ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Sabtu, 29 Juni 2013

IKA PMII: Wadah Kaderisasi di Tingkat Alumni

============
IKA PMII: Wadah Kaderisasi di Tingkat Alumni
=======================
Tulisan ini sengaja ditulis untuk menyambut Munas IKA PMII (Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), yang bakal digelar pada tanggal 1 Juli mendatang.
Belakangan geliat kaderisasi dilingkungan NU –termasuk PB PMII dengan dua ratus lebih cabangnya yang menyebar di 33 provinsi- semakin mendapatkan perhatian utama. Setidaknya PBNU sendiri terlihat sudah melakukan penataan secara serius dalam beberapa tahun terakhir di bidang kaderisasi dan pengembangan spirit kewirausahaan.

Menurut hemat penulis, inti kaderisasi adalah pendidikan sekaligus pengajaran. Keduanya terlihat sama tapi beda karena hewan juga belajar. Pendidikan merupakan pekerjaan jangka panjang, memberikan penyadaran, transfer nilai dan teladan dalam keseharian. Sedangkan mengajar lebih kepada kegiatan teknis keseharian. Dengan kata lain mendidik dapat menggunakan proses mengajar sebagai sarana untuk mencapai hasil yang maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan. Mendidik bobotnya adalah pembentukan sikap mental atau kepribadian bagi anak didik, sedang mengajar bobotnya adalah penguasaan pengetahuan, keterampilan dan keahlian tertentu yang berlangsung bagi semua manusia pada semua usia.

Hal yang paling utama dan pertama menjadi perhatian dalam kaderisasi PMII adalah soal mentalitas. Pada pendidikan akhlak yang membuahkan sikap yang sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan PMII. Di sinilah pondasi dasar dari kaderisasi PMII yang harus menjadi perhatian utama kader-kader pergerakannya.

Belasan mungkin puluhan ribu kader PMII yang terwadahi dalam dua ratus lebih cabang dan tersebar di 33 provinsi se-Indonesia bukanlah jumlah yang sedikit. Setiap tahun cabang melalui komisariat dan rayon melakukan perekrutan anggota baru. Mereka semua wajib mengikuti kaderisasi berjenjang yang kemudian menjadi kader pergerakan. Sehingga setiap tahun jumlah anggota dan kader bertambah, sungguh secara kuantitas tidak ada yang menandingi. Dibanding saudaranya yang terwadahi di IMM, HMI, GMNI, PMKRI, GMKI dan lainnya. Namun mungkin masih perlu diuji jika menyangkut kualitas, bidang penguasaan keilmuan serta keahlian.

Pada wilayah ini sesungguhnya posisi penting IKA PMII adalah sejauh mana alumni PMII ini berkontribusi secara aktif dan dalam bidang apa saja mereka membaktikan dirinya bagi bangsa dan negara. Jika kita lihat, begitu luas dan kaya NKRI, dengan sumber daya alamnya yang bisa diperbaharui maupun tidak, tentu membutuhkan SDM yang terampil dan mumpuni. Indonesia butuh seorang manajer yang handal sekaligus para pekerja yang ahli di bidangnya, para pendidik yang mumpuni, wirausahawan yang tangguh, bahkan juga buruh. Indonesia butuh kepastian regulasi mulai dari hulu hingga hilir. Lalu diposisi mana entitas IKA PMII dan persebaran alumninya? Apakah secara kuantitas dan kualitas berada pada posisi yang strategis? Ataukah banyak yang hanya menjadi pelengkap dari para pengambil kebijakan? Sejauh mana perannya sebagai jangkar bagi kader-kader PMII untuk meniti ke jenjang selanjutnya?

