_________________________
Oleh: Achmad Suchaimi
 |
KH Ali Maksum |
1. Masa Kecil KH Ali Maksum
KH
Ali Maksum adalah putra pertama dari hasil perkawinan KH Ma’shum bin KH
Ahmad Abdul Karim dengan Ny. Hj. Nuriyah binti KH Muhammad Zein Lasem,
yang lahir pada tanggal 2 Maret 1915 di desa Soditan Lasem kabupaten
Rembang, di tengah gencarnya kaum pembaharu (modernis) melancarkan
serangan terhadap keberadaan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan
Islam tradisional yang dipandang menghambat kebebasan berijtihad,
mengembang-kan pemikiran irrasional semacam khurafat, takhayul dan
bid’ah, dan sulit diajak untuk maju.
 |
mBah KH Maksum Lasem |
Keluarga
KH Ali Maksum, sejak dari jaman kakek-kakeknya dahulu sampai jamannya
adalah keluarga besar yang kehidupan sehari-harinya tidak lepas dari
nilai-nilai kepesantrenan. KH Ma’shum yang terkenal dengan panggilan
mBah Ma’shum ini merupakan pendiri sekaligus pengasuh pesantren
Al-Hidayah di desa Soditan, Lasem, Rembang. Sejak kecil, KH Ali Maksum
belajar dan dididik secara keras di pesantren ayahnya sendiri yang saat
itu menjadi pusat rujukan para santri dari berbagai daerah, terutama
dalam pengajaran kitab Alfiyah Ibnu Malik beserta syarahnya Ibnu ‘Aqil
(Nahwu, Shorof dan Balaghah), dan kitab Jam’ul Jawami’. mBah Ma’shum
berharap agar putranya nanti menjadi seorang ulama ahli fiqih, sehingga
beliau menggembleng Ali kecil setiap harinya dengan pelajaran
kitab-kitab fiqih. Sementara itu beliau juga mengajarkan kitab-kitab
lainnya kepada para santri, terutama kitab-kitab ilmu nahwu, shorof dan
balaghah. Akan tetapi kecenderungan Ali kecil justru lebih senang
mempelajari kitab-kitab nahwu dan shorof. Ali kecil kemudian belajar
beberapa waktu di pondoknya KH Amir di Pekalongan.
2. Menuntut Ilmu ke Pondok Tremas.
Setelah
Ali memasuki usia remaja (usia 12 tahun), mBah Ma’shum berfikir untuk
menitipkan pendidikan anaknya itu kepada kiai lain yang terbilang masih
temannya, yakni KH Dimyati yang memimpin pesantren Tremas Pacitan (1894 –
1934), karena tidak terbiasa orang tua mendidik anak kandungnya
sendiri sampai dewasa. Pada saat itu, Pesantren Tremas yang terletak di
pelosok Pacitan dan hanya dapat dicapai dengan jalan kaki beberapa lama
ini merupakan pesantren yang cukup popular, terkenal dan berwibawa,
disebabkan oleh tiga alasan : Pertama, pesantren Tremas secara tegas
menolak dan menentang penjajah Belanda, serta berusaha menghindar dari
pengaruh budayanya. Kedua, sebagian besar ahli bait (keluarga) pesantren
Tremas tergolong sangat ‘alim, sehingga keberadaan Tremas saat itu
sebagai gudangnya ilmu agama sangat diperhitungkan. Bukti kealiman
mereka terukir dalam sejarah, dengan munculnya nama Syaikh Mahfuzh
at-Tarmasi (wafat di Makkah, 1918 M) di Dunia Islam yang menjadi ulama
besar berkaliber internasional di Tanah Haram, penulis produktif dan
guru besar di bidang hadis Shahih Bukhari serta diberi hak untuk
mengajar di Masjidil Haram. Ketiga, kegiatan ilmiah di Tremas sangat
intensif, karena mendapatkan dorongan sepenuhnya dari kiai dan
keluarganya. Bahkan kebebasan ilmiah yang dikembangkan pesantren Tremas
berakibat pada munculnya “Madrasah” kontroversial didalam pondok pada
tahun 1928 yang didirikan seorang santri senior bernama Sayyid Hasan
Ba’bud, dengan tenaga pengajar yang kesemuanya berasal dari luar
pesantren. Kitab-kitab yang diajarkan di pesantren Tremas sangat
bervariasi seperti Fathul Mu’in, Tafsir Jalalain, Minhajul Qawim,
Al-Asybah wan-Nazhair, Shahih Bukhari dan Muslim, Alfiyah Ibnu Malik,
dll. Mubahatsah (pembahasan) kitab berjalan setiap malam. Di samping itu
didukung oleh kebijakan kiai yang memberi kesempatan kepada para santri
senior yang mampu untuk mengajari santri adik kelasnya. Kondisi seperti
itu lalu menumbuhkan semangat para santri untuk berkompetisi di bidang
keilmuan.
Dengan
kondisi pesantren Tremas yang sangat mendukung pengembangan keilmuan
tersebut, maka pada tahun 1927 M, Ali Maksum dikirim ke pesantren Tremas
Pacitan untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. Oleh KH Dimyati, Ali Maksum
secara istimewa diminta untuk tidak tinggal di kamar-kamar santri pada
umumnya, akan tetapi tinggal di komplek “ndalem”, yakni komplek keluarga
KH Dimyati, satu kamar dengan Gus Muhammad, putra syaikh Mahfuzh
at-Tarmasi. Keistimewaan ini barangkali merupakan rasa hormat KH Dimyati
kepada KH Maksum, karena di kalangan para kiai ada semacam tradisi
saling menitipkan pendidikan putranya kepada kiai lain. Dalam hal ini,
KH Maksum menitipkan putranya yang bernama Ali kepada KH Dimyati di
pesantren Tremas, sementara KH Dimyati sendiri menitipkan putranya yang
bernama Gus Hamid Dimyati dan Habib Dimyati, kepada KH Maksum di
pesantren Al-Hidayah Lasem.
Ali Maksum, yang dikalangan para santri, teman-teman dan keluarga pesantren lebih dikenal dengan panggilan Wak Ali ini,
nampak paling menonjol diantara para santri yang lain dan sudah
menampakkan bakat-bakat keulamaannya. Hal ini bukan disebabkan oleh
kebesaran nama ayahnya, akan tetapi disebabkan oleh kejeniusan otaknya,
ketekunan belajarnya, kedalaman ilmunya, keluasan wawasannya,
penguasaannya terhadap kitab-kitab kuning, kreatif, inovatif, kekuatan
pribadinya, jiwa kepemimpinannya, dan hal-hal lainnya.
Menurut
saksi mata, sebagaimana yang dituturkan oleh KH Habib Dimyati, bahwa
Wak Ali setiap harinya tidak lepas dari kitab-kitab besar. Semangat
belajarnya hebat melampaui usianya yang sangat muda dan melintasi
batas-batas yang ditetapkan pesantren. Wak Ali sering tidak tidur sampai
larut malam, sehingga tidak aneh jika kamarnya terlihat tidak rapi,
karena di sana-sini banyak kitab-kitabnya berserakan dalam keadaan
terbuka.
