ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Minggu, 07 Juli 2013

Mengenal Data Ephemeris>3 cara Tentukan masuknya bulan Ramadlon dan Syawal:ru’yatul hilal, ikmal, dan mentakdirkan adanya hilal (dgn ilmu hisab/falak), Tapi Cara Yg Terakhir ini masih dipertentangkan Fuqoha’

=========
Mengenal Data Ephemeris
=====================

Sejumlah hadis Shahih menetapkan bahwa untuk menentukan masuknya bulan Hijriyah, khususnya bulan Ramadhan dan Syawal dengan salah satu dari 3 cara: pertama melihat hilal (ru’yatul hilal), kedua menyempurnakan bulan yang bersangkutan (ikmal) dan yang ketiga mentakdirkan adanya hilal (dengan ilmu hisab/falak). Hanya saja cara yang terakhir ini masih dipertentangkan oleh Fuqoha’.
Sekalipun penggunanaan Ilmu Falak untuk menentukan masuknya awal bulan Hijriyah masih dipertentangkan tentang kebolehannya, tapi diakui atau tidak Ilmu Falak sangat membantu sekali dalam kegiatan rukyah. Seperti kita ketahui yang namanya Hilal itu suatu benda langit yang bentuknya kecil; padahal langitnya begitu luas, sehingga dengan adanya bantuan Ilmu Falak minimal arah rukyah kita lebih terfokus. 
Mengingat pentingnya ilmu Falak dalam membantu kita melakukan rukyah maka dalam makalah ini akan kita bahas cara menghitung awal bulan hijriyah dengan menggunakan data Ephemeris Hisab dan Rukyat
Untuk menghitung awal bulan hijriyah, diperlukan data-data matahari antara lain Ecliptic Longitude (ELM), Apparent Right Ascension (ARM), Apparent Declination (DM), Semi Diameter (SDM) dan Equation Of Time (ET), disamping itu diperlukan juga data-data bulan antara lain Apparent Longitude (ALB), Apparent Right Ascension (ARB) Apparent Declination (DB), Horizontal Parallax (PB), Semi Diameter (SDM) dan Fraction Illumination (FIB). Data-data ini bisa Kita dapatkan antara lain dari data Ephemeris hisab rukyat..
Karena data bulan dan matahari dalam Ephemeris Hisab Rukyat disajikan tiap jam, maka data bulan dan matahari untuk menit dan detiknya dapat diperoleh dengan melakukan penta’dilan atau interpolasi terhadap data yang ada. Misalnya mau mencari nilai SDM saat terbenam matahari pukul 17:16 WIB (10:16 GMT), padahal data yang ada hanya pada jam 10.00 GMT dan 11.00 GMT, maka nilai SDM yang diperlukan dicari dengan interpolasi, caranya :
A – (A – B) x C
Dimana A = Nilai pada baris pertama, yaitu pada jam 10.00
            B = Nilai pada baris kedua, yaitu pada jam 11.00
            C = Kelebihan dari interval baris pertama, yaitu 16 menit

