ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Kamis, 14 Maret 2013

NAPAK TILAS IPPNU - Berawal dari Kota Bengawan

=============
NAPAK TILAS IPPNU (1)
Berawal dari Kota Bengawan
===================
Menjelang peringatan Harlah ke-58 Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), yang bertepatan pada hari Sabtu (2/3) lalu, NU Online menelusuri jejak perjalanan awal organisasi pelajar putri NU ini.

Tempat yang menjadi napak tilas kami yakni kota Surakarta. Kota yang juga dikenal dengan nama Solo ini, tak bisa dilepaskan dari sejarah awal berdirinya IPPNU.

Ada dua tempat yang menjadi titik sasaran kami, yakni MAN 2 Surakarta yang dulunya merupakan bangunan Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Surakarta.

Kedua, yakni Masjid Sunniyah yang terletak di Jl Ronggowarsito Keprabon Solo. Pada nama tempat yang kedua ini, menurut berbagai sumber, dari sinilah sejarah IPPNU dimulai.

Sekitar tahun 1954, di kediaman Nyai Masyhud (ibu dari Ny. Mahmudah Mawardi, ketua umum PP Muslimat NU 1952-1979, dan nenek dari Farida Mawardi, ketua umum PP IPPNU periode 1963-1966) yang terletak di bilangan Keprabon Surakarta.

Berawal dari perbincangan ringan oleh beberapa remaja putri yang sedang menuntut ilmu di PGA Surakarta. Mereka mencoba merespon keputusan Muktamar NU ke-20 di Surabaya tentang perlunya organisasi pelajar di kalangan nahdliyyat.

Diskusi-diskusi ringan dilakukan oleh Umroh Machfudzoh, Atikah Murtadlo, Lathifah Hasyim, Romlah, dan Basyiroh Saimuri. Dengan panduan ketua Fatayat cabang Surakarta, Nihayah, mereka berbicara tentang absennya pelajar putri dalam tubuh organisasi NU.

Lebih-lebih setelah kelahiran Muslimat NU (29 Maret 1946) yang beranggotakan wanita-wanita paruh baya, dan Fatayat NU (24 April 1950) yang anggota-anggotanya banyak didominasi oleh ibu-ibu muda.

Pembicaraan itu kemudian berkembang dengan argumentasi Nihayah (yang di kemudian hari menjadi istri Rais ‘Aam NU, K.H. Ahmad Siddiq) tentang pentingnya didirikan satu wadah khusus bagi para pelajar putri NU.

Apalagi keputusan muktamar ke-20 NU tahun 1954 menyatakan, bahwa IPNU adalah satu-satunya organisasi pelajar yang secara resmi bernaung di bawah NU dan hanya untuk laki-laki, sedangkan pelajar putri sebaiknya diwadahi secara terpisah.

Nihayah juga berdalih bahwa banyak pelajar-pelajar putri dari kalangan NU yang dimanfaatkan oleh ormas-ormas yang kebanyakan berafiliasi kepada partai politik tertentu di luar NU. Nihayah bahkan menjabat sebagai Ketua Departemen Keputrian Pelajar Islam Indonesia (PII) yang berafiliasi kepada Partai Masyumi, padahal menjelang pemilu 1955 NU sudah berpisah menjadi partai sendiri.

Obrolan ringan yang biasanya dilakukan seputar waktu senggang setelah sekolah itu akhirnya berkembang menjadi sebuah gagasan kemungkinan pengiriman pelajar putri NU mendampingi pelajar-pelajar putra yang memang pada awal tahun 1955 sedang mempersiapkan muktamar I IPNU yang akan diadakan di Malang, Jawa Timur.

Sumber: Wawancara terpisah dengan Umroh M., Nihayah Ahmad Siddiq, dan Mahmudah Nachrowi/ KMNU Mesir. (Foto: Hj. Umroh Machfudzoh)

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,42997-lang,id-c,daerah-t,Berawal+dari+Kota+Bengawan-.phpx