Disadari atau tidak di situlah tanggung jawab utama alumni PMII, karena bakti yang dilakukan alumni PMII kepada bangsa khususnya tunas muda pergerakan pasti juga akan berimbas kepada NU. Apalagi tugas dan kewenangan NU sebagai “orang tua” PMII sesungguhnya kini dalam tataran tertentu telah beralih kepada alumninya, IKA PMII. Tentu IKA PMII maupun bapak-bapak di lingkungan NU sadar betul akan hal ini. Dalam konteks membangun SDM inilah PMII, alumninya maupun aktivis NU lainnya dituntut untuk “lari maraton” dalam merespon dinamika bangsa dan Negara yang semakin kompetitif.

Mendinamisasi Tradisi

Gus Dur telah telah meletakkan dasar-dasar strategis dan merumuskan arah perkembangan tradisi dalam berbangsa dan bernegara. Beliau mengandaikan adanya dinamisasi dalam menjaga dan merawat tradisi. Bisa dipahami bahwa dinamisasi merupakan sebuah proses gerak maju yang berkelanjutan. Nyatanya di dalamnya terkandung watak modernisasi. Sebagai sebuah langkah perjalanan, gerak dinamis dari sebuah tradisi pada lanjutnya melingkupi modernitas itu sendiri. Jika dicari dasarnya, sejatinya gerak dinamis itu menemukan rujukannya pada kaidah “menjaga tradisi yang baik dan secara sekaligus menggali tradisi-tradisi baru yang lebih baik.” Pada akhirnya akan diketemukan bahwa di dalamnya juga terkandung pesan keharusan akan adanya proses belajar yang mutlak terus-menerus tiada akhir. Di sinilah letak penting “garis-garis besar haluan” aktivis NU terutama PMII dengan alumninya.

Barangkali hal itu juga tercermin dalam kedirian dan dinamika lintas alumni PMII (agen-agen tradisi), di daerah maupun di pusat. Sebagai sebuah wadah yang relatif baru, IKA PMII menurut sebagian pendapat merupakan pengganti atau pelanjut saja dari FOKSIKA (Forum Komunikasi Keluarga Alumni PMII). Karena pada kenyataannya hanya sebagai wadah kumpul-kumpul (paguyuban). Tak ada beda dengan wadah sebelumnya. Terlepas dari apapun, keberadaan wadah alumni yang sudah dibentuk dengan bagus itu di era sekarang dan kedepan dirasa sangat penting. Diharapkan pula bisa lebih berkembang lagi menjadi organisasi yang tidak asal jalan. Untuk itu diperlukan kepemimpinan yang kuat dan bisa mengorganisir seluruh potensi yang ada.

Periode IKA PMII sekarang dipandang cukup bagus dalam membentuk jejaring dan mengkonsolidasikan antar alumni di berbagai daerah. Langkah tersebut merupakan pondasi dasar bagi tegaknya wadah para alumni PMII yang tersebar di mana-mana. Namun sayangnya wadah alumni yang sekarang maupun sebelumnya belum mempunyai blue print strategi lanjut pengembangan kader, pembuatan data base dan penataan administrasi yang bagus. Sehingga cukup menyulitkan untuk melihat persebaran, keahlian serta spesifikasi bidang para alumni. Padahal langkah itu penting sekali sebagai variabel dalam merumuskan pengembangan kaderisasi.

Lebih lanjut, dalam kontestasi nasional para alumni PMII -yang menempati jabatan-jabatan penting di pemerintahan sekaligus lintas partai politik- ternyata cukup punya tempat tersendiri. Tidak jarang para alumni tersebut tidak berkenan duduk dalam satu meja dan bersepakat dalam satu persoalan. Hal inilah yang kemudian memahamkan kita bahwa menjaga tradisi tabayun ternyata tidaklah mudah.

Dinamika itu pun sebenarnya acapkali kita jumpai di berbagai organisasi lainnya, apalagi bila ditambahi bumbu momentum suksesi kepemimpinan nasional, eksekutif maupun legislatif. Persoalannya adalah bagaimana menyeimbangkan porsi kepentingan taktis dan strategis di tubuh alumni? Lantas apa langkah-langkah yang bisa menjadikan seluruh kader-kader PMII dan yang paling penting alumninya (IKA PMII) bersepakat dan bersatu? Adakah kalimatun sawa’ yang bisa menjadi pegangan sekaligus pemersatu? Menurut hemat penulis, pertanyaan-pertanyaan itulah yang mendesak untuk dicari bersama jawabnya.