Gus
Muhammad, putra syaikh Mahfuzh at-Tarmisi, yang tinggal sekamar banyak
berguru kepada Wak Ali dalam hal membaca kitab kuning. Maklum, meskipun
lama bermukim di Makkah, Gus Muhammad lebih mengkhususkan diri pada
ulumul Qur’an. Yang dipelajari Wak Ali bukan hanya terbatas pada
kitab-kitab mu’tabarah karya ulama’ salaf sebagaimana yang diajarkan
oleh kiainya, akan tetapi juga mempelajari kitab-kitab tulisan ulama’
pembaharu seperti kitab Tafsir Al-Manar tulisan Rasyid Ridha murid
Muhamad Abduh, kitab Tafsir Al-Maraghi, kitab Fatawa tulisan Ibnu
Taimiyah, kitab-kitab tulisan Ibnul Qayyim dan kitab-kitab baru lainnya.
Padahal kitab-kitab tersebut menjadi larangan para kiai di beberapa
pesantren tradisional untuk dibaca dan dipelajari para santrinya.
KItab-kitab
para pembaharu tersebut diperoleh Wak Ali dari kiriman kawan-kawannya
di Tanah Haram, santri ayahnya dan keluarga Tremas yang pulang dari
pergi haji. KH Dimyati selaku pengasuh pesantren sebenarnya mengetahui
hal itu, apalagi Wak Ali tinggal didalam komplek nDalem, akan tetapi
beliau sengaja mendiamkannya, karena Wak Ali dipadang memiliki
dasar-dasar tradisi pesantren yang kuat. Bahkan memperluas wawasan
dengan kitab-kitab tersebut bagi Wak Ali sangat diper-lukan sebagai muqabalah
(perbandingan). Barangkali karena latar belakang referensinya yang luas
inilah yang menjadikan Wak Ali sebagai seorang ulama’ yang berwawasan
luas, dalam, dan berpandangan lebih moderat bila dibanding dengan para
kiai alumni pesantren lainnya.
Wak
Ali sangat gemar mempelajari Ilmu tafsir Al-Qur’an, yang nantinya
mengantarkan dirinya menjadi seorang ulama’ ahli tafsir yang terkemula
di Indonesia. Demikian pula dalam ilmu bahasa arab, Wak Ali sangat
menguasai kitab-kitab nahwu tingkat tinggi seperti kitab Dahlan, Asymuni, Alfiyah Ibnu Malik dan syawahid-nya, sehingga di kemudian hari mengantarkannya menjadi seorang pakar ahli bahasa Arab yang terkenal. Julukan “Munjid berjalan”
untuk KH. Ali Maksum menunjukkan penguasaannya di bidang bahasa Arab
beserta cabang-cabangnya. Atas kegemaran, ketekunan dan keahlian inilah
yang mengantarkan KH Ali Maksum berhasil menciptakan metode baru dalam
pembelajaran ilmu shorof yang dinilai cukup praktis dan efektif, yang
kemudian diberi judul “Ash-Sharful Wadhih”. Metode ini berbeda
dengan metode shorof yang sudah mapan saat itu, misalnya metode tashrif
susunan Kiyai Muhammad Ma’shum bin Ali dari Jombang dalam bukunya yang
berjudul “Al-Amtsilah at-Tashrifiyah”.
Kegemaran
lain Wak Ali di bidang keilmuan adalah menghafal dan mempelajari secara
intens syiir-syiir dan butir-butir kalam hikmah yang sangat berguna
kelak ketika menjadi seorang ulama’ besar, dimana setiap ada kesempatan
dalam berpidato, berceramah, mengajar, memberikan pembinaan dan
lain-lain, sering keluar dari mulutnya untaian kalam hikmah dan
syiir-syiir tersebut.
Wak Ali Maksum yang sejak muda tidak gemar tirakat, puasa ngrowot dan perilaku nyeleneh lainnya
sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian santri di pesantren-pesantren
salafiyah pada umumnya ini juga memiliki kegemaran musik. Beliau suka
memukul-mukul daun pintu atau apa saja yang ditemui dengan ujung jarinya
untuk mengiringi alunan nyanyian, dan bahkan menyukai lagu-lagu
berbahasa inggris yang diiringi musik jazz. Kegemaran ini masih terbawa
ketika sudah menjadi seorang kiyai yang mengasuh pesantren Krapyak,
dimana lagu-lagu jazz tersebut sering diputar dan didengarkan didalam
kamar pribadinya sambil beliau dipijiti para santri, bahkan terkadang
suaranya sampai keluar melalui mic speaker sehingga para santri ikut
menikmati lagu-lagu tersebut. Dalam bidang olahraga, Wak Ali sama sekali
tidak memiliki kegemaran, kecuali gemar membersihkan lingkungan pondok
dari daun-daun kering, mengambili kertas-kertas bekas dan sampah kering
lainnya. Berbeda dengan Gus Hamid dari Pasuruan yang gemar main sepakbola.
 |
KH Abd. Hamid Pasuruan: Besan dan teman di Tremas |
Mengingat
kejeniusannya, ketekunan belajarnya, kedalaman dan keluasan ilmunya,
penguasaannya terhadap kitab-kitab kuning, dan bakat keulamaannya, Wak
Ali dipercaya oleh KH Dimyati untuk mengajar para santri dalam usia yang
sangat muda. Dalam menjalankan tugas mengajar, Wak Ali sangat menguasai
materi kitab yang dibebankan kepadanya, tegas, disiplin dan simpatik.
Oleh karenanya, beliau memperoleh kedudukan yang terhormat di kalangan
keluarga pesantren dan santri.
Dikalangan
para santri, teman-teman dan keluarga pesantren, Wak Ali adalah “simbol
keteladanan”. Beliau bersama-sama dengan Gus Hamid Dimyati, Gus Rahmat
Dimyati dan Gus Muhammad bin Syaikh Mahfuzh at-Tirmasi sangat populer
dengan sebutan “Empat Serangkai”, karena dari merekalah muncul ide-ide
segar untuk memajukan dan mengembangkan pesantren Tremas. Diantaranya
adalah ide dari Wak Ali tentang perlunya menerapkan sistem madrasi
dalam sistem pendidikan pesantren Tremas, dengan tenaga pengajar dari
dalam pesantren sendiri. Semula ide ini ditolak oleh KH Dimyati, karena
trauma dengan pendirian madrasah kontroversial oleh Sayyid Hasan Ba’bud.
Setelah konsep dari ide tersebut dipandangnya jelas dan mendukung
kemajuan pesantren, maka KH Dimyati mengijinkan berdirinya madrasah
tersebut, dengan Wak Ali Maksum sebagai direkturnya. Kesempatan ini
dipergunakan sebaik-baiknya oleh Wak Ali, yang ketika itu baru berusia
19 tahun, untuk melakukan pembaharuan di bidang metode pengajaran dan
kurikulumnya, diantaranya dengan cara memasukkan kitab-kitab baru karya
ulama modern kedalam kurikulumnya, seperti kitab Qiroatur Rosyidah,
an-Nahwul Wadhih dan lain-lain.
Setelah
Wak Ali Maksum pulang “boyongan” ke Lasem, kepemimpinan madrasah
diserahkan kepada Gus Hamid Dimyati sebagai direktur dan A. Mukti Ali
sebagai wakilnya. Oleh karena itu tidak berlebihan jika Prof. DR. KH A.
