ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Jumat, 21 Juni 2013

Mengelola Koperasi Harus Berprinsip Sifat-Sifat Nabi

========
===============
Mengelola Koperasi Harus Berprinsip Sifat-Sifat Nabi
====================
Jombang, NU Online
Ada dua prinsip dasar yang harus dijalankan dalam mengelola sebuah lembaga keuangan (koperasi) agar bisa berhasil. Pertama, pengelola koperasi harus siddiq dan amanah; Kedua, sistem pengelolaannya harus tabligh dan fathonah.

Yang pertama menuntut kejujuran dan tanggungjawab manusia sebagai pengelola, dan yang kedua menuntut sistem pengelolaannya dilakukan secara transparan (tabligh) dan profesional (fathonah).

Dua prinsip tersebut, bukanlah sesuatu yang baru di lingkungan pesantren. Karena dua prinsip yang diringkas dari empat sifat-sifat Nabi Muhammad SAW tersebut, diajarkan di pesantren sejak seorang santri pertama kali belajar ilmu-ilmu dasar keislaman, dan hampir semua santri hafal sifat-sifat Nabi tersebut

Hal itu disampaikan KH Mahmud Ali Zain, Ketua Pengurus BMT (Koperasi) Sidogiri Pasuruan, dalam kegiatan Sarasehan Pengembangan Ekonomi Pesantren yang dilaksanakan oleh Ikatan Alumni Bahrul Ulum (IKABU) Tambakberas Jombang, pada Rabu (19/05).

Kegiatan yang dadakan di Aula Yayasan Pesantren Bahrul Ulum tersebut dihadiri oleh sekitar 100 orang dari alumni dan pengurus Pesantren Bahrul Ulum. Tampak hadir di tengah-tengah peserta Ketua Majelis Pengasuh Bahrul Ulum, KH Hasib Abd Wahab, serta jajaran pengurus Yayasan Bahrul Ulum.

Lebih lanjut KH Mahmud menyatakan bahwa, BMT yang dia pimpin saat ini berangkat dari keprihatinan pengasuh Pesantren Sidogiri atas merajalelanya bank thtihtil (rentenir) yang beroperasi di sekitar pesantren.

“Ketidakmanfaatan ilmu santri salah satunya dari praktek-praktek rente yang terjadi di sekitar pesantren,” cetus kiai Mahmud.

“Kita berangkat dari kecil, dari dana yang terkumpul melalui simpanan pokok yang berjumlah sekitar 13 jutaan,” kata kiai yang memimpin BMT yang saat ini sudah memiliki perputaran aset lebih dari 3 trilyun ini.

“Kalau ditanya bagaimana bisa seperti saat ini, modalnya hanya bonek (bondo nekad, red) dan hanya tekad yang kuat untuk turut serta menghapuskan sistem ekonomi yang dholim, dimana yang besar selalu mendholimi yang kecil,” lanjutnya.

“Dan yang lebih utama adalah, apakah yang kami lakukan ini sebagai mas’ulun amama Allah, tanggung jawab kami dihadapan Allah, untuk turut menghapus kedholiman dan ketidakadilan,” kata kiai Mahmud. 

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,45277-lang,id-c,daerah-t,Mengelola+Koperasi+Harus+Berprinsip+Sifat+Sifat+Nabi-.phpx