ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Minggu, 30 Juni 2013

Subchan ZE Pemimpin Besar Yang Dilupakan Dan Sebagai Simpul Perjuangan

==========
Subchan ZE
Pemimpin Besar Yang Dilupakan Dan Sebagai Simpul Perjuangan
=====================
Krisis yang datang selalu menguji kualitas masyarakat dan individu, ketika krisis terjadi keadaan nyaris tak terkendali, semua mengalami disorganisasi dan disorientasi. Hanya individu dan masyarakat yang benar-benar dewasa dan matang yang tidak terseret dalam krisis sebab mereka relatif bisa mengendalikan diri, tidak terjerumus dalam sikap anarki atau melakukan amuk massa yang beringas.
Orang yang teruji dalam krisis akan muncul sebagai tokoh, ia akan dijadikan panutan, karena memiliki orientasi yang jelas, pemikiran yang cerdas, serta integritas moral yang kuat. Dari pimpinan seperti itu diharapkan akan bisa menerobos dari kungkungan krisis yang dialami selama ini. Dengan adanya pengujian berat semacam itu tidak mungkin pemimpin karbitan bisa bertahan dan tidak mungkin kader cangkokan bisa menjadi panutan. Tipe semacam itu telah menjadi korban utama krisis, sehingga kehadirannya hanya menjadi sampah, untuk mengatasi krisis butuh pemimpin yang matang dan memiliki integritas yang jelas.
Dalam situasi krisis menjelang runtuhnya Orde Lama 1964-1965 muncul tokoh muda Nu Subhan ZE, seorang tokoh kharismatik, dalam arti dihormati karena memiliki kecerdasan, kemampuan memimpin dan memiliki integritas serta keberanian menanggung risiko. Saat itu Subchan menjadi pimpinan kaum pergerakan demokrasi menghadapi Demokrasi Terpimpinnnya Soekarno, sehingga pikirannya menjadi rujukan kalangan aktivis mahasiswa dan pemuda saat itu. Persis dengan posisi Abdurrahman Wahid pada masa akhir Orde Baru yang menjadi simpul perlawanan terhadap rezim otoriter itu.
Hal itu menunujukkan bahwa NU selalu tampil memberikan jalan bagi bangsa ini ketika menghadapi krisis nasional, baik diminta atau tidak. Ini menunjukkan bahwa peran NU sangat dominan dalam membangun dan mempertahankan republik ini baik melalui massanya maupun tokoh elitenya yang muncul saat krisis, ketika pemimpin yang lain kehilangan legitimasinya. 

Sebagai Simpul Perjuangan
Subhan adalah pemimpin yang merangkak dari bawah, sejak dari pimpinan Cabang NU di Kudus, tetapi karena kepemimpinannya brilian, maka kemudian dipromosikan menjadi salah seorang pengurus besar NU. Sebagai seorang yang berangkat dari bawah, maka mekanisme demokrasi sangat diharapkan, sebab hanya dengan mekanisme itu kelompok yang tidak punya prelese memiliki akses politik dan kepemimpinan. Dengan latar belakang semacam itu maka wajar kalau sejak awal sangat concern pada demokrasi, karena itu keputusan Soekarno untuk melibas sidang konstituante serta mengeluarkan Dekrit Presiden 1959 benar-benar merisaukan Subhan, apalagi Dekrit tersebut kemudian mengarah pada pembentukan Demokrasi Terpimpin, yang bagi Subhan adalah pengkhianatan terhadap gagasan Demokrasi itu sendiri. Karena itu ia menggabungkan diri ke dalam kelompok oposisi yang terhimpun dalam Liga Demokrasi. Demokrasi menurut Subchan adalah sebuah proses tukar-menukar gagasan dan kekuatan, dari pergumulan ide dan kekuasaan itulah kemudian bisa dirumuskan pendapat bangsa.
Dalam suasana Demokrasi terpimpin yang otoriter, Subhan walaupun kapasitasnya sebagai pemimpin NU, namun jangkauan kepemimpinannya melampaui organisasinya itu. Dengan kejernihan pikirannya dan keberaniannya menyampaikan pikiran, maka pikiran dan tindakannya dijadikan rujukan kalangan pemuda dan mahasiswa pada umumnya. Dari situ subhan menyelenggarakan forum dialog baik formal maupun informal untuk tukar menukar gagasan, sebagai elemen dari demokrasi, sebelum kemudian di tingkat politik ia berusaha melakukan pergumulan kekuatan untuk membentuk kekuatan nasional. Tetapi hal itu sulit dicapai, sebab pemerintahannya tidak demokratis, anggota parlemen tidak dipilih tetapi diangkat, karena itu ia disamping berjuang melalui jalur partai politik NU, namun memiliki pijakan di dunia intelektual dan mahasiswa pada umumnya.

Kepedulian Terhadap Masalah Politik dan Ekonomi
Ketika Demokrasi Terpimpin menjadikan politik sebagai panglima, tetapi Subchan tidak terlalu terpengaruh pada iklim itu, karena itu ia tetap tekun dalam melakukan kajian ekonomi. Ia mengikuti beberapa kursus ekonomi di luar negeri dan menjadi mahasiswa tamu di sana antara lain di Standford University, Washington University dan Blumington University dan juga di California University. Dengan minatnya yang kuat ia memiliki pengetahuan ilmu ekonomi sangat mendalam. Dengan kemampuan itu ia menjadi anggota beberapa lembaga ekonomi seperti Ketua Dewan Ekonomi Indonesia Pusat, Wakil Presiden Perhimpunan Ekonomi Asia Afrika, menjadi Dekan Fak Ekomoni Universitas Nahdlatul 'Ulama dan dosen tamu bidamg ekonomi dan politik di berbagai universitas.

Ekonomi bagi Subhan buka hanya teori, tetapi juga praktik, sejak kecil ia memang telah bergumul dengan dunia bisnis, di kota industri Kudus, dari situ justru minatnya dalam bidang teori ekonomi tumbuh. Karena itu pengetahuannya tentang ekonomi tidak textbook thinking, melainkan penguasaan empiris, sehingga lebih relevan dan lebih berdaya guna dalam menyelesaikan masalah.
 
 
sumber: http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,13-id,8095-lang,id-c,tokoh-t,Pemimpin+Besar+Yang+Dilupakan-.phpx