Untuk merealisir agenda-agenda tersebut ada baiknya wadah alumni mempertimbangkan pola kepemimpinan kolektif kolegial untuk mencapai musyawarah mufakat dalam setiap keputusannya. Memang pola kepemimpinan ini terkesan kurang familiar dalam tradisi PMII. Namun sekali lagi watak mahasiswa sejak awal mempunyai tradisi pemikiran yang progresif. Kolektif Kolegial sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak model kepemimpinan yang diterapkan dalam berbagai organisasi. Dengan bentuk organisasi tersebut, memungkinkan setiap Anggota Pimpinan memiliki wewenang yang sama dalam hal mengambil keputusan. Jadi keputusan itu diambil secara bersama-sama (kolektif) dan bersifat kekeluargaan (kolegial).

Kepemimpinan kolektif kolegial bisa memadukan politisi, pengusaha, akademisi, ulama, birokrat dan sebagainya. Pola ini bisa diharapkan bisa saling melengkapi antar pimpinan. Memang sosok figur ketua umum tidak ada, namun pola kepemimpinan ini paling mendekati untuk menginginkan sebuah regenerasi kolektif yang bagus. Regenerasi secara kolektif, akan mempercepat proses penyegaran dan pencerahan dalam kepemimpinan alumni PMII ke depan. Transfer kader dari bawah keatas (vertikal) maupun horisontal akan berjalan secara dinamis. Tidak menutup kemungkinan, PMII sendiri ke depan bisa mengadopsi pola kepemimpinan serupa.

Penulis berpendapat alumni PMII tidak harus masuk ke dalam lembaga-lembaga NU. Kader-kader alumni PMII harus berdiaspora, menekuni berbagai bidang, di dalam maupun diluar pemerintahan dan menjadi yang terbaik. Namun kader-kader alumni PMII yang terbaik juga harus ada yang berkarya dan mengembangkan NU. Menggerakkan roda organisasinya untuk kemaslahatan seluruh warganya, bukan sebaliknya hanya mengambil manfaat saja dari NU, apalagi untuk kepentingan pribadi.

Jika satu dekade paska reformasi PMII dan juga NU panen para sarjana dan intelektual yang mumpuni dalam rumpun keilmuan agama, sosial dan humaniora. Maka satu atau dua dekade ke depan panen alumni PMII bisa dipastikan lebih beragam lagi dengan keahlian yang beragam pula. Bisa jadi banyak yang sukses menggeluti bermacam bidang industri, akademisi maupun pakar-pakar lainnya. Bola inilah yang diharapkan mampu dijemput oleh pengurus baru IKA PMII hasil Munas pada 1 Juli mendatang.

Kiranya dengan kualitas-kualitas yang mumpuni dengan etos kerja tinggi, banyak alumni yang pantas memimpin IKA PMII periode mendatang. Di antaranya, Surya Dharma Ali, Idrus Marham, A. Muhaimin Iskandar, Arif Mudatsir Mandan, Lukman Hakim Saifudin, Khofifah Indar Parawansa, Effendi Choiri, Ahmad Muqowam, dan Arvin Hakim Thoha. Sedangkan dari kalangan birokrat dan akademisi ada nama Ali Masykur Musa, Imam Anshari Saleh, Wahiduddin Adam, Kacung Maridjan, Lilis Nurul Husna, Abdul Hafidz Anshari. Dari kalangan muda ada nama Nusron Wahid, Heri Herianto Azumi, Zaini Rahman dan juga Juri Ardiantoro. Wallahu’alam bishowab.



*Oleh MIFTAH FARID MH Kabiro Kaderisasi PB PMII