ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Kamis, 23 Januari 2014

Bulan Kelahiran dan Wafatnya Al-Sayyidah Fathimah Az-Zahro' Al-Batul RA

==========
Bulan Kelahiran dan Wafatnya Al-Sayyidah Fathimah Az-Zahro' RA PDF Print E-mail
=================
www.majalah-alkisah.comSayyidah Aisyah binti Abubakar RA berkata, “Aku tidak melihat seseorang yang perkataannya dan pembicaraannya yang menyerupai Rasulullah SAW selain Fathimah…”

Jumadil Akhirah, adalah bulan Sayyidah Fatimah Az-Zahra. Kenapa? Karena di bulan ini beliau lahir dan beliau wafat. Maka pantaslah sebutan demikian, untuk mengenang kebesaran putri kesayangan Rasulullah SAW itu.
Sayyidah Fatimah Az-Zahra terdidik dalam madrasah ayahandanya, Rasulul­lah Muhammad bin Abdullah SAW, sang pe­milik rumah kenabian, sebuah rumah yang sarat oleh perintah wahyu Allah SWT, sehingga asuhan dan didikan itu telah melahirkan sosok wanita bernama Sayyidah Fathimah RA yang patut men­jadi idola dan teladan tuntunan kehidup­an bagi setiap muslimah sepanjang za­man.
Sebagian besar sejarawan berse­pakat bahwa Sayyidah Fathimah dilahir­kan pada hari Jum’at, 20 Jumadil Akhi­rah, tujuh tahun delapan bulan 10 hari sebelum Rasulullah hijrah. Sayyidah Fa­thimah adalah anak perempuan keem­pat Rasulullah SAW dari pernikahan be­liau dengan Ummul Mu’minin Sayyidah Khadijah binti Khuwailid RA.
Sejak kecil Sayyidah Fathimah me­miliki banyak nama panggilan, di antara­nya Az-Zahra (yang bersinar cemer­lang), Shiddiqah (yang membenarkan), Thahi­rah (yang suci), Mubarakah (yang di­berkati), Radhiyah (yang ridha), Mardhi­yah (yang diridhai), Muhadatsah (yang berbicara dengan malaikat di masa kecil), dan Al-Batul (yang tidak pernah haidh), Ummu al-A‘immah (ibu para imam yang suci), Ummu Al-Mu’minin (ibu kaum muk­minin), Ummu Abiha (ibu bagi ayahnya), Sayyidah Nisa‘ Al-‘Alamin (pemimpin wanita seluruh alam).

Persalinan nan Suci
Ketika Sayyidah Khadijah RA dini­kahi pemuda Muhammad, beliau dijauhi wanita-wanita Quraisy, bahkan mereka sam­pai memutus silaturahim dengan­nya. Dengan sinis mereka berkata, “Mengapa wanita kaya seperti Khadijah mau mengawini laki-laki biasa dan mis­kin seperti Muhammad.”
Kedengkian itu juga terjadi tatkala Kha­dijah melahirkan anak-anaknya, ter­masuk Sayyidah Fathimah. Tak ada satu pun wanita-wanita Quraisy mau mem­ban­tunya. Betapa berat beban Sayyidah Khadijah yang harus menjalani masa-masa persalinan sendirian. Namun Allah Ta’ala menghiburnya dengan bantuan per­salainan yang tak terkira. Diriwayat­kan dalam sejumlah kitab manaqib, se­cara tiba-tiba ada empat wanita masuk ke dalam kamarnya dan mendekatinya saat akan bersalin. Sayyidah Khadijah RA mengira bahwa mereka itu adalah wa­nita-wanita dari Bani Hasyim. Salah satu di antara mereka berkata memper­kenalkan diri, “Wahai Khadijah, kami ada­lah utusan Tuhanmu. Kami adalah ka­wan-kawan wanitamu. Aku adalah Sarah (ibunda Ishaq AS) dan ini Asiyah binti Muzahim (istri Fir’aun). Sedangkan yang ini Maryam binti Imran (ibunda Isa AS) dan itu Kultsum (saudara Musa AS). Kami datang untuk menolongmu.”
Mereka menolong Sayyidah Khadi­jah RA ketika mau melahirkan putrinya, Fathimah. Pada hari itu, Fathimah dila­hir­kan ke dunia dalam keadaan suci dan bersih. Banyak kisah yang berkembang saat detik-detik kelahiran Fathimah yang menunjukkan kekhususan dan keistime­waan Fathimah di sisi ayah dan bunda­nya. Karena kelak dari dialah Rasulullah SAW beroleh dzurriyyah hingga saat ini.
Kekhususan ini juga semakin jelas tatkala Rasulullah SAW bersabda, “Empat wanita yang terbaik ialah Khadi­jah binti Khuwailid, Fathimah binti Mu­hammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun.” (HR Al-Hakim).

