ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Senin, 18 Maret 2013

Lain India Lain Indonesia

================
Lain India Lain Indonesia
===================

Antara bangsa Indonesia dan bangsa India memiliki hubungan historis yang sangat panjang, tidak hanya berkaitan dengan politik tetapi juga berkaitan dengan budaya dan bahkan agama. Pada dasawarsa 1940 hingga 1960 hubungan politik kedua negara sangat erat, sejak mulai awal kemerdekaan di mana keduanya saling bahu membahu, demikian juga ketika membangun dunia ketiga dengan Konferensi Asia Afrika, antara Soekarno dengan Nehru dua tokoh karismatik yang menjadi bapak bangsa itu terjalin hubungan erat.

Hal itu tidak lain karena keduanya memiliki ikatan histories yang kuat, baik yang berkembang dalam kebudayaan dan sekaligus agama. Bangsa Indonesia pertama kali mengenal agama besar adalah agama Hindu yang datang dari India dan kemudian Budha, keduanyalah yang kemudian membentuk dan mewarnai agama dan kebudayaan di Nusantara ini. Menariknya hubungan dua bangsa itu sama sekali tidak bersifat politis, apalagi kolonial, melainkan bersifat kultural.

Bahkan agama Islam yang datang ke Nusantara setelah Hindu dan Budha salah satu jalurnya adalah Gujarat India. Sehingga warna keindiaan dalam Islam Indonesia juga cukup kentara. Bahkan tidak sedikit guru para ulama Indonesia di Masjidil haram berasal dari India yang kemudian terus berjejaring hingga sekarang. Tetapi nampaknya setelah masa orde baru hubungan kultural kedua bangsa ini semakin menjauh seolah hubungan religius dan kultural itu tidak pernah ada. Hubungan Indonesia langsung ke Barat, kurang lagi bertetangga. Tiadanya hubungan itu menjadikan watak dan sikap kedua bangsa itu juga berangsur berbeda.

Sikap paling tampak adalah, bagaimana negeri itu mampu mengembangkan industrinya dengan sangat mandiri. Industri otomotif nasional di negeri Gandhi itu berkembang pesat, demikian juga industri pertanian dan termasuk Industri persenjataannya. Negeri itu telah mampu membuat pesawat tempur sendiri, memiliki roket sendiri, teknologi informasinya juga merajai dunia, bahkan negeri itu telah mampu mengembangkan senjata nuklir. Seluruh proyek nuklir dan ruang angkasa itu dipandegani oleh Abdul Kalam seorang fisikawan Muslim yang kemudian menjadi presiden negeri mayoritas Hindu itu. India menjadi negara mandiri yang memiliki karakter.

Berbeda dengan Indonesia sampai saat ini tidak berani mengembangkan mobil nasional, industri penerbangan, industri kereta api dan perkapalan juga dipusokan, proyek nuklir terus dilumpuhkan, proyek luar angkasa diabaikan sehingga semua observatorium diterlantarkan, dan sekarang ini industri paling dasar yaitu baja sudah akan dijual. Rakyat dan para pemimpin di Indonesia tidak lagi memiliki karakter karena itu tidak berani bersikap. Tidak berani mengembangkan industri dasar, karena seluruh kekuasaan telah diijonkan ke pada kapitalisme internasional, sehingga perannya hanya sebagai distributor, atau paling banter sebagai perakit industri bangsa lain.

Padahal sekelas bengkel pinggir jalan telah bisa membuat mobil bahkan pesawat terbang. Belum lagi ribuan insinyur tentu lebih bisa, tetapi mereka disekolahkan untuk menjadi buruh bukan untuk menjadi majikan. Karena itu kalangan para teknolog itu menerima kenyataan ini dengan pasrah, tidak ada yang berani tampil ke depan tampil untuk membangun industri nasional. Itu bedanya kita dengan India, karena membangun industri bukan masalah teknis, bukan masalah finansial tetapi masalah mental dan masalah politik.

Kembali ke masalah agama, walaupun Islam kita sebagian berasal dari Gujarat India, ternyata keduanya juga memiliki sikap yang berbeda. Kalau masyarakat Islam Indonesia menyanjung para teroris terpidana mati itu sebagai pahlawan bahkan sebagai syahid. Sementara kaum Muslimin India menganggap para teroris itu sebagai pengkhianat Islam, karena itu mereka menolak untuk meyembahyangkan dan menolak tanahnya untuk tempat penguburan. Hukuman sosial itu dilakukan agar masyarakat berpikir ulang ketika hendak menjadi teroris. Dengan sikap yang clear cut itu Muslim India tidak dituduh sebagai penyemai bibit terorisme. Masyarakat dan pemerintah Indonesia tidak bisa bersikap seperti itu.

Demikian juga dalam bidang politik dan pertahanan bangsa India juga telah mampu mengelola kepemimpinannya secara lebih mandiri, karena itu ketika terjadi bencana alam negara itu menolak bantuan asing karena mereka tidak rela perairannya dimasuki kapal induk negara asing, yang kemudian menurunkan pasukan untuk menolong korban bencana. Persoalannya, masuknya tentara asing berarti bobolnya sebuah pertahanan negara. Dan setelah mereka masuk belum ada mekanisme untuk mengusirnya, mereka akan bercokol terus dengan berbagai alasan, apalagi kalau posisi militer itu telah disipilkan dengan kedok organisasi kemanusiaan dan sebagainya.

Sebaliknya ketika terjadi bencana, negeri ini membuka diri seluruh bantuan asing, termasuk membiarkan kapal induk masuk dan menurunkan pasukan perang mereka. Tentara asing itu bebas menjelajah seluruh pelosok wilayah bencana. Dengan acara ini kedaulatan mulai dilanggar, dan setelah itu tidak ada mekanisme untuk mengusirnya, akhirnya mereka terus bercokol, dan menetap secara permanent, karena membangun berbagai proyek yang menguntungkan mereka, tetapi tidak untuk masyarakat setempat. Mereka datang bukan untuk menolong karena seluruh dana dan tenaga yang mereka keluarkan dihitung sebagai utang, sementara tarif tenaga kerja mereka tinggi, akhirnya selesai bencana Indonesia terbebani hutang besar yang dikerjakan tanpa tender. Karena Indonesia terikat utang pada mereka maka kehadiran mereka bisa dilanggengkan, sehingga menjadi tentara pendudukan walaupun kemudian berbaju sipil.

Perbedaan cara pandang dalam merespon berbagai isu internasional itu yang membedakan antara bangsa Indonesia dengan bangsa India. Demikian pemerintahnya, begitu pula rakyatnya, demikian Hindu, begitu pula Islamnya telah bersikap yang sama, karena mereka hidup sebagai satu bangsa. Indonesia memang tidak perlu menjadi India, tetapi bisa belajar pada mereka bagaimana membangun industri, membangun sistem politik sebagai dasar untuk membangun peradaban. 

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,3-id,15044-lang,id-c,analisa+berita-t,Lain+India+Lain+Indonesia-.phpx