Catatan: Sebenarnya jam yang tertera dalam data Ephemeris dalam TT (terrestrial Time) bukan GMT, hanya saja dalam makalah ini dianggap jam GMT, untuk mempermudah perhitungan saja dan karena beda jam GMT dan TT tahun ini hanya sekitar 1 menit.
Berikut ini akan kami sampaikan langkah-langkah praktis menghitung awal bulan Sya’ban (tanggal 2) 1427 H untuk daerah Ngliyep, Malang:
1). Memperkirakan awal bulan Hijriyah yang kita cari dengan melihat data hisab istilahi awal  bulan Hijriyah
Praktik: Dari data Hisab Istilahi didapat: perkiraan awal bulan yang kita cari yaitu awal Sya’ban 1427 H; jatuh pada hari Sabtu Kliwon, 26 Agustus 2006.
2). Menentukan saat ijtima’ (Konjungsi)
Maksudnya saat ijtima’ yang mendekati perkiraan awal bulan yang kita cari. Sedangkan saat Ijtima’ bisa kita dapatkan dari bukunya Jean Meeus.
Catatan: Pada saat ini cukup banyak buku atau program yang menyediakan saat terjadinya ijtima’ seperti bukunya Jean Meeus, Almanak Nautika, Astronomical Almanac, Jam Muni, Ascript, My Stars, program Mawaqit, Moon Calc dll.
Praktik: Dari data Jean Meeus; Saat Ijtima’ yang paling mendekati tanggal perkiraan awal bulan Sya’ban 1427 (26 Agustus 2006) adalah tanggal 24 Agustus 2006 jam 2.11 WIB.
3). Mencari saat Magrib setelahnya ijtima’, + sudut waktu matahari (SWM)
Mencari saat magrib perlu dilakukan karena ru’yatul hilal dilakukan pada saat ini. Saat magrib (matahari terbenam) bisa Kita dapatkan di dalam jadwal waktu sholat yang akurat tanpa ikhtiyat (terlampir dibelakang halaman 11-12).
Untuk menentukan besarnya nilai sudut waktu matahari (SWM) bisa didapat dari saat magrib jam Istiwa’ x 15o .
Praktik Perhitungan: Karena kegiatan rukyah akan kita lakukan pada tanggal 25 Agustus maka kita mengambil waktu magribnya pada tanggal tersebut bukan pada tanggal 24 Agustus yang merupakan saat Magrib paska Ijtima’. Dari data saat Magrib 25 Agustus 2006 adalah 17.31 WIB (10.31 GMT), yang bertepatan dengan jam Istiwa 5.59. Sedangkan nilai sudut waktu matahari saat terbenam (SWM) = 89o  45’  (asalnya: 5.59 x 15).
4). Mencari ketinggian hilal mar’i (TH’)
Yang dimaksud adalah ketinggian hilal mar’i pada saat terbenamnya matahari. Langkah-langkah untuk mendapatkan ketinggian hilal mar’i sebagai berikut;
1. Mencari Asensio Rekta Matahari (ARM) dan bulan (ARB) pada saat matahari terbenam.  Data ARM dan ARB pada data Ephemeris dimuat pada kolom Apparent Right Ascension untuk setiap jam mulai jam 0 – 24 GMT. Ambil data ARM dan ARB pada saat matahari terbenam (GMT), jika saat matahari terbenam terjadi tidak persis pada jam-jam tersebut, maka lebih dulu dilakukan interpolasi.
2. Mencari sudut waktu bulan, saat matahari terbenam.(SWB). Data yang diperlukan adalah asensio rekta matahari (ARM), asensio rekta bulan (ARB) dan sudut waktu matahari saat terbenam (SWM). Rumusnya: SWB = ARM – ARB + SWM.
3. Mencari Deklinasi Bulan (DB)
Maksudnya nilai deklinasi bulan pada saat terbenamnya matahari. Nilai deklinasi ini sudah disediakan dalam data Ephemeris, lakukan interpolasi bila perlu.