“Fathimah Bagian dariku...”
Sayyidah Fathimah adalah anak putri yang mirip dengan ayahnya. Sayyidah Aisyah binti Abubakar RA berkata , “Aku tidak melihat seseorang yang perkataan­nya dan pembicaraannya menyerupai Ra­sulullah SAW selain Fathimah. Jika ia da­tang mengunjungi Rasulullah SAW, Rasul­ullah SAW berdiri lalu menciumnya dan menyambut dengan hangat, begitu juga se­baliknya yang diperbuat Fathi­mah bila Rasulullah SAW datang me­ngun­junginya.”
Kecintaan Rasulullah SAW makin je­las saat mengungkapkan rasa cintanya ke­pada putrinya di atas mimbar, di ha­dap­an para sahabat, “Sungguh Fathi­mah bagian dariku. Siapa yang mem­buat­nya marah berarti membuat aku ma­rah.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Fa­thimah bagian dariku. Aku merasa ter­ganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti.”
Sayyidah Fathimah tumbuh dewasa dalam asuhan ayahandanya. Ketika meng­injak usia lima tahun, ia menjadi salah seorang saksi bagi peristiwa ter­besar yang diterima ayahnya, yakni tu­runnya wahyu dan risalah kenabian yang diemban ayahnya. Ia juga menyaksikan kaum kafir melancarkan gangguan ke­pada ayahnya dan meninggalnya sang ibu, Sayyidah Khadijah RA.
Pada peristiwa hijrah ke Madinah, Fathimah dan kakaknya, Sayyidah Ummu Kultsum, tetap bertahan di Mak­kah, hingga Nabi mengutus orang untuk menjemputnya.
Dari pernikahannya dengan Sayyi­dina Ali bin Abi Thalib Kwh, Sayyidah Fathimah beroleh empat orang anak, dua laki-laki dan dua perempuan, yakni Al-Hasan, Al-Husain, Zainab, dan Ummu Kultsum radhiyallahu anhum ajma’in.
Kekaguman para sahabat dan tabi’in kepada putri Rasulullah SAW yang satu ini memang luar biasa. Dahulu di masa ga­­disnya, para pembesar sahabat ber­upaya meminangnya, demi mendapat ke­kerabatan bersama Nabi SAW dan keber­kahan beliau. Namun laki-laki yang paling beruntung itu adalah Sayyidina Ali, yang tak lain paman Sayyidah Fathimah sendiri.
Tak ada pula yang meragukan ketaq­waan Sayyidah Fathimah Az-Zahra. Al-Imam Hasan Al-Bashri (w. 110 H/728 M), salah seorang tokoh ulama periode tabi’in terkemuka, mengatakan, Fathi­mah Az-Zahra begitu luar biasa dalam beribadah, sehingga kedua kakinya mem­bengkak seperti Rasulullah SAW. Bukan bengkak yang menjadi pokoknya, tetapi sedemikian gigihnya ia dalam ber­ibadah, sehingga tak mau melunturkan kehormatan ayahandanya, yang paling gigih beribadah.
Adapun wafatnya Sayyidah Fathi­mah, menurut sebagian besar riwayat, pada hari Selasa, 3 Jumadil Akhirah 11 H/7 September 632 M, dalam usia 26 atau 28 tahun.


sumber:http://www.majalah-alkisah.com/index.php/dunia-islam/3469-bulan-kelahiran-dan-wafatnya-sayyidah-fathimah-az-zahra-ra