ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Kamis, 27 Juni 2013

KH Ali Maksum Membela Kebenaran Amaliah Nahdhiyyin (حجة أهل السنّة و الجماعة)

=====

KH Ali Maksum Membela Kebenaran Amaliah Nahdhiyyin*) - 1



Judul Asli Kitab
: “حجة أهل السنّة و الجماعة” 
  (Hujjah Ahlissunnah Wal Jama’ah)
Judul Terjemahan
: KH Ali Maksum Membela Kebenaran Amaliah Nahdhiyyin
Penyusun
: KH Ali Maksum
Penterjemah
: Achmad Suchaimi




______________________________________
 
KATA  PENGANTAR 
Bismillah, walhamdulillah, was-sholatu wassalamu ‘ala Rosulillah, wa’ala alihi wa ashohbihi waman walah, wala haula wala quwwata illa billah.
Naskah terjemahan yang berjudul “KH ALI MAKSUM MEMBELA KEBENARAN AMALIAH (Tradisi) NAHDHIYYIN”  ini merupakan terjemahan dari kitab berbahasa arab  “Hujjatu Ahlissunnah Wal Jama’ah, karya KH Ali Makshum, Rois  Am PBNU periode 1979 - 1983. 
Sesuai dengan judulnya, naskah ini menguraikan beberapa amaliah atau tradisi  keagamaan “Kaum Nahdhiyyin di Indonesia khususnya dan mayoritas kaum “Ahlussunnah Wal Jama’ah” di dunia pada umumnya, seperti tradisi talqin mayyit pasca penguburan, ziarah kubur, shalat tarawih 20 rakaat, wisata ziarah ke makam Rasulullah, penetapan awal-akhir ramadhan dan lain-lain. Namun menginjak awal abad duapuluh miladiyah, amaliah dan tradisi kaum Nahdhiyyin tersebut  digugat keabsahannya oleh “segerombol” umat islam yang menyatakan diri sebagai Kaum Modernis, MTA (Majlis Tafsir Al-Qur’an), Salafi Wahhabi dan antek-anteknya dengan tuduhan bid’ah, syirik, kufur, sesat dan lain-lain. Akibatnya, tidak jarang hal ini menimbulkan keresahan, perpecahan, dan bahkan bentrok fisik di kalangan kaum Muslimin sendiri, yang berujung pada rusaknya ukhuwwah Islamiyyah. Padahal kalau dikaji lebih dalam, amaliah dan tradisi tersebut merupakan persoalan  furu’ iyyah fiqhiyyah (cabang), bukan ushul (prinsip) dan bersifat ijtihadiyah (hasil pemikiran ijtihad) yang memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama. Di samping itu, amaliah dan tradisi ini sudah mapan berkembang sejak periode awal pembentukan Islam, yakni sejak masa Nabi SAW dan masa-masa sesudahnya sampai sekarang. Sehingga tidak ada gunanya memperdebatkan dan mengungkit-ungkit persoalan yang sudah mapan berkembang tersebut, apalagi sampai menimbulkan bentrok fisik dan rusaknya ukhuwwah Islamiyyah. Na’udzibillahi min dzalik.
Melalui karya tulisnya ini, KH Ali Makshum berusaha untuk membela dan mempertahankan kebenaran amaliah dan tradisi tersebut dengan cara mengkaji kembali, meneliti dalil-dalilnya dan mengembalikannya kepada sumbernya yang asli, yakni Al-Qur’an, Hadis, serta perilaku para sahabat dan salafus-shalih. Dengan harapan agar kaum Nahdhiyyin khususnya dan kaum Muslimin pada umumnya akan semakin mantap dalam menjalankan amaliah dan tradisinya, serta tidak terjebak kedalam percekcokan dan perdebatan semu dengan sesama saudara muslim tentang persoalan khilafiyah.  
Sehubungan dengan itu, kami sengaja untuk mempublikasikan hasil penterjemahan atas karya monumental KH Ali Maksum tersebut melalui blog “Alumni Krapyak Ngayogjokarto Berbagi” ini secara bersambung, dengan mengikutsertakan teks arabnya.
Selanjutnya, kami menyadari bahwa naskah ini masih banyak kekurangan disana sini. Oleh karenanya, saran, masukan dan kritik yang konstruktif sangat kami harapkan untuk penyempurnaan naskah ini di masa depan.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian naskah ini, terutama kepada KH Asyhar Sofwan, MPdI (pengasuh PP Al-Fatih Tambos Sby & Katib Syuriyah PCNU Kota Surabaya) atas koreksi & masukannya, dan Ustadz Muhammad Ma’ruf (Ketua LBM PCNU Kota Surabaya & Pengasuh acara Hujjah Aswaja di TV9) yang meluangkan waktunya untuk mentakhrij Hadis-hadisnya.
Akhirul kalam. Semoga bermanfaat dan membawa keberkahan. Robbi fanfa’naa bibarktihii, wahdinal husnaa bihurmatihii. Wa amitnaa fii thoriiqotihii, wa mu’aafaatin minal fitani. Amin. (Penterjemah).
_________________________________________________
T A Q D I M
Oleh KH Ali Maksum
 