4. Mancari ketinggian hilal saat matahari terbenam (TH’). Data yang diperlukan adalah Lintang Tempat (LT), deklinasi bulan (DB) dan sudut waktu bulan saat matahari terbenam (SWB). Rumusnya: Sin TH = sin LT x sin DB + cos LT x cos DB x cos SWB
Dari rumus ini dihasilkan ketinggian hilal hakiki. Untuk mendapatkan ketinggian hilal mar’i, harus dikoreksi lagi dengan Parallaks, diperoleh dengan rumus HP x cos TH (dikurangkan), semidiameter bulan (dikurangkan), kerendahan ufuk (ditambahkan) dan Refraksi (ditambahkan).
NB: perlu Kita ketahui bahwa terjadi perselisihan diantara para ahli hisab di Indonesia mengenai: apakah semidiameter bulan (SDB) itu ditambahkan atau dikurangkan.
Sebenarnya hal tersebut tidak perlu diperdebatkan, karena ahli hisab pertama kali (Sa’aduddin Jambek) yang menambahkan SDB itu lebih condong kepada Fuqoha’ yang mengatakan bahwa : Masuknya awal bulan hijriyah adalah ketika terbenamnya bulan setelah terbenamnya matahari paska ijtima’. Sehingga SDB ditambahkan untuk mengetahui apakah bulan tenggelamnya setelah matahari, karena ketinggian hakiki yang didapatkan dari rumus yang pertama itu adalah ketinggian hilal dari titik tengahnya ke garis ufuk. Sedangkan ahli hisab yang mengurangkan SDB; karena lebih condong kepada Fuqoha’ yang mengatakan bahwa : masuknya awal bulan hijriyah itu jika hilal sudah nampak di atas ufuk. Nampaknya hilal ini pasti yang bagian bawah, karena bagian itulah yang memang bercahaya akibat pantulan dari sinar matahari. Oleh karena itu untuk mendapatkan ketinggian mar’i;  SDB dikurangkan
Praktik Perhitungan
1. Mencari asensio rekta Matahari (ARM) dan asensio rekta bulan (ARB)
 Maksudnya nilai ARM dan ARB pada saat terbenamnya matahari dengan jam GMT yaitu pada jam 10.31 GMT
 Mencari asensio rekta Matahari (ARM)
 Dari data Ephemeris :
 ARM Jam 10 GMT = 154o 03’ 56” (dari data Ephemeris)
 ARM Jam 11 GMT = 154o 06’ 13” (dari data Ephemeris)
 C = Kelebihannya ( Kasrul Mahfud ) pada jam 10 = 0o 31’
 Kemudian masukkan pada rumus Ta’dil Baina Satroin (interpolasi):
 ARM = 154o 03’ 56”-( 154o 03’ 56”- 154o 06’ 13”) x 0o 31’  
               = 154o 05’ 6,78”

2. Mencari asensio rekta Bulan (ARB)
 Dari data Ephemeris:
 ARB jam 10 GMT = 170o  42’ 53” (dari data Ephemeris)
 ARB jam 11 GMT = 171o  09’ 01” (dari data Ephemeris)
 C = Kasrul Mahfud = 0o  31’ (kelebihan jam Magrib)
 Kemudian masukkan pada rumus Ta’dil Baina Satroin (interpolasi):
 ARB = 170o  42’ 53”- (170o  42’ 53”- 170o  09’ 01”) x  0o 31’ 
              = 170o  56’ 23,1”

3. Mencari SWB
 Data ARM = 154o  05’ 6,78”
              ARB = 170o  56’ 23,1”
         SWM = 89o  45’ 
 Masukkan pada rumus
 SWB = 154o  05’ 6,78” - 170o  56’ 23,1” + 89o  45’ 
              = 72o  53’  43,68”

4.  Mencari DB
 Data dari Ephemeris
 DB jam 10 GMT = 4o 34’ 15” (dari data Ephemeris)
 DB jam 11 GMT = 4o 20’ 11” (dari data Ephemeris)
 C = kasrul mahfud  =    0o 31’
 Masukkan pada rumus interpolasi
 DB = 4o 34’ 15”-( 4o 34’ 15” - 4o 20’ 11”) x 0o 31’
            = 4o 26’ 58,93”

5. Mencari tinggi hilal (TH’).
 Data-data :
 LT     = -8o 21’ 14,1” (dari Daftar Lintang Tempat & Bujur Tempat)
 DB       = 4o 26’ 58,93”
 SWB    =  72o 53’ 43,68”
 Masukkan pada rumus
 Sin TH = (sin -8o 21’ 14,1:” x sin 4o 26’ 58,93” + cos -8o 21’ 14,1” x cos 4o 26’ 58,93” x cos 72o 53’ 43,68”)
     TH  =  16o 11’ 28,87”  (tinggi hilal hakiki)
 Cara Pijat kalkulator :
 Untuk kalkulator fx 4000 p, fx 4500 dan fx 5000 p; pijat secara berurutan: SHIFT sin ( sin –8o 21’ 14,1” x sin 4o 26’ 58,93”+ cos –8o  21’ 14,1” x cos 4o 26’ 58,93”x cos 72o 53’ 43,68”) exe shift o ’ ”  16o 11’ 28,87”
  Untuk menjadikan tinggi hilal mar’i, data-data yang dibutuhkan sbb:
 HP   = 0o 53’ 60 ” (lihat data Ephemeris)
 SDB = 0o 14’ 42,8” (lihat data Ephemeris)
 Parallaks = HP x cos TH = 0o 53’ 60” x cos 16o 11’ 28,87”  = 0o 51’ 51,49”
 Dip  = 0o 26’ 43,24” (asalnya Dip= 1,76 √tt / 60) tt Ngliyep= 230,5 meter.
 Refraksi dari table (Pengambilannya tergantung ketinggian hilal setelah ditambah Dip)

