ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Jumat, 22 Maret 2013

Mbah Ali Ma'shum Krapyak Yogya di Mata Para Santri

==============
Mbah Ali di Mata Para Santri
=======================
KH Ali Maksum atau Mbah Ali, semasa hidupnya dikenal sebagai seorang kiai yang memiliki keunikan tersendiri dalam mendidik santri-santrinya. Bukan hanya dekat dengan santri, Mbah Ali juga dekat dengan masyarakat.

Hal tersebut diamini oleh KH. Habib Syakur, pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul dalam acara haul Mbah Ali Maksum, Rabu (20/3) kemarin.

“Mbah Ali mendidik santrinya dengan cara yang berbeda dibandingkan kiai-kiai lainnya. Mbah Ali dekat dengan santri dan masyarakat,” Ungkap KH. Habib saat diminta menyampaikan Manaqib Mbah Ali Maksum.

“Sebagai contoh, Mbah Ali itu tak pernah menyuruh saya untuk jamaah Shalat Subuh. Tapi Mbah Ali hanya meminta saya untuk jadi teken (pegangan) waktu beliau naik dan turun masjid. Ya mau tidak mau saya pasti shalat subuh. Sebelum Mbah Ali turun dari masjid ya saya tetap berada di Masjid, menunggu Mbah Ali,” tambahnya lagi.

Dalam kesempatan itu juga, KH. Habib mengungkapkan, Mbah Ali memiliki firasat yang tajam. Ia bercerita, waktu itu dirinya meminta izin untuk pergi mengaji ke pesantren lain saat bulan puasa tiba.

“Ketika saya sowan dan belum mengatakan apa keinginan saya tersebut, Mbah Ali sudah bilang bahwa saya tidak boleh pergi. Malah saya ditugasi suruh buat jadwal pengajian di bulan puasa. ‘wes li, koe neng kene ae, ora oleh lungo. Saiki, taun iki, koe nggwe jadwal ngaji pondok” (sudah Bib, kamu di sini saja, tidak boleh pergi. Sekarang, tahun ini, kamu buat jadwal mengaji pondok),” ungkap KH. Habib menirukan perintah Mbah Ali. Sontak, ucapan KH. Habib tersebut disambut dengan tawa para hadirin.

Selain KH. Habib, dalam kesempatan haul tersebut, KH. Ikhsanudin, yang pernah nyantri kepada Mbah Ali selama sepuluh tahun juga menceritakan manaqib Mbah Ali. Menurutnya, ada tiga hal yang sangat berkesan tentang Mbah Ali.

“Jika hanya menceritakan tentang Mbah Ali saya rasa satu malam saja tidak cukup. Tiga tahun, bahkan bertahun-tahun pun tak akan cukup. Tapi bagi saya, tiga hal yang sangat berkesan di hati saya,” ujar KH. Ikhsan mengawali ceritanya.

“Mbah Ali itu orangnya disiplin. Kedisiplinan beliau itu luar biasa. Bayangkan saja, sebelum subuh, beliau sudah bangun. Lalu pergi keliling ke kamar-kamar santri dan membangunkannya. Beliau keliling sambil membawa semprotan air. Jadi kalau ada santri yang nggak bangun, maka akan disemprot air oleh Mbah Ali,” Ungkap KH Ikhsan.

Selain disiplin, beliau juga mengungkapkan bahwa Mbah Ali itu orangnya familier dan sangat menjaga kebersihan. “Jadi, an nadofahnya Mbah Ali itu luar biasa,” tambahnya.

Acara haul Mbah Ali yang dilaksanakan tiap tahun tersebut dilaksanakan di pondok pesantren Ali Maksum. Malam itu, ratusan jamaah yang berasal dari berbagai kalangan memenuhi depan pondok Ali Maksum.

Sebelum acara inti,  para jamaah diajak bershalawat bersama Gus Kelik. Krapyak pun berdendang menebarkan doa dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Acara haul  Mbah Ali yang dihadiri oleh ratusan jamaah, merupakan salah satu bukti kecintaan para jamaah terhadap sosok Mbah Ali. Mereka bersama-sama mengirimkan doa dan kerinduan mereka.
Semoga engkau tenang di alam sana Mbah! Kami merindukanmu selalu. 

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,46-id,43235-lang,id-c,pesantren-t,Mbah+Ali+di+Mata+Para+Santri-.phpx