ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 26 Juni 2013

Syirikkah meminta sesuatu (keajaiban) kepada seseorang ? Dijawab Oleh Al-Sayyid Muhammad Alawy Al-Maliki Al-Hasany RA

===========

Syirikkah meminta sesuatu (keajaiban) kepada seseorang ?




Oleh : Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki



Segelintir orang yang suka mengkafirkan orang yang bertawassul bependapat, bahwa meminta kepada (Roh-roh) para Nabi dan kaum shalihin sesuatu permintaan yang mereka tidak mampu melakukannya kecuali Allah swt merupakan perbuatan syirik.
Sikap yang demikian itu menunjukkan ketidakpahaman mereka terhadap hal-hal yang dilakukan oleh kaum muslimin, baik di masa lalu maupun sekarang. Sebenarnya kaum muslimin hanya meminta agar para Nabi dan kaum shalihin itu dijadikian sebagai “Sebab” Allah swt mengabulkan permintaan yang mereka kehendaki. Mereka berharap, agar dengan perantaraan syafaat, doa dan kedekatan Arwah tersebut kepada Allah swt segala permintaannya terkabul. Sebagaimana hal ini dijelaskan didalam beberapa hadis shahih. Misalnya mengenai kasus orang buta yang minta bantuan kepada Rasulullah saw agar sembuh, kemudian beliau mengabulkan permintaannya dan beliau sembuhkan matanya dengan izin Allah swt. Beliau tidak mengatakan kepada orang itu, “Dengan sikap ini, berarti Anda telah mensyirikkan Allah swt. Karena Anda meminta kepadaku sesuatu (penyembuhan) yang sebenarnya hanya mampu dilakukan oleh Allah swt”.
Demikian juga para sahabat Nabi yang lain meminta bantuan kepada beliau saw sesuatu yang diluar jangkauan manusia, seperti meminta disembuhkan dari penyakit kronis tanpa obat; minta diturunkan hujan dari langit tanpa didahului arak-arakan mendung; meminta agar makanan yang sedikit menjadi banyak; memancarkan air dari jari-jari beliau, dan lain-lain. Kesemuanya itu merupakan perbuatan yang diluar kemampuan manusia pada umumnya. Akan tetapi beliau saw justru menyanggupi permintaan mereka dan tidak pernah mengatakan bahwa mereka itu musyrik, kafir atau sesat.
Dengan demikian, apakah orang yang beranggapan dan berpandangan bukan pada tempatnya itu lantas menjadi orang yang paling mengetahui kondisi kesempurnaan dan kerusakan ketauhidan seseorang, melebihi Rasulullah saw dan para sahabatnya? Ini benar-benar aneh dan tidak pernah terbayangkan, sekalipun oleh orang yang paling bodoh, apalagi oleh orang yang memiliki wawasan keilmuan yang luas dan dalam.
Al-Qur’an mengabadikan permintaan Nabi Sulaiman as kepada para pembantunya dari kalngan jin dan manusia :
قَالَ يَاأَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ(38)
Berkata Sulaiman: "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri". (QS An-Naml,[27] : 38)
Ayat di atas menjelaskan perihal permintaan Nabi Sulaiman as kepada para pembantunya agar   Istana Ratu Bilqis yang ada di Yaman dipindahkan ke depan Istananya yang ada di Syam, dengan cara yang cukup spektakuler, luar biasa dan luar biasa, untuk membuat ketakjuban didalam hati Ratu Bilqis sehingga ia mudah diajak beriman kepada Allah swt .
Ifrid, salah satu dari golongan jin berkata:
قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا ءَاتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ(39)
Berkata `Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya". (QS An-Naml,[27] : 39)
Dia bersedia mengusung istana tersebut didalam waktu yang singkat. Namun Nabi Sulaiman menginginkan yang lebih cepat dari itu. Maka menghadaplah kepada beliau seorang yang shaleh, shiddiqin, dan waliyullah dari golongan manusia yang sangat menguasai isi kitab Taurat dan Zabur, seraya berkata :
قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا ءَاتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". (QS An-Naml,[27] : 40)
Nabi Sulaiman nampaknya setuju, lalu dipanggillah orang shaleh tersebut untuk melaksanakan kesanggupannya, maka dalam waktu yang sangat singkat , yakni sebelum mata Nabi Sulaiman berkedip sesudah memerintahkannya, Istana Ratu Bilqis sudah berada di depan Istana beliau. Kemudian beliau berkomentar, sebagaimana yang telah diabadikan didalam Al-Qur’an :
فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni`mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (QS An-Naml,[27] : 40)
Mendatangkan dan memindahkan Istana dengan cara yang luar biasa ini merupakan pekerjaan diluar kemampuan manusia pada umumnya, apalagi hanya dalam waktu sekejap mata. Sebenarnya pekerjaan ini hanya mampu dilakukan oleh Allah swt. Namun Nabi Sulaiman justru meminta bantuan kepada seorang shaleh yang kemudian disanggupinya,” Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”.
Apakah dengan demikian lalu Nabi Sulaiman otomatis melakukan perbuatan Syirik ? Sekali-kali tidak, baik Nabi Sulaiman maupun orang shaleh tersebut, keduanya tidak melakukan kesyirikan. Penisbatan Perbuatan Allah swt pada dua hal di atas, yakni permintaan Nabi Sulaiman kepada orang shaleh dan kesanggupan orang shaleh mengabulkan permintaan Nabi Sulaiman untuk memindahkan Istana Bilqis dengan cara yang luar biasa, adalah penisbatan yang bersifat “Majazi”, bukan dalam pengertian yang sebenarnya (“Haqiqy”). Dengan kata lain, yang mampu memindahkan Istana dalam waktu sekejap mata tersebut, pada hakekatnya, adalah Allah swt, bukan orang shaleh itu. Dengan demikian, permintaan Nabi Sulaiman kepada orang shaleh tersebut, pada hakekatnya, dapat diartikan sebagai permohonannya kepada Allah swt dengan perantaraan orang shaleh itu.
Demikian pula para sahabat yang memohon sesuatu kepada Rasulullah saw, hanyalah dapat diartikan sebagai permohonan mereka kepada Allah swt dengan perantaraan beliau saw. Lantara Allah-lah, pada hakekatnya, yang memiliki dan yang mampu mengabulkan permintaan mereka. Dengan demikian, permintaan mereka yang berbunyi : “Ya Rasulullah! Sembuhkanlah penyakitku!”  atau “Ya Rasulullah! Tolonglah aku, agar hutang-hutangku lunas!”, dapatlah diartikan dan ditafsirkan berbunyi : “Ya Rasulullah! Mintalah bantuan dan syafaat kepada Allah swt, kiranya Dia menyembuhkan penyakitku!”, atau berbunyi: “Ya Rasulullah! Berdoalah kepada Allah swt untukku, agar hutang-hutangku lunas”.
Ringkas kata, para sahabat tidak semata-mata meminta bantuan kepada Rasulullah saw , melainkan meminta didoakan dan dimintakan syafaat kepada Allah swt, disebabkan beliau saw mereka pandang sebagai orang yang memiliki derajat dan kedudukan yang mulia di sisi Allah swt.
  Itulah keyakinan yang kami pegangi didalam menafsirkan setiap ucapan dan perkataan kaum muslimin yang berisi permohonan bantuan, pertolongan, syafaat dan sejenisnya, kepada sesama manusia. Ucapan mereka lebih ditafsirkan sebagai ucapan yang bersifat “Majazi”, bukan “Haqiqi”, sehingga dengan begitu, tidak dipandang sebagai ucapan yang membahayakan akidah. Dan Al-Qur’an sendiri sering mempergunakan ungkapan yang bersifat “Majazy”. Misalnya :
سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ(36)
Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS Yasin,[36] : 36)