NB: Untuk data HP dan SDB diambil dari data Ephemeris pada saat matahari terbenam yaitu jam 10:31 GMT (lakukan interpolasi) Kemudian masukkan pada rumus TH’ = TH – parallax - SDB + DIP 
TH ( tinggi hakiki)  =  16’ 11’ 28,87”
Parallax                   =  0o 51’ 51,49” -
  15o 19’ 37,38
SDB                        =  0o 14’ 42,8” -
 150 4’ 54,58”
Dip (kerendahan ufuq)  =  0o 26’ 43,24”   +
  15o 31’ 37,82”
Refraksi  =  0o  3,4’          + (dari tabel)
TH’ ( tinggi Mar’i )    =  15o  35’  1,82”

5). Mencari lama hilal bisa dilihat diatas ufuk (HDU)
Maksudnya lama hilal yang bisa Kita lihat setelah terbenamnya matahari. Data yang dibutuhkan hanya ketinggian hilal mar’i saja.
 Caranya Ketinggian hilal mar’i dibagi  15
 Praktik Perhitungan
 HDU = 15o  35’ 1,82” / 15 =  1 jam 2 menit 20,12 detik

6). Mencari azimut matahari dan hilal
1. Mencari azimut matahari (AM)
Data yang dibutuhkan untuk menghitung azimut matahari antara lain: lintang tempat (LT), deklinasi matahari (DM), sudut waktu matahari (SWM). Rumusnya:
 Cotan A = -sin LT : tan SWM + cos LT x tan DM : sin SWM.
 NB: Bila hasilnya (–), itu menunjukkan letak matahari berada diselatan titik  barat, sedangkan bila hasilnya (+), itu menunjukkan matahari berada di utara titik barat