الحمد لله الذي انزل الكتاب تبيانا لكل شيئ و هدى و رحمة لقوم يؤمنون. فيه بصائر و نور و شفاء لما في الصدور. و لا يعقله الا الراسخون. فاسألوا أهل الذكر إن كنتم تعلمون. و قال تعالى : و من يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى و يتـبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى و نصله جهنـم و ساءت مصيرا ( سورة النساء, 4 : 115 ) . 
و الصلاة و السلام على سيدنا محمد المبعوث بالحلم و الرحمة الواسعة القائل : مهما اوتيتم من كتاب الله فالعمل به واجب لا عذر لأحد في تركه, فإن لم يكن في كتاب الله فسنة لي ماضية, فإن لم يكن في سنة لي فما قال أصحابي, لأن أصحابي كالنجوم في السماء, فأيما أخذتم به فقد اهتديتم, و اختلاف أصحابي لكم رحمة. و على أله و صحبه الصابرين و الصادقين و القانتين و المنفقين و المستغفرين بالأسحار الذين هم أمنة هذه الأمة المعصومة من الإجماع على الخطاء و الغواية, و على الذين اتـبعواهم بإحسان و لا يتـبعون خطوات الشيطان.
و بعد, لما رأيت مسيس حاجة اخواني الطلبة بالمعهد الإسلامي (كـرابياك جقجاكرتا) خصوصا و غيرهم من امثالي القاصرين عموما الى بيان :
1- أمثلة من المسائل التي لا ينبغي تبادل الإنكار فيها, مثل مسألة قبلية الجمعة و مثل مسألة تلقين الميت بعد الدفن و نحوهما.
2-  و أمثلة من المسائل التي أجمع عليها و تمسك بها أهل السنة و الجماعة,  مثل مسألة ثبوت شهري رمضان و شوّال بالرؤية  و مثل زيارة القبور  و نحوهما.
كي لا يستولي عليهم في دينهم الوساوس و الأوهام الباطلة و لا يتسلط عليهم الشيطان و اولياؤه بالإغواء و الإضلال, و لا يغـتروا تلبيسات اهل الأهواء, و ان كثر القيل و القال, و يعلموا حقا أن ما عليه السلف الصالح هو الحق المتـبع. فما بعد الحق الا الضلال؟
جمعت في هذا الكتاب ما قاله أساطين العلماء الأعلام و أكابر رجال الإسلام. إذ لا سبيل لمثلي القاصر في هذا الأمر إلا الجمع و النقل من عبارات هؤلاء الكرام و الإعتماد عليهم.
على أنـي لم أكن لأحدث نفسي بتجشّم هذا العناء. لولا أخرجه الخطيب البغدادي في الجامع و غيره, انـه صلى الله عليه و سلم قال : إذا ظهرت الفـتن ( او قال) البدع, و سب أصحابي فليظهر العالم علمه. فمن لم يفعل ذلك فعليه لعنة الله و الملائكة و الناس أجمعين, لا يقبل الله منه صرفا و لا عدلا. و ما رواه الحاكم عن ابن عباس رضي الله عنه, أن النـبي صلى الله عليه و سلم قال : ما ظهر اهل بدعة إلا أظهر الله فيهم حجـته على لسان من شاء من خلقه.
و ها انا ذا, أذكر فيما يأتي امثلة من النوعين. و الله المستعان لإصابة الصواب, و عليه التكلان و اليه المصير.
TERJEMAH :
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kitab suci Al-Qur`an sebagai penjelas, petunjuk dan rahmat bagi kaum beriman. Didalamnya terkandung berbagai ilmu pengetahuan, cahaya dan obat penyakit hati. Tiada yang mampu mendalami dan mengungkap isinya selain para ulama yang mumpuni (ar-Rasyikhun). Karena itu, bertanyalah kepada ahlinya agar kamu mengetahui.
Allah SWT berfirman :
