ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Selasa, 02 Juli 2013

Barisan Kiai Sangat Gigih Dalam Merebut Kemerdekaan

=========
Barisan Kiai
===============

Barisan Kiai tidak popular di kalangan kaum pergerakan merebut kemerdekaan. Berbeda misalnya dengan tentara Pembela