Mukti Ali berkomentar, bahwa Ali Maksum-lah yang menjadi motor penggerak
modernisasi pesantren Tremas, dari hanya meng-gunakan sistem pesantren
ke sistem madrasi.
3. Berguru ke Tanah Haram Makkah.
Sepulangnya
ke Lasem pada tahun 1935, KH Ali Maksum membantu ayahnya mengajar di
pesantren Al-Hidayah, terutama dalam disiplin ilmu bahasa arab dan
Tafsir Al-Qur’an yang menjadi kegemaran dan spesialisasinya selama
belajar di pesantren Tremas. Selain mengajar, KH Ali Maksum juga
membenahi sistem pendidikan dan pengajaran pesantren. Semangat
pembaharuan mulai beliau tiupkan, dan ternyata mendapatkan dukungan dari
berbagai pihak, karena pembaharuan yang diterapkannya sama sekali tidak
mengancam keberadaan pesantren berikut segala pranatanya, melainkan
justru menguatkan-nya. Pembaharuan yang beliau lakukan tetap berpedoman
pada prinsip: Al-Muhafazhatu ‘alal qadimis shalih, wal akhdzu bil jadidil ashlah, yaitu mempertahankan tradisi lama yang masih baik (layak) dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.
 |
M. Rasyid Ridha |
 |
Muhammad Abduh |
 |
Jamaluddin Al-Afghani |
 |
Umar Hamdan |
 |
Alwi Abbas Al-Maliki |
Pada
tahun 1938, KH Ali Maksum menikahi Rr. Hasyimah putri KHM Munawwir.
Beberapa hari setelah pernikahannya, seseorang bernama H. Junaid dari
Kauman Yogyakarta melalui KH Maksum menawarkan tiket gratis kepada KH
Ali Maksum untuk beribadah haji. Sebulan kemudian, KH Ali Maksum
bertolak menuju Makkah lewat pelabuhan Semarang, dan kesempatan tawaran
beribadah ini sekaligus digunakan untuk thalabul ilmi, mengaji kepada
beberapa ulama’ besar di Makkah, diantaranya berguru kepada Sayyid Alwi
Abbas Al-Maliki (ayah Sayyid DR. Muhammad Alwi Abbas Al-Maliki) untuk
mengaji kitab Al-Luma’ dan lain-lain, juga berguru kepada Syaikh Umar
Hamdan untuk mengaji kitab Shahih Bukhari dan kitab hadis lainnya, serta
memperluas wawasan dengan mengkaji kitab-kitab kaum modernis seperti
karya Muhammad Abduh, M. Rasyid Ridha, Jalaluddin Al-Afghani, dan
lain-lain.
Selama
dua tahun tinggal di Makkah, berarti dua kali pula Ali Maksum
menunaikan ibadah Haji. Selama itu pula, Ali Maksum berhubungan dengan
para masyayikh, sesama para pelajar dan jamaah haji Indonesia. Kepada
jamaah haji yang dikenalnya, ia menitipkan kitab-kitabnya untuk dibawa
ke Lasem, terutama kitab-kitab baru tulisan para ulama’ pembaharu,
disamping kitab-kitab yang ia tumpuk untuk dibawa sendiri pada tahun
1940.
4. Menjadi Pengasuh Pondok Pesantren
Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta
 |
KHR A. Afandi |
 |
KHR Abd. Qodir |
Sepeninggal K.H.M.
Munawwir, sesuai dengan wasiat dan kesepakatan kekuarga, kepemimpinan
pesantren kemudian diambil alih oleh kakak beradik, K.H.R. Abdullah
Afandi Munawwir dan K.H.R. Abdul Qodir Munawwir. K.H.R. Abdullah Afandi
Munawwir bertugas sebagai penanggung jawab dalam urusan sarana prasarana
pesantren dan hubungan dengan luar pesantren, dan K.H.R. Abdul Qodir
Munawwir bertugas sebagai penanggung jawab dalam urusan pengajaran
Al-Qur’an.
Namun
satu persatu santri pulang meninggalkan pesantren, dan belum genap 100
hari wafatnya, jumlah santri tinggal puluhan orang. Bersamaan dengan
itu, masuknya penjajah Jepang ke Indonesia semakin memperparah kondisi
pesantren, sehingga santri tinggal beberapa orang, padahal jumlah santri
saat wafatnya K.H.M. Munawwir mencapai 200-an lebih. Walaupun demikian,
aktifitas kepesantrenan (pengajian Al-Qur’an) tetap berjalan seperti
masa-masa sebelumnya dengan jumlah santri apa adanya.
 |
Masjid PP Al-Munawwir Krapyak, tempo dulu |
Dari
fenomena ini sementara dapat disimpulkan bahwa kewibawaan dan
kekharismaan K.H.M. Munawwir merupakan faktor penyebab kebesaran
pesantren, dan hal ini ternyata tidak mampu diatasi oleh penggantinya
selaku turunan langsung yang secara tradisional mewarisi kepemimpinan
dan kharisma dari ayahnya. Kondisi ini membuat keluarga besar K.H.M.
Munawwir merasa resah dan khawatir terhadap kelestarian pesantren ke
depan. Maka pada tahun 1943, musyawarah keluarga Bani Munawwir
memutus-kan untuk mengirim delegasi menemui Kiai Ali (menantu K.H.M.
Munawwir), yang saat itu telah berhasil membenahi sistem pendidikan
pesantren ayahnya di Lasem dan mampu mendongkrak jumlah santri, agar
bersedia diajak ”hijrah” ke Krapyak untuk mengatasi krisis tersebut.
Namun ajakan ini ditolak tegas oleh Kiai Ali Maksum. Beberapa bulan
kemudian, datang lagi utusan ke Lasem. Kali ini yang datang adalah Nyai
Sukis sendiri (isteri K.H.M. Munawwir, ibu mertua Kiai Ali) dengan
didampingi K.H.R. Abdullah Afandi Munawwir, yang mengharap dengan sangat
agar Kiai Ali bersedia diboyong ke Krapyak. Akhirnya kekerasan hati
Kiai Ali luluh dan menerima ajakan itu. Sejak kepindahan Kiai Ali ke
Krapyak ini (1943), pesantren Al-Munawwir di bawah kepemimpinan ”tiga
serangkai” dengan pembagian tugas sebagai berikut :
1).
K.H.R. Abdullah Affandi (putra, wafat 1968), dengan tugas sebagai
pimpinan umum, menangani urusan sarana-prasarana dan hubungan dengan
dunia luar pesantren
2). K.H.R. Abdul Qadir (putra, wafat 1961)), dengan tugas sebagai pengasuh Tahfizh Al-Qur’an dan urusan intern pesantren
3).
K.H. Ali Maksum (menantu), sebagai penanggung jawab urusan pengajaran
kitab-kitab kuning dan pembenahan sistem pendidikannya.
