicaraan orang.
Allah swt berfirman :
وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ(23)
Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).” (QS Al-Anfal,[8] : 23)
Sedangkan persoalan kemampuan mayit untuk dapat “Melihat”, dijelaskan didalam beberapa Atsar yang bersumber dari Aisyah ra dan sahabat lainnya.
Pertanyaan mengenai Apakah Ruh si mayit dikembalikan ke jasadnya pada waktu itu, ataukah Ruhnya itu bergerak-gerak dan mengepak-epakkan di atas pekuburannya pada waktu itu dan pada waktu yang lain?, Ibnu Taimiyah menjawab, bahwa Ruh si mayit saat itu dan pada saat yang lain memang dikembalikan kepada jasadnya, sebagaimana yang dijelaskan didalam beberapa hadis Nabi. Ruh dan badan si mayit dapat bersatu kapan saja, bila Allah swt menghendakinya, yakni pada saat malaikat hendak menemuinya, atau sewaktu ia hendak mengembara di atas bumi, atau pada saat ia menemui dalam mimpi orang yang sedang tidur.
Beberapa Atsar menjelaskan tentang keberadaan Ruh-ruh orang yang sudah wafat didalam kuburnya. Mujahid mengatakan : “Ruh-ruh berada didalam liang kuburnya selama tujuh hari sejak dimakamkannya, dan tidak lepas dari itu. Namun hal ini terkadang tidak demikian, sebagaimana yang pernah dijelaskan oleh Malik bin Anas : “Telah sampai kepadaku suatu riwayat bahwa para arwah keluar dari kuburnya dan mengembara sekehendaknya. Dan hanya Allah swt yang lebih tahu”. (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Ibnu Taimiyah, juz 24, hal. 362)
Ibnu Taimiyah pada suatu kesempatan mengatakan, bahwa kehidupan para syuhada’ dan kenikmatan yang mereka terima, sebenarnya telah dijelaskan oleh beberapa nash Al-Qur’an dan Hadis Nabi. Di antaranya adalah sebuah hadis Shahih yang menjelaskan  bahwa Arwah mereka keluar-masuk sorga. Segolongan ulama berpendapat, bahwa para syuhada’ memang benar-benar diberi kesempatan memasuki calon surganya. Dan ini hanya khusus para syuhada. Sedangkan bagi kaum shalihin, shiddiqin dan lainnya, mereka tidak diberi kesempatan untuk memasukinya. Pendapat yang benar adalah pendapatnya para Imam dan mayoritas pengikut Ahlussunnah wal jamaah yang menyatakan, bahwa kehidupan, rizki, kenikmatan dan kesempatan memasuki surga, bukanlah monopoli para syuhada’ saja. Bisa jadi hal itu juga diberikan kepada selain mereka, sebagaimana yang dijelaskan oleh beberapa nash-nash yang ada. (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Ibnu Taimiyah, juz 24, hal. 332).
2. Jangan Sakiti Mayit
Rasulullah saw pernah melihat seseorang yang sedang menyandarkan tubuhnya di atas suatu makam, lalu beliau saw  bersabda : “Anda jangan menyakiti penghuni kubur itu”.
Hadis tersebut diketengahkan oleh Ibnu Taimiyah didalam bukunya, Al-Muntaqa, juz 2, hal. 104 dan ia mengaitkannya dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnad-nya. Demikian pula Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalany menyebutkannya didalam kitabnya, Fathul Bary, juz 3, hal. 178 dengan sanad Shahih.
Ath-Thahawy mengetengahkan sebuah hadis didalam bukunya, Ma’anil Atsar, juz 1, hal 296 yang bersumber dari Ibnu ‘Amr bin Hazm yang artinya : “Rasulullah saw melihat aku yang sedang berada di atas pekuburan seseorang, lalu bersabda : ‘Turunlah dari kuburan itu! Jangan sakiti penghuninya (mayit), karena ia tidak menyakitimu’”. (Majma’ az-Zawaid, juz 3, hal. 61).
3. Makna kehidupan Barzakhiyyah
Perlu kami jelaskan bahwa yang dimaksud dengan kehidupan barzakhiyah adalah suatu kehidupan yang sama sekali berbeda dengan kehidupan duniawiyah, bahkan merupakan suatu kehidupan yang khas yang sangat sesuai dengan kondisi para penghuninya (para arwah).
Dalam kehidupan duniawi, manusia masih diharuskan melakukan aktifitas-aktifitas seperti ibadah, adab sopan santun, adat istiadat, berbudaya, bernegara, ketaatan, serta melaksanakan Hak dan Kewajiban tertentu, baik terhadap diri sendiri, keluarganya, masyarakat, maupun terhadap Tuhannya. Dalam kehidupan duniawi, suatu saat manusia dalam keadaan suci dan pada saat lain dalam keadaan yang sebaliknya; suatu saat ia berada di masjid, dan pada saat yang berbeda ia didalam kamar kecil. Manusia tidak mengetahui, kapan ia berakhir menjalani hidup di dunia ini. Terkadang jarak antara dirinya dan surga hanya sehasta. Tadinya ia mukmin dan tergolong calon penghuni surga, lalu tiba-tiba berbalik menjadi Kafir dan menjadi calon penghuni neraka. Begitu sebaliknya, sepanjang hidupnya ia nampak seperti calon penghuni neraka, dan tanpa diduga beberapa saat menjelang kematiannya, ia justru berbalik menjadi orang yang beriman dan bertaubat, sehingga ia menjadi calon ahli surga.
Sementara selama dalam kehidupan Barzakhi ini, jika termasuk orang yang beriman, ia akan melewati tahapan-tahapan ujian dan cobaan, yakni siksa kubur yang tidak akan selamat melewatinya kecuali Ahlus-Sa’adah. Dia pun bebas dari beban menjalankan syariat. Dia menjadi Ruh yang bercahaya, suci, dapat berfikir, dapat berkelana ke tempat-tempat yang dikehendakinya, bahkan berjalan dan  berkeliling ke seluruh wilayah Kerajaan Allah swt , yang meliputi alam syahadah dan alam ghaib. Dia selalu riang gembira,  serta tidak mengenal susah payah dan sedih, karena ia tidak terikat atau butuh kepada dunia, harta, emas dan perak, sehingga dia tidak mengenal irihati, hasud, melakukan kejahatan, dan juga tidak mengenal dendam antara yang satu dengan lainnya.