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْـهُدَى وَ يَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْـمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَ نُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَ سَاءَتْ مَصِيْرًا
Artinya :Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanna, Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (QS an-Nisa`[4] : 115)
Shalawat dan salam semoga dilimpahkan Allah SWT kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang diutus dengan penuh toleransi, kasih sayang dan berpandangan luas, yang pernah bersabda :
مَهْمَا أُوْتِيْتُمْ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَالْعَمَلُ بِهِ وَاجِبٌ لَا عُذْرَ لِأَحَدٍ فِي تَرْكِهِ, فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَسُنَّةٌ مِنِّى مَاضِيَةٌ, فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةٍ مِنِّى فَمَا قَالَ أَصْحَابِي,إِنَّ أَصْحَابِي بِمَنْزِلَةِ النُّجُوْمِ فِي السَّمَاءِ, بِأَيُّمَا  أَخَذْتُمْ بِهِ اهْتَدَيْتُمْ, وَ اخْتِلَافُ أَصْحَابِي لَكُمْ رَحْمَةٌ.
Artinya :Bagaimana pun juga, kalian telah diberi kitab suci Al- Qur`an. Untuk itu, kalian wajib mengamalkan isi kandungannya. Tidak ada alasan meninggalkannya. Jika tidak ditemukan didalam Al-Qur`an, ambillah sunnahku (hadis) yang telah lewat. Jika tidak ada didalam sunnahku, ambillah apa yang dikatakan oleh para sahabatku. Karena mereka bagaikan bintang di langit. Manakala kalian mengambil perkataan mereka, kalian akan memperoleh petunjuk. Perbedaan pendapat di kalangan sahabatku merupakan rahmat bagi kalian”.[1]
Semoga shalawat dan salam juga dilim-pahkan Allah SWT kepada segenap keluarga dan sahabat beliau yang penyabar, benar keimanannya, patuh, gemar berinfaq, dan beristighfar di akhir malam (waktu sahur). Mereka merupakan umat yang terpercaya dan mereka tidak akan bersekongkol untuk berbuat salah, apalagi menyesatkan. Shalawat dan salam semoga juga dilimpahkan kepada orang-orang yang mengikuti jejak para sahabat dengan penuh keimanan dan tidak mengikuti jejak langkah setan.
Saya memperhatikan para santri Pondok Krapyak Yogya khususnya dan kaum muslimin yang sangat terbatas keilmuannya pada umumnya sangat membutuhkan penjelasan tentang beberapa persoalan agama yang nampaknya sepele dan selayaknya tidak perlu dipertengkar-kan diantara sesama umat Islam, seperti masalah shalat sunnah qabliyah jum’at, men-talqin mayyit, dan sejenisnya. Juga beberapa persoalan agama yang sudah disepakati dan dipegangi oleh golongan Ahlussunnah wal Jamaah dalam kehidupan beragama  seperti masalah penetapan awal bulan Ramadhan dan Syawwal berdasarkan rukyatul hilal, berziarah kubur, dan sejenisnya. agar mereka tidak lagi merasa