Dari
ketiga pemimpin tersebut, Kiai Ali merupakan orang yang memiliki
kelebihan. Disamping keahlian, kedalaman dan keluasan wawasan di bidang
keilmuan, juga dipandang lebih mumpuni, lebih dewasa, lebih
berpengalaman dan lebih siap memimpin pesantren. Dengan bermodalkan
pengalaman dan potensi yang dimiliki selama menjadi santri di pesantren
Tremas dan membenahi pesantren ayahnya di Lasem, serta tugas berat
”amanah” yang dibebankan kepadanya tersebut, Kiai Ali mulai mencurahkan
segala tenaga dan pikirannya untuk mencari titik-titik lemah yang
menjadi sumber kemunduran beserta jalan keluarnya, kemudian menetapkan
beberapa langkah strategis, diantaranya: 1) perlunya kaderisasi ulama /
tenaga pengajar inti dari dalam pesantren, dan 2) perlunya pengembangan
sistem pendidikan-pengajaran dan kurikulum pesantren.
Selama
dua tahun pertama (antara tahun 1943 – 1944), aktifitas secara
intensif difokuskan pada usaha kaderisasi ulama, tenaga pengajar dan
pengelola dari lingkungan keluarga pesantren, dengan melibatkan seluruh
putra dan menantu K.H.M. Munawwir, serta tetangga. Sedangkan aktifitas
kepesantrenan (pengajaran Al-Qur’an) dan penerimaan santri dari luar
untuk sementara dibekukan.
 |
KH Zainal Abidin |
 |
KH Zaini |
 |
KH Mufid Mas'ud |
 |
KH Dalhar |
Peserta
yang mengikuti pengkaderan terdiri dari : KHR Abdul Qodir Munawwir
(pengasuh), KH Zaini Munawwir, KH Zainal Abidin Munawwir, KH Ahmad
Munawwir, KH Dalhar Munawwir, KH A. Warson Munawwir, KH Nawawi Abdul
Aziz (menantu), KH Mufid Mas’ud (menantu), KH Habib Dimyati (Tremas), H.
Wardan Junaid (Kauman Yogyakarta), Abdul Hamid (tetangga, Krapyak), dan
KH. Zuhdi Dahlan (tetangga, Jogokaryan).
 |
KH Ahmad Warson |
 |
KH Nawawi Abd.Aziz |
Murid-murid
pertama ini tidak mengecewakan dan tidak satupun diantara mereka yang
“melorot” (kendur) semangatnya, padahal mereka harus mengikuti pengajian
berbagai macam kitab kuning dengan sistem halaqah/weton dan sorogan,
sejak sehabis sholat subuh sampai pukul 21.00 secara nonstop, kecuali
sekedar waktu untuk shalat dan makan, dan disiplin yang diterapkan
betul-betul sangat ketat, terutama yang diterapkan kepada peserta ahlul
bait (keluarga pesantren).
Hasilnya,
seluruh peserta kaderisasi memiliki kesiapan dalam segala hal untuk
bersama-sama mengelola, memajukan dan mengembangkan pesantren. Mereka
menjalankan tugas, wewenang, dan aktifitas sesuai dengan bidang
keahliannya masing-masing. Maka dalam jangka waktu yang relatif singkat,
pesantren Al-Munawwir selama dalam kepengasuhan Kiai Ali mengalami
perkembangan pesat setahap demi setahap. Hal ini ditandai dengan :
a)
Berkembangnya sistem pendidikan yang tidak lagi dipusatkan pada
pengajaran Al-Qur’an, akan tetapi juga pada kajian kitab kuning, yang
keduanya dapat berjalan secara seimbang, sehingga menjadi aktifitas
utama sekaligus menjadi ciri khas pesantren.
b) Berdirinya lembaga-lembaga pendidikan formal/klasikal dalam bentuk madrasah, meliputi : 1).
Madrasah Ibtidaiyah putra 4 tahun (1946); 2) Madrasah Tsanawiyah Putra 3
tahun (1947) dan SMP Eksakta Alam (1951-1954); 3) Madrasah Banat
(1951); 4) M. Aliyah Salafiyah putra 3 tahun (1955); 5) Madrasatul
Huffazh (1955); 6) TK (1957); 7) Madrasah Diniyah (1960); 7) Tsanawiyah
6 tahun (1962-1986); 6) MTs dan Aliyah 3 tahun (1987);
c)
semakin bervariasi (santri takhassus, santri kalong, sekolah didalam
dan diluar pesantren) dan meningkatnya jumlah santri yang tertarik
belajar di pesantren Krapyak;
d) semakin terkenalnya nama pesantren di tingkat Nasional dan dunia internasional, terutama di negara-negara Timur Tengah,
apalagi semenjak Kiai Ali menjadi Rois ’Am (1981-1984) dan menjadi tuan
rumah Muktamar NU ke-28 (1989), kepopuleran dan peran pesantren
Al-Munawwir diperhitungkan oleh berbagai pihak.
Disebabkan
oleh perannya yang begitu besar sebagai motivator, dinamisator,
katalisator, inspirator (penggagas) kaderisasi ulama dalam kepemimpinan
pesantren, dan sebagai power bagi komunitas yang dipimpinnya, serta
sebagai sumber pengetahuan, maka dari sudut ini, Kiai Ali dapat
dipandang sebagai sesepuh Krapyak, sekaligus sebagai pembangun pesantren
yang sebelumnya telah dirintis dan didirikan oleh K.H.M. Munawwir.
5. Pengabdiannya di Jam’iyyah NU
Di
sela-sela kesibukannya sebagai pengajar dan pengasuh pesantren
Al-Munawwir Krapyak, Kiai Ali sejak masa-masa awal sudah simpatik
terhadap jam’iyyah NU. Terutama sekitar tahun 1950-an ketika suhu
politik memanas akibat semakin nyaringnya suara kaum nahdhiyyin untuk
keluar dari Masyumi, dan terealisir ketika Muktamar di Palembang tahun
1952 yang memu-tuskan NU keluar dari Masyumi dan mendirikan partai “NU”
sendiri. Untuk menghadapi Pemilu pertama tahun 1955, Kiai Ali mulai
aktif berkampanye untuk partai NU dengan cara tidak langsung turun ke
lapangan sebagai jurkam, melainkan lewat pendidikan kader kepada para
santri Krapyak dan melalui pembicaraan non formal dengan para tamu yang
sowan ke rumahnya. Hasilnya, Partai NU memperoleh suara terbanyak
rangking ketiga setelah PNI dan PKI. Dari Pemilu tersebut, Kiai Ali
akhirnya terpilih menjadi anggota konstituante yang mewakili NU
Yogyakarta.
 |
KH Bisiri Sansuri |
Pada
tahun 1960-an, tatkala PKI tengah gencar memusuhi kaum muslimin dan
mengancam para kiai, Kiai Ali justru diminta menjadi Rois Syuriyah PWNU
propinsi D.I.Yogyakarta secara terus menerus sampai beliau dikukuhkan
sebagai Rois ‘Am PBNU menggantikan posisi KH Bisri Syansuri yang wafat,
melalui Munas Alim Ulama NU di Kaliurang Sleman Yogyakarta, 30 Agustus –
2 September 1981.
 |
KH Ahmad Siddiq |
Kiai Ali sebenarnya kurang tertarik dengan dunia politik praktis dan
menolak keras ketika dicalonkan sebagai Rois ‘Am. Berulang kali Kiyai
Ali mengatakan, “Demi Allah, jangan dipilih”, mengingat dorongan yang
sangat kuat dari banyak kiyai, terutama pendapat KH Ahmad Shiddiq di
forum Munas: “Saya tidak melihat seorang pun yang lebih cocok untuk
menjadi Rois Am daripada KH Ali Maksum”, dan ternyata kemudian disetujui
oleh farum Munas secara aklamasi, maka dengan rasa berat Kiai Ali mau
menerimanya dengan syarat hanya satu kali periode kepengurusan sampai
diadakannya Muktamar ke-27 tahun 1984. Sambil menangis, dan juga diikuti
tangisan haru para kiai, Kiai Ali memberikan kata sambutan dengan
bahasa arab yang fasih, yang intinya menyatakan bahwa beliau bukanlah
orang yang terbaik, bila selama memimpin terlihat bengkok agar
diluruskan bahkan beliau siap dicampakkan atau dipecat.
