ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Minggu, 30 Juni 2013

PEMBANGUNAN MASJIDIL HARAM Pekerja Kasar dari Indonesia Diupah Rp 5,6 Juta

=========
PEMBANGUNAN MASJIDIL HARAM
Pekerja Kasar dari Indonesia Diupah Rp 5,6 Juta
==============================
Mekkah, NU Online
Di balik cerita mengenai proses pembangunan Masjidil Haram dan pengurangan kuota haji 20 persen, ada cerita lain, yakni mengenai orang-orang Indonesia yang terlibat dalam proyek pembangunan itu.

Tahun 2004, perluasan Masjidil Haram digalakkan. Saat itu, tidak kurang 5.000 pekerja dilibatkan. Mereka berasal dari berbagai penjuru dunia. Tak luput pula dari Indonesia.

Pantauan NU Online, bukit-bukit di sekitar sini sudah tidak 'menganggur' lagi. Pemerintah benar-benar memanfaatkannya. Mulai dari pembangunan ribuan apartemen, lahan tandus dijadikan tempat perhotelan lengkap dengan restoran super mewah.

Traktor-traktor, truk, dan alat-alat berat lainnya menghiasi jalan-jalan menuju Makkah. Kalau di Madura, bukit-bukit dihiasi dengan pepohonan dan rumah-rumah penduduk. Sedangkan di sini berbeda, yang ada adalah tanah tandus yang akan dan atau sudah 'ditanami' gedung-gedung pencakar langit.

Seorang muthowwif yang mengenalkan dirinya kepada NU Online bernama Turmudzi menjelaskan, sejak tahun ini, perluasan Masjidil Haram dilipatgandakan.

"Proyeknya besar-besaran. Para pekerjanya sudah puluhan ribu. Pemerindah di sini menggalakkan perluasan tersebut tiada lain guna memenuhi kebutuhan zaman," terangnya dengan Bahasa Arab yang cukup lancar.

Kebutuhan zaman yang dimaksud ialah membludaknya para jamaah haji tiap tahunnya. Sebagai dampaknya, kuota jamaah haji kini dikurangi secara drastis. Namun demikian, pengurangan kuota haji tersebut berbanding lurus dengan berkurangnya pengangguran dunia.

Sanusi, pria asal Indonesia yang menjadi pekerja bertahun-tahun di Makkah menjelaskan, buruh dari Indonesia yang dimanfaatkan dalam perluasan Masjidil Haram kini mencapai ribuan.

"Dan upah di sini terbilang tinggi. Lima kali lipat bila dibanding UMK (upah minimum kerja, red) di Indonesia. Dalam sebulan, pekerja kasar diganjar Rp 5,6 juta atau Rp 2 ribu real," ungkap Sanusi.

Untuk itulah, Sanusi bersama para buruh Indonesia lainnya menyatakan sangat betah di tanah suci kelahiran Rasulullah SAW ini.

"Selain bekerja dengan upah yang tinggi, kami masih juga leluasa menajamkan ibadah di sini. Alhamdulillah," terangnya sembari pamit dan tergesa-gesa untuk melanjutkan pekerjaannya.

Sebagaimana diketahui, UMK di Indonesia terbilang minim. Di Kabupaten Pamekasan saja, hanya Rp 1.050.000. Itupun masih banyak perusahaan yang melakukan 'penindasan' dengan mengupah jauh di bawah UMK.

Ketua Lembaga Hukum dan  Keadilan Indonesia (LHKI) Cabang Madura Sudarsono menjelaskan, sudah sepantasnya Indonesia meneladani pola pengupahan para pekerja di Makkah tersebut.

"Minimal betul-betul menerapkan peraturan terkait penetapan UMK. Sangat naif manakala hanya bisa membuat peraturan untuk kemudian tidak diimbangi kontrol yang tegas," tukas Sudarsono.

sumber:http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,45-id,45477-lang,id-c,internasional-t,Pekerja+Kasar+dari+Indonesia+Diupah+Rp+5+6+Juta-.phpx