waswas dan ragu terhadap kebenaran amaliyah keagamaan mereka, tidak dijerumuskan oleh setan, tidak terjerumus ke jurang kesesatan, tidak mudah terkecoh dengan berbagai pandangan ngawur para pemuja hawa nafsu, dan agar mereka mengetahui dengan sebenarnya bahwa apa saja yang telah dilakukan oleh para ulama salaf as-shalih itu semuanya benar (haqq) dan mesti diikuti, karena selain yang haqq itu sesat.
Didalam buku ini, saya sekedar menyusun kembali berbagai pendapat para ulama besar dunia dan tokoh-tokoh agama Islam. Karena  tidak ada cara lain bagi orang seperti saya yang sangat dangkal ilmunya ini selain sekedar menyusun kembali berbagai pendapat mereka dan mengikutinya.
Saya sendiri sebenarnya merasa berat melakukan tugas ini. Kalau saja tidak ada sebuah hadis Nabi yang dikemukakan oleh Al-Khathib al-Baghdadi didalam kitab Al-Jami` dan kitab-kitab lainnya, yaitu sabda Rasulullah SAW bersabda :
إِذَا ظَهَرَتْ الْفِتَنُ  اَوْ قَالَ  الْبِدَعُ, وَ سُبَّ أَصْحَابِي فَلْيُظْهِرْ العَالِمُ عِلْمَهُ. فَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَ الْمَلَائِكَةِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْن, لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ صرْفًا وَ لَا عَدْلًا
Artinya :Jika telah muncul fitnah, (atau kata beliau : bid’ah) dan  sahabatku dicacimaki, maka orang yang berilmu (ulama) hendaklah menampakkan keilmuannya. Barangsiapa yang tidak melakukannya, ia tentu akan dilaknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima amalnya, baik yang wajib maupun yang sunnah”. [2]
Dan sebuah hadis lagi riwayat al-Hakim dari Ibnu Abbas r.a. yang menyatakan :
مَا ظَهَرَ أَهْلُ بِدْعَةٍ قَطُّ إِلَّا أَظْهَرَ اللَّهُ فِيْهِمْ حُجَّتَهُ عَلَى لِسَانِ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ.
Artinya :Tidak sekali-kali muncul ahli bid’ah melainkan Allah akan menampakkan argumentasi-Nya untuk menghadapi mereka melalui lidah orang yang dikehendak-Nya.[3]
Berikut ini akan saya jelaskan beberapa contoh dari kedua bentuk persoalan agama yang telah saya sebutkan di muka. Hanya kepada Allah-lah kami memohon pertolongan, bertawakkal dan kembali.
....................... bersambung ke AMAN - 2. 

*) Judul terjemahan tersebut untuk selanjutnya diberi kode AMAN - ....

[1]   HR Baihaqi nomor 152 dalam Al Madkhol ila as-Sunan al-Kubro; I/162; Abu Nashr as Sajzy dalam Al-  Ibanah dan mengatakan sebagai hadits Gharib; Khathib dalam Al Kifayah fi ‘Ilm ar-Riwayah, I/48; Ibnu ‘Asakir, XXII/359; Dailami, IV/160, nomor hadits 6497
[2]   HR Khothib nomor hadis 1266 dalam Al-Jami’, dan Abu Bakar al-Khalal nomor 797 dalam As-Sunnah. 
[3]   Ditakhrij oleh Dailami, IV/36