 |
DR. Hc.KH Idham Kholid |
 |
KHR As'ad Samsul Arifin |
 |
KH Makhrus Ali |
 |
DR.Hc.KH Abdurrahman Wahid |
Kiai
Ali oleh banyak kalangan disebut sebagai “penyelamat NU”, karena : 1)
ketika muncul krisis kepemimpinan di NU dan kesulitan memilih orang yang
tepat untuk jabatan Rois ‘Am pengganti KH Bisri Syansuri yang wafat,
Kiai Ali bersedia dipilih sebagai Rois ‘Am pada 1981 melalui Munas Alim
Ulama NU di Kaliurang Yogyakarta, walaupun dengan sangat berat; 2)
ketika NU dilanda kemelut tahun 1983 dengan pengunduran diri DR Idham
Kholid sebagai Ketua Umum PBNU (yang belakangan lalu dicabutnya
kembali), akibat perseteruan antara kubu politik (kelompok “Cipete”,
pimpinan DR Idham Kholid) dengan kubu ulama/non politik (kelompok
“Situbondo”, pimpinan KH As’ad Syamsul Arifin), Kiai Ali tampil
merangkap jabatan sebagai Rois ‘Am sekaligus Ketua Umum PBNU untuk
membenahi persiapan Muktamar Situbondo 1984, yang menghasilkan keputusan
strategis dan monumental, yaitu mengembalikan NU ke khittah 1926; 3)
Ketika ada gejolak sebagian aktivis yang ingin, menggoyang Khittah NU
1926 dan membelokkan NU ke partai politik, serta usaha mendongkel Gus
Dur dari posisi Ketua Umum PBNU di Munas Alim Ulama NU di Cilacap akhir
1987, maka dengan kewibawaan dan kekarismatikannya Kiai Ali mampu
menjadi penjaga gawang-nya sehingga dapat meredam gejolak tersebut. Atas
perannya ini Kia Ali secara berkelakar berkomentar: “Wah, saya ini anggota Mustasyar bagian meden-medeni (menakut-nakuti).”
Diantara
jasa dan hasil capaian Kiai Ali selama memimpin NU adalah : 1) mampu
mengerem usaha menjerumuskan NU ke politik praktis yang lebih dalam; 2)
lahirnya keputusan NU kembali ke Khittah 1926; 3) menjaga jarak yang
sama antara NU dengan partai-partai politik; 4) mengangkat wibawa
ulama/syuriyah; 5) mulai terjadinya regenerasi dalam NU dengan
mendorong dan memasukkan generasi muda NU kedalam struktur kepengurusan;
6) hilangnya perpecahan di tubuh NU, tidak ada lagi kubu Cipete dan
Situbondo, yang ada adalah kubu NU; 7) membuatkan bekal bagi pengurus
dan warga NU dalam meraih sukses organisasi.
Setelah
Muktamar ke-27 di Situbondo, Kiyai Ali ditempatkan sebagai salah satu
anggota Mustasyar PBNU bersama-sama dengan KHR As’ad Syamsul Arifin, KH
DR. Idham Cholid, KH Mahrus Ali, dll.
6. Sifat Kepribadian KH Ali Maksum
Banyak
sifat-sifat kepribadian Kiai Ali yang dapat dijadikan sebagai suri
teladan terutama bagi para santri, dan sekaligus mempengaruhi tipologi
kepemimpinannya di PP Al-Munawwir, diantaranya adalah istiqomah
mengajarkan kitab kuning. Sekalipun kesibukan beliau bertumpuk-tumpuk,
seperti sebagai seorang muballigh, dosen di IAIN dan pengurus NU (Rois
‘Am) yang sering keluar kota, beliau jarang sekali meninggalkan
pengajian dan sorogan yang menjadi rutinitasnya sehari-hari, kecuali
dalam kondisi yang sangat mendesak, terutama di akhir hayatnya yang
sering sakit-sakitan.
Kiai Ali berpola hidup sederhana, zuhud,
tidak terkesan hidup mewah, dan tampil apa adanya. Hal ini ditunjukkan
oleh kondisi pakaiannya, tempat tinggal, kendaraan dan makanannya yang
sangat sederhana, tidak terkesan mewah, bahkan bisa dikatakan tidak
layak untuk ukuran dan statusnya sebagai seorang Kiai besar. Keseriusan
usahanya dalam pengembangan pesantren seperti pembiayaan pembelian tanah
untuk perluasan lokasi pesantren, pengadaan bangunan, fasilitas
pesantren dan kegiatan-kegiatan keagamaan (konsumsi majlis taklim, dll),
baik dengan dana pribadi maupun dana sumbangan dari berbagai pihak,
semua itu menunjukkan sikap kezuhudannya. Bahkan, jauh sebelum wafatnya
Kiai Ali sudah mempersiapkan untuk membagi-bagikan seluruh harta
kekayaannya tanpa diketahui oleh siapapun dengan cara membuat catatan
beberapa lembar kertas yang kemudian disimpan di lemari diantara
tumpukan pakaiannya. Isinya : 1) jumlah total berbagai jenis harta benda
yang dimiliki (tanah, rumah, pakaian, kendaraan, uang, dll) beserta
tempat penyimpanannya, 2/3 harta benda tak bergerak dihibahkan untuk
pesantren dan sisanya dihibahkan untuk anak-anaknya; 2) daftar nama
orang satu persatu dari kalangan masyarakat tetangga pesantren, para
sahabat dan kenalan, sanak kerabat dan putra-putrinya, lengkap dengan
angka nominal dan jenis harta yang akan diterimanya, sehingga pada saat
wafat, beliau sedikit pun tidak meninggalkan harta warisan. Sungguh,
tindakannya ini sesuai sekali dengan isi kandungan syi’iran sholawatan
berbahasa Jawa yang beliau gubah dan sering beliau lantunkan di tengah
atau akhir memberikan ceramah pengajian, antara sebagai berikut :
Kulo sowan nang Pangeran // Kulo miji tanpo rencang // Tanpo sanak tanpo kadang // Bondho kulo ketilaran //.
Yen manungso sampun pejah // Uwal saking griyo sawah // Najan nangis anak simah // Nanging kempal boten betah //.
Senajan berbondho-bondho // Morine mung sarung ombo // Anak bojo moro tuwo // Yen wis nguruk banjur lungo //.
Yen urip tan kebeneran // Bondho kang sa’ pirang-pirang // Ditinggal dienggo rebutan // Anak podho keleleran //.
Yen sowan kang Moho Agung // Ojo susah ojo bingung // Janji ridhone Pangeran // Udinen nganggo amalan.[12]
Pembawaan Kiai Ali yang tenang, santun
dan mengesankan, wataknya yang arif dan bijaksana, serta sifatnya yang
lemah lembut, grapyak (mudah menyapa, mudah bergaul) dengan siapa saja
yang ditemui, tutur katanya yang manis, serta raut wajahnya yang selalu
ceria dan semringah dengan hiasan senyuman yang khas, menyebabkan
beliau disukai oleh siapa saja. Demikian pula sikap beliau yang
tawadhu’, tidak suka dihormati secara berlebihan apalagi dikultuskan, suka memaafkan kesalahan orang,, serta jauh dari sifat pendendam dan dengki, menyebabkan beliau selalu dihormati dan disegani.
Pergaulan KH Ali dengan Para Santri.
Kiai Ali sangat dekat hubungannya dengan para santri, dan begitu pula
sebaliknya. Kiai Ali hampir hapal semua nama santri, tempat tinggalnya
di lokasi pesantren, nama orang tuanya dan asal usul daerahnya. Di
hadapan para santri, Kiai Ali bukanlah sosok yang menakutkan. Pada
umumnya, para santri merasa takut dan lari atau bersembunyi ketika
bertemu dengan kiai, akan tetapi tidak demikian terhadap Kiai Ali.
Hubungan Kiai Ali dengan santri seperti layaknya hubungan bapak dengan
anak. Kedekatan hubungan ini ditunjukkan oleh kesukaannya bercanda dan
bergurau dengan para santrinya, baik secara individu maupun secara
jamaah di pengajian. Kalaupun ada santri yang lari atau takut ketika
berhadapan Kiai Ali, mereka justru akan dipanggil, baik secara langsung
maupun lewat microphone untuk sekedar diajak ngobrol sambil
mendengar-kan lagu-lagu kesayangannya atau menonton TV,
diajak jalan-jalan keliling pondok sambil mengambili sampah-sampah
kering (kertas, plastik dan dedaunan), disuruh memijatnya, disuruh
menyapu atau membersihkan kamar pribadinya atau halaman rumahnya, dan
lain-lain, sehingga mereka tidak lagi merasa takut dan terasa begitu
dekat dengan Kiai Ali.
Kiai
Ali sangat rajin mendatangi kamar-kamar santri dan membangunkan mereka
untuk diajak shalat subuh berjamaah. Terhadap santri yang dipandang
malas dan bandel berjamaah tarawih setiap datangnya bulan Ramadhan, Kiai
Ali mengadakan “Tarawih Panggilan” di kediamannya dan diimami sendiri.
Ini bukan berarti memberi kesempatan atau peluang untuk bandel, akan
tetapi mendidik mereka bahwa dengan sering dipanggilnya mereka, maka
lama kelamaan mereka akan sadar dan malu dengan sendirinya.
Demikian
pula kedekatan Kiai Ali terhadap para alumninya, yang ditunjukkan oleh
seringnya beliau menitipkan salam kepada alumni lewat para tamu, wali
santri, atau santri yang kebetulan kenal dan dekat tempat tinggalnya
dengan alumni tersebut. Bahkan Kiai Ali sering mampir ke rumah alumni di
tengah perjalanannya ke luar kota.
Terutama setiap ada event Haul KH Munawwir, para alumni selalu dikirimi
undangan untuk meng-hadiri Haul tersebut. Dari sini dapat dikatakan
bahwa kedekatan hubungan santri dengan Kiai tetap berlanjut sampai
menjadi alumni.
Dalam
soal ketaatan “mutlak” santri kepada kiyai hingga sampai pada tingkat
pengkultusan, adalah tidak sejalan dengan pandangan kiai Ali. Ketaatan
murid terhadap guru sebatas pada hal-hal yang dibenarkan oleh syari’at
dan dilakukan secara wajar.
Kiai
Ali sangat peduli terhadap kebersihan lingkungan pondok. Beliau sering
berjalan-jalan sambil mengelilingi pondok. Begitu melihat lingkungan
yang kotor dengan berbagai jenis sampah, langsung saja memanggil santri
yang ada di situ, terutama para santri yang tidak ikut sorogan untuk
diperintah mengambili sampah-sampah tersebut dengan tangannya, karena
beliau memang sangat “titen” (ingat, dan teliti) pada santri yang ikut
dan yang tidak ikut sorogan. Bahkan terkadang beliau sendiri yang
mengambilinya. Selain itu, beliau juga sangat peduli dengan kondisi
suatu bangunan yang rusak, kumuh, atau yang tidak layak huni, langsung
saja beliau mengerahkan, memimpin dan mengawasi para santri untuk kerja
bakti.
Ulama Intelek dan Tokoh Modernis NU. Nama
KH Ali Maksum di kalangan masyarakat tidak asing lagi, karena perannya
yang begitu besar di berbagai sektor, sebagai pengasuh pesantren,
sebagai ulama intelek, sebagai ilmuwan, sebagai tokoh organisasi Islam,
modernis NU, dan sebagai pemimpin lainnya.
Kiai
Ali merupakan tipe seorang Kiai yang memiliki semangat autodidak yang
tinggi. Bagi Kiai Ali, pameo “Belajar sendiri tanpa guru (misalnya
mengkaji sendiri kitab yang belum pernah dingaji-kan), maka gurunya
adalah syetan” dipandangnya salah kaprah dan tidak berlaku lagi. Pameo
itu sebenarnya hanya berlaku khusus pada murid thariqat yang sangat
membutuhkan bimbingan spiritual seorang mursyid dalam mendalami
ilmu-ilmu haqiqat. Sebab, jika ilmu hakekat didalami sendiri tanpa
bimbingan guru terkadang justru dapat menyesatkannya. Berbeda kondisinya
dengan para santri yang mendalami ilmu-ilmu syari’at, bahwa kitab-kitab
yang dikaji tersebut justru dipandang sebagai guru yang terbaik. tidak
pernah berbohong, paling sabar dan tidak pernah marah. Artinya,
kitab-kitab tersebut berbicara dengan bahasa tulis apa adanya, terbuka
untuk dikoreksi dan dikritik. Berbeda dengan guru manusia yang suka
menutupi kekurangannya dan menonjolkan kelebihannya.
Pandangan inilah yang melandasi Kiai Ali memiliki semangat otodidak
tinggi, berwawasan luas dan dalam, serta berpandangan moderat. Bahkan
pandangannya ini sering kali dilontarkan kepada para santri di tengah
memberikan pengajian, sehingga mampu mendorong para santri untuk
memiliki semangat otodidak yang tinggi seperti yang dimiliki oleh Kiai
Ali.
Kiai-Kiai
yang seangkatan dengan beliau atau yang lebih sepuh lagi, dan juga
kalangan intelektual muda mengakui keluasan ilmunya. Beliau adalah ulama
ahli tafsir, hadis, fiqih, bahasa Arab beserta ilmu alatnya, dan
berbagai disiplin ilmu lainnya, serta menguasai berbagai macam kitab,
baik yang menjadi rujukan ulama tradisional maupun ulama modernis.
