ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Senin, 15 Juli 2013

Puasa dan Ajaran Sunan Ampel tentang Mohlimo

==========
Puasa dan Ajaran Sunan Ampel tentang Mohlimo
===============================

Alkisah Sunan Ampel dipanggil oleh Bhre Kertabumi, Raja Majapahit. Ia ditugaskan untuk memperbaiki moral masyarakatnya yang bejat.
Sunan Ampel memperbaiki akhlaq masyarakat dengan mengajarkan prinsip mohlimo. “Moh” artinya tidak mau. “Limo” artinya lima. Jadi mohlimo berarti tidak mau melakukan lima hal, yaitu: main (berjudi), minum (minuman keras), maling (mencuri), madat (narkotika), dan madon (main perempuan).
Menurut Sunan Ampel, dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa mereka yang melakukan lima hal itu akhirnya menderita baik lahir maupun batin. Sebaliknya jika menghindari lima hal ini, hati/rohaninya menjadi bersih, fisik menjadi sehat, jauh dari serangan berbagai jenis penyakit, dan insya Allah hidupnya sekeluarga berbahagia.
Maka dalam waktu relatif tidak terlalu lama Sunan Ampel dapat memperbaiki moral rakyat Majapahit masa itu. Ajarannya banyak menarik simpati dan pada akhirnya banyak rakyat Majapahit yang tertarik Islam, termasuk para pembesar kerajaan.
Kini di kalangan masyarakat Jawa tak asing lagi mendengar kata mohlimo atau lima Mo yang merupakan pedoman hidup yang mesti dipegang teguh, yang bersumber dari ajaran Islam. Ajaran Sunan Ampel tentang mohlimo yang sampai sekarang masih relevan.
Pengalaman membuktikan, ketika seorang melakukan Mo yang pertama maka akan diikuti Mo berikutnya, dan seterusnya.
Yang pertama yakni maling atau mencuri. Maling bisa berarti korupsi atau mencuri, dan semua perbuatan yang disebut mencuri, maka orang tadi sudah bisa dibilang melakukan perbuatan Mo yang pertama yakni maling. 
Setelah maling atau koruptor mengembat duit negara yang bersumber dari duit rakyat jelata ratusan sampai miliaran rupiah atau mengembat uang serta harta benda milik orang lain, maka orang itu hawanya panas akan cenderung tergoda untuk melangkah pada step (tahap) Mo kedua yakni main.
Main sebagai Mo kedua dalam istilah Jawa maksudnya : judi, gambling, taruhan, dan aneka perbuatan yang intinya berjudi. Berjudi menjadi lebih mengasyikkan bagi orang yang telah maling, karena toh bukan uang halal yang dibuat judi, jadi beban mental untuk berjudi tidak seberat ketika memakai uang gaji atau keuntungan bersih dagang yang halal. Berjudi ketika memakai uang hasil korupsi akan terasa lebih ringan karena kalau habis, toh bukan uang dirinya sendiri, nanti bisa korupsi lagi.
Setelah melakukan Main sebagai Mo Kedua dalam komponen 'Lingkaran Setan MoLimo', maka orang yang telah berjudi memerlukan tambahan stamina untuk tetap ‘on’ dalam bersenang-senang dalam kemaksiatan yakni dengan melangkah pada tahapan atau stage/ step Mo yang ketiga yakni : Minum.
Mo ketiga dari satu lingkaran setan MoLimo adalah Minum. Minum adalah istilah dalam bahasa Jawa untuk minum miras (minuman keras). Dalam Mo ketiga ini otak akan dibawa larut oleh suasana lebih rileks dan gembira saat dalam kondisi Mo Kedua yakni Main/berjudi, karena kalah-menang pun akan tetap gembira karena pengaruh alkohol. Derai tawa selalu membahana di tengah kesukaan dan keriaan tenggelam dalam lingkaran setan MoLimo.
Bila tubuh dan keinginan telah menagih untuk mencapai derajat teler yang lebih tinggi sebagai kenikmatan berikutnya, maka telah sampailah pelaku pada step Mo yang keempat yakni Madat.
Madat dalam istilah bahasa Jawa maksudnya memakai opium, opiate dan obat bius (dulu), kalau sekarang adalah menyalahgunakan narkotika dan aneka produk turunannya.
Lazim didapati sebuah efek menagih setelah tubuh ringan oleh alkohol maka muncul keinginan kuat untuk menambah derajat kenikmatan menjadi kenikmatan narkoba.
Dalam Mo keempat dalam lingkaran setan ini orang akan mengkonsumsi narkoba.
Kini lazim diketahui berbagai jenis narkoba bisa menggiring otak ke arah sensasi luar biasa yang sesungguhnya fatamorgana, apalagi jenis shabu dan methamphetamine, maka orang yang telah sampai pada step Mo keempat, akan segera mencari step Mo yang kelima yakni madon.
Madon adalah Mo kelima atau Mo final, jurang dari seluruh prosesi rangkaian 'Lingkaran Setan MoLimo' yang dilakukan orang, dan tersedia luas di muka Bumi. Namun, sejak setan adalah musuh yang nyata, maka kita harus senantiasa waspada. Mo kelima adalah Madon. Apa hubungannya Madon dengan Madat ? Jawabnya : kerap kali orang memakai narkotika jenis shabu dan aneka narkotika jenis baru untuk menghantarkan pada step berikutnya yakni memuaskan diri dalam hal hasrat seksual.
Pada tahapan step Mo kelima dalam ihkwal rangkaian MoLimo sebagai lingkaran setan yang tak terputus ini, Madon adalah istilah lain untuk main perempuan (nakal). Madon secara umum dalam bahasa Jawa adalah berzina, selingkuh, melacur, main dengan pelacur.      
Istilah madon dalam bahasa Jawa digunakan sebagai penanda untuk kegiatan berzina baik untuk lelaki dan perempuan. Sampai pada step yang Kelima yakni Madon ini, maka pelaku bukannya berhenti, tapi karena MoLimo pada hakekatnya adalah sebuah circle, sebuah siklus dan sejatinya adalah lingkaran setan, maka pelaku akan kembali lagi pada step/ stage yang pertama yakni maling lagi, korupsi lagi. Tidak ada puasnya, seperti terkena penyakit psikopat.
Jadi dalam konteks Ramadhan, maka puasa bukan semata-mata menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan hawa nafsu MoLimo tadi. Singkatnya, puasa adalah juga sebuah komitmen untuk Mohlimo, menghindari maling, main, minum, madat, dan madon dalam berbagai bentuknya.

* Abdullah Hamid
Pengasuh Pesantren Budaya Asmaulhusna (Sambua) Lasem, Jawa Tengah

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,59-id,45786-lang,id-c,taushiyah+ramadhan-t,Puasa+dan+Ajaran+Sunan+Ampel+tentang+Mohlimo-.phpx