2. Mencari azimut hilal (AH)
Data yang dibutuhkan untuk menghitung azimut bulan antara lain: lintang tempat (LT), deklinasi bulan (DB), sudut waktu bulan (SWB). Rumusnya:
 Cotan A = -sin LT : tan SWB + cos LT x tan DB : sin SWB
 NB: Bila hasilnya (–), itu menunjukkan letak hilal berada diselatan titik  barat, sedangkan bila hasilnya (+) itu menunjukkan hilal berada di utara titik barat
Kemudian, tentukan juga Letak hilal dari matahari terbenam (LHM); caranya AH – AM. Dengan catatan jika hasilnya  ada tanda (+) nya, hal ini menunjukkan hilal berada di utaranya matahari dan jika ada tanda (–) nya, berarti hilal berada di selatan matahari.
Praktik Perhitungan:
1. Mencari AM
Data:LT       = -8o 21’ 14,1”
  DM.     = 10o 43’ 48,13” (dari data Ephemeris pada jam 10.31, lakukan interpolasi)
  SWM.  = 89o 45’
 Masukkan pada rumus:
Cotan AM = - sin - 8o 21’ 14,1” : tan 89o 45’ + cos - 8o 21’ 14,1” x tan 10o 43’ 48,13” : sin 89o  45’
             AM = 10o  39’ 14,3”. Ada tanda (+) nya, berarti matahari berada diuatara titik barat
         Cara Pijat Kalkulator:
 Untuk kalkulator Casio fx 4000 p, fx 4500 p dan fx 5000 p; pijat secara berurutan : SHIFT tan ( - sin - 8o 21’ 14,1” : tan 89o 45’ + cos -8o 21’ 14,1” x tan 10o 43’ 48,13” : sin 89 o45’ ) exe SHIFT o ‘ “  10o 39’ 14,3” .
2. Mencari AH
Data:LT     = -8o 21’ 14,1”
        DB.    = 4o 26’ 58,93” 
        SWB  = 72o 53’ 43,68”
 Masukkan pada rumus:
Cotan AM = - sin - 8o 21’ 14,1” : tan 72o 53’ 43,68” + cos - 8o 21’ 14,1” x tan 4o 26’ 58,93” : sin 72o  53’ 43,68”
             AM = 7o  8’ 23,79”. Ada tanda (+) nya, berarti Hilal berada di utara titik barat
         Cara Pijat Kalkulator:
 Untuk kalkulator Casio fx 4000 p, fx 4500 p dan fx 5000 p; pijat secara berurutan : SHIFT tan ( - sin - 8o 21’ 14,1” : tan 72o 53’ 43,68” + cos -8o 21’ 14,1” x tan 4o 26’ 58,93” : sin 72 o 53’ 43,68” ) exe SHIFT o ‘ “  7o 8’ 23,79” .
 Jadi bisa disimpulkan bahwa letak hilal di 7o 8’ 23,79” di Utara titik barat atau 3o 30’ 50,51” (7o 8’ 23,79” -  10o 39’ 14,3”) di selatan matahari terbenam (LHM).
7). Kemiringan Hilal (KH)
Data yang dibutuhkan adalah: letak hilal dari matahari terbenam (LHM) dan ketinggian hilal mar’i (TH’). Rumusnya:
 tan KH = (LHM : TH’)
 Catatan: Arah kemiringan hilal mengikuti arah kedudukannya dari matahari, artinya jika hilal berada di utara matahari; maka hilal miring ke utara, sedangkan jika hilal berada di selatan matahari, maka hilal miring ke utara. Dan apabila besar kemiringannya kurang dari 5 drajat, maka keadaan hilal dikatakan terlentang. Sedangkan jika besar kemiringannya lebih dari 85 drajat, maka keadaan hilal dikatakan tegak lurus.
Praktik Perhitungan:
Data LHM = 3o 30’ 50,51” (di Selatan matahari terbenam)
        TH’   = 15o 35’ 1,82”
Masukkan pada rumus:
tan KH = (3o 30’ 50,51” : 15o 35’ 1,82”)
      KH = 12o 42’ 25,95”
Jadi, keadaan hilal sedikit miring ke utara yaitu sebesar 12o 42’ 25,95”
Cara Pijat kalkulator
Untuk kalkulator Casio fx 4000 p, fx 4500 p dan fx 5000 p; pijat secara berurutan : SHIFT tan (3o 30’ 50,51” : 15o 35’ 1,82”) exe SHIFT o ‘ “  12o 42’ 25,95” .
8). Kesimpulan
1) Ijtima’ Akhir Rojab 1427 H Hari Kamis, 24 Agustus 2006,  Jam 2.11 WIB
2) Terbenamnya Matahari tgl 25-8-2006 Jam = 17.31 WIB
3) Tinggi Hilal Mar’i = 15o 35’ 1,82”
4) Lama Hilal Diatas Ufuq = 1 jam 2 Menit 20,12 Detik
5) Azimut Matahari = 10o 39’ 14,3” di Utara Titik Barat
 Azimut Bulan = 7o 8’ 23,79” di Utara titik Barat atau 3o 30’ 50,51” di Selatan matahari terbenam.
6) Keadaan Hilal  miring ke Selatan sebesar 12o 42’ 25,95”
Shofiyulloh ST
Bendahara Lajnah Falakiyah NU Jawa Timur, alamat Pondok Pesantren Miftahul Huda, Mojosari, Kepanjen, Malang
 
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,14-id,8927-lang,id-c,teknologi-t,Mengenal+Data+Ephemeris-.phpx