Bahkan penguasaannya terhadap kitab-kitab rujukan ulama modernis
tersebut (seperti karya Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Sayyid Quthub,
Hassan Al-Bana, Muhammad Abduh dan lain-lain) justru melebihi dari para
ulama kelompok modernis itu sendiri. Julukan “Munjid Berjalan” oleh masyarakat untuk Kiai Ali Maksum menujukkan keluasan bidang keilmuan yang dikuasainya.
 |
DR. KHA Mustofa Bisri |
 |
KH Anwar Musaddad |
 |
Prof. DR. Mukhtar Yahya |
 |
RHA Soenarjo |
Di
kalangan inetelektual muslim dan dunia kampus, Kiai Ali adalah seorang
dosen dan guru besar ilmu tafsir di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang
benar-benar ahli di bidangnya dan berpandangan luas. Karena keahliannya
itu pada tahun 1962, Kiai Ali bersama-sama dengan Prof. KH Anwar
Musyaddad, Prof. DR. Muhtar Yahya, Prof. Hasbi Assiddiqi dan lain-lain
ditunjuk oleh Menteri Agama RI sebagai anggota tim Lembaga Penyelenggara
Penterjemahan Kitab Suci Al-Qur’an yang diketuai oleh Prof. R.H.A.
Sunaryo, SH (Rektor IAIN Sunan Kalijaga ketika itu).
Meskipun
dekat dengan kalangan akademisi dan intelektual, KH Ali tetap istiqomah
mengajarkan kitab kuning kepada para santri Krapyak, dan hampir tidak
ada waktu jeda untuk memberikan pengajian umum/ceramah agama kepada
masyarakat, baik di pedesaan, didalam kota maupun luar kota Yogyakarta.
 |
KH A. Sahal Mahfudz |
 |
KH Masdar F Mas'udi |
 |
Mahbub Junaidi |
 |
KH A. Muchid Muzadi |
Kiai
Ali dikenal luas sebagai tokoh modernis NU, yang menjadi motor
penggerak terjadinya perubahan dan pembaharuan di tubuh NU melalui sepak
terjang generasi muda NU pasca Muktamar Situbondo. Kiai Ali memandang
perlu agar kaum muda terutama yang memiliki pemikiran progresif dan
semangat pembaharuan diberi kesempatan untuk memimpin NU ke depan.
Menurut Martin van Bruinessen, sebagaimana yang dikutip oleh Zainal
Arifin Thoha dalam bukunya Runtuhnya Singgasana Kiai, bahwa salah satu
alasan yang mendorong Kiai Ali menerima jabatan Rois ‘Am sesungguhnya
juga didorong oleh rasa ingin melindungi (gagasan-gagasan) angkatan muda
NU, seperti KH Ahmad Shiddiq, KH Sahal Mahfudz, KH Abdurrahman Wachid,
KH A. Musthofa Bisri, DR. Fahmi Saifuddin, dr. Muhammad Tohir, KH Muchid
Muzadi, M. Zamroni, Mahbub Djunaidi, Masdar Farid Mas’udi dan lainnya
yang kelak dikenal sebagai para penggagas Khittah. Pembelaan terhadap
gagasan-gagasan progressif angkatan muda NU tidak hanya sampai di forum
Muktamar ke-27 Situbondo yang mengantarkan KH Ahmad Shiddiq dan KH
Abdurrahman Wachid sebagai Rois ‘Am dan Ketua Umum PBNU, juga pada
Muktamar ke-28 Krapyak Yogyakarta (1989) yang juga mengantarkan keduanya
untuk dikokohkan kembali sebagai Rois ‘Am dan Ketua Umum PBNU.
Sejak
tahun 1943 Kiai Ali pindah ke Krapyak. Yang pertama kali dirasakan Kiai
Ali pada awal kepindahannya ini adalah kuatnya getaran gerakan
Muhammadiyah, maklum kota Yogyakarta adalah kota kelahirannya. Kiai Ali
yang dikalangan para kiai NU dikenal sebagai salah satu tokoh reformis
atau modernis NU ini tidak menunjukkan sikap yang konfrontatif, akan
tetapi dengan sikap penuh toleransi, kemudian gerak langkah
Muhammadiyah tersebut terus diikuti perkembangannya dengan seksama. Hal
ini yang mempengaruhi kebijakannya dalam memimpin pesantren Al-Munawwir,
yaitu dengan membuat seimbang antara pengajian Al-Qur’an dan pengajian
kitab-kitab kuning agar santri mengetahui ajaran-ajaran Islam ‘ala
Ahlussunnah wal Jamaah beserta dalil-dalinya secara proporsional untuk
dijadikan sebagai benteng dari pengaruh faham wahhabi yang disuarakan
oleh gerakan Muhammadiyah tersebut.
 |
KH A. Mukti Ali |
Persinggungannya
dengan kaum modernis nampak terlihat antara lain dari cara Kiai Ali
mengupas berbagai masalah keagamaan dalam setiap pengajiannya, yang
sering diperbandingkan dengan pandangan ulama pembaharu. Jiwa
pembaharuan, keluasan ilmunya dan pandangannya yang moderat tidak lepas
dari pengalaman masa lalunya di pesantren Tremas yang sangat gemar
mengkaji berbagai jenis kitab karangan para ulama salaf dan ulama’
pembaharu,
ide-idenya yang segar demi kemajuan pesantren mampu mendorong
terjadinya pembaharuan sistem pendidikan di Tremas. Tidak berlebihan
jika Prof. DR. KH A. Mukti Ali mengatakan, bahwa Kiai Ali Maksum-lah
yang menjadi motor penggerak modernisasi pesantren Tremas, dari hanya
menggunakan sistem pesantren ke sistem madrasi.
Bahkan
dalam banyak hal pandangan Kiai Ali sejalan dengan pandangan kaum
pembaharu, diantaranya seperti masalah mencari ilmu yang harus diperoleh
melalui belajar (Innamal ‘ilmu bit-ta’allum) dan didukung dengan
makanan yang bergizi untuk meningkatkan kecerdasan, bukan dengan
mengandalkan semangat pencarian melalui laku spiritual (laduni), wirid,
perilaku ngrowot dan lelakon nyeleneh lainnya. Oleh karena itu Kiai Ali
hampir tidak pernah mengajak santrinya hidup prihatin atau tirakat
dengan menjauhi makanan tidak bergizi, selain ibadah puasa sunnah yang
disyari’atkan.
Latar
belakang kehidupan keilmuan Kiai Ali yang dinamis, berwawasan yang
sangat luas, dalam dan moderat, dengan dukungan referensi yang
multidisipliner, serta memiliki semangat otodidak yang tinggi tersebut,
sedikit banyak tentu mempengaruhi pendidikan dan pengajaran yang
diberikannya kepada para santri. Tidak mengherankan jika para alumni
yang pernah mendapatkan didikan dari Kiai Ali tidak sedikit yang menjadi
tokoh masyarakat, intelektual, dan kiai-kiai pengasuh atau pendiri
pesantren yang berwawasan luas, mendalam dan moderat disebabkan
referensinya yang sangat luas, serta memiliki semangat otodidak yang
tinggi.
 |
KH Munawir AF |
 |
KH Drs. M. Hasbullah,
SH |
 |
KH Cholil Bisri |
 |
Prof. DR. KH A.Malik Madani |
Para santri
alumni didikan Kiyai Ali antara lain: Prof.DR.KH A Mukti Ali (Guru Besar
Fak Usuluddin IAIN Yogya, mantan Menteri Agama RI), KH A. Mustofa Bisri
(Rembang), KHM Cholil Bisri (Rembang), KH
Maksum Ahmad (tanggulangin Sidoarjo : Pengasuh pesantren dan
muballigh), KH A. Masduqi Mahfudh (Malang, mantan
Rois Syuriyah PWNU Jatim) KH Abdul Aziz Masyhuri (Jombang: Pengasuh
pesantren), KH A. Asrori Usman Al-Ishaqi (PP Al-Fithroh Sby, Mursyid
Thoriqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah), KH
Abdurrahman Ar-Roisi (Jakarta: penulis dan muballigh), KH Masdar Farid
Mas’udi, Drs. H. Slamet Efendi Yusuf, Prof.DR. KH Said Agiel Siroj, MA,
KH Drs. Muhd. Hasbullah SH, KH Drs. Masyhuri AU, Prof. DR. Yudian
Wahyudi, KH Zainal Abdin Muanwwir (Pengasuh pesantren), KH Ahmad Warson
Munawwir (Pengasuh pesantren, penulis Kamus Al-Munawwir), KH Drs, Asyhari Abta, M.Pd.I, KH Munawwir AF, KH Drs. Henry
Sutopo, KH Drs, Asyahri Marzuki, Lc., KH DR. Malik Madani, MA., Drs.
H. As'ad Said Ali (mantan Waka BIN, Waketum PBNU), dan
lain-lain,
 |
KH Asyhari Marzuki |
 |
KH Idris Hamid |
 |
Prof.DR. KH Said Aqil Siraj,MA |
 |
KH Drs. Henry Sutopo |
 |
KH A. Asrori |
 |
KH Drs. Asyhari Abta, MPdI |
6. Wafatnya KH Ali Maksum
Ketika
dilangsungkan Muktamar NU ke-28 di pesantren Al-Munawwir Krapyak,
sebenarnya beliau sudah sakit sejak beberapa saat sebelumnya. Meskipun
demikian, sebagai tuan rumah yang bertanggung jawab atas sukses dan
tidaknya Muktamar, beliau masih sempat mengkomando panitia pelaksana
yang sebagian besar adalah santrinya lewat mick speaker dari kamarnya.
Ketika Presiden Soeharto dan beberapa menteri serta para kiai peserta
muktamar menjenguknya, Kiai Ali juga masih sempat menerima mereka dengan
berbaring di kamarnya.
Wal
hasil, Muktamar dapat berjalan dengan sukses, dengan mengantarkan
kembali KH Ahmad Shiddiq sebagai Rois ‘Am dan KH Abdurahman Wahid
sebagai Ketua Umum PBNU untuk periode yang kedua kalinya. Seminggu
setelah Muktamar, KH Ali Maksum jatuh sakit dan dirawat di RS DR
Sardjito selama seminggu, kemudian wafat ketika adzan Maghrib
berkumandang pada pukul 17,55 WIB di hari Kamis malam Jum’at, tanggal 7
Desember / 15 Jumadil Awwal 1989 dalam usia 74 tahun. Jenazahnya dilepas
dari Masjid Pesantren Krapyak setelah shalat Jum’at dan dikebumikan
berdampingan dengan makam KHM Munawwir di dusun Senggotan (Dongkelan)
Tirtonirmolo Kasihan Bantul Yogyakarta.
 |
Makam KH Ali Maksum di Dongkelan Yogya, tanpa batu nisan |
Beliau
wafat dengan meninggalkan seorang isteri, Nyai Hj. Rr. Hasyimah
Munawwir dan 8 orang putra-putri : 1) Adib (wft masih kecil), 2) KH
Atabik Ali, 3) H. Jirjis Ali, 4) Nyai Hj. Siti Hanifah Ali, 5) Nyai
Hj. Durroh Nafisah Ali, 6) Nafi’ah (wafat masih kecil), 7) M. Rifqi
Ali (Gus Kelik), dan 8) Hj. Ida Rufaidah Ali.
Selain itu beliau juga meninggalkan :
1).
Lembaga pendidikan yang begitu besar (madrasah dll), yang pada masa
selanjutnya dikelola oleh Yayasan Ali Maksum Pondok Peantren Krapyak
Yogyakarta pimpinan KH Atabik Ali;
2). Karya tulis yang meliputi :
a. Mizanul ‘Uqul fi Ilmil Mantiq, yang berisi prinsip-prinsip dasar ilmu mantiq
b. Ash-Shorful Wadhih, yang berisi kaidah-kaidah dan amtsilatut tashrif (latihan praktis tashriful kalimah) dengan metode baru temuan KH Ali Maksum.
c. Hujjatu Ahlissunnah Wal Jama’ah,
berisi kajian dalil-dalil / argumentasi syar’iyyah yang dijadikan
sebagai dasar berpijak kaum nahdhiyyin dalam melaksanakan amaliah atau
tradisi ke-NU-an.
d. Jawami’ul Kalim : Manqulah min ahadits al-Jami’ ash-shoghir murattabah ‘ala hurufl hijaiyyah ka ashliha, berisi koleksi hadis-hadis pendek yang mengandung pemahaman yang luas dan dalam, yang dicuplik dari kitab al-Jami’us Shoghir.
e. Ajakan Suci : Pokok-pokok Pikiran tentang NU,
Pesantren dan Ulama, merupakan kumpulan makalah tulisan KH Ali Maksum
yang tersebar di Majalah Bangkit, surat kabar, forum seminar, dan media
cetak lainnya
f. Eling-eling Siro Manungso, yang berisi kumpulan syi’iran sholawatan berbahasa Jawa gubahan KH Ali Maksum.
Catatan Kaki
يَا
اَللَّهُ اِنَّنِيْ ذَلِيْلٌ فَأَعِزَنِيْ وَ اِنَّنِيْ فَقِيْرٌ
فَأَغْنِنِيْ وَ اِنَّنِيْ ضَعِيْفٌ فَقَوِنِيْ يَا اَللَّهُ يَا اَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ. يَا
سَادَتِيْ اِنِّيْ قَدْ وُلِّيْتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِخَيْرِكُمْ وَ
إِذَا رَاَيْتُمْ فِيَّ اِعْوِجَاجًا فَقَوِّمُوْنِيْ وَاعْزِلُوْنِيْ
وَاطْرَحُوْنِيْ فِى الْمِزْبَلَةِ
) Isi kandungan dari “syi’iran sholawatan”
gubahan Kiai Ali tersebut mengingatkan kaum muslimin tentang kondisi
kehidupan yang mesti dialami oleh setiap orang yang wafat. Ketika wafat,
seseorang akan berpisah dari keluarga dan harta bendanya. Setelah
mengantarkan ke kuburan, mereka akan meninggalkannya. Seluruh harta yang
ditinggalkannya tidak akan dibawa, kecuali selembar kain kafan, bahkan
hartan itu akan menjadi rebutan. sewaktu sowan kehadirat Alloh sendirian
dan tanpa ditemani seorang pun, kamu tidak perlu susah dan bingung.
Yang penting, kerjakan amal sholeh (selama masih hidup di dunia) untuk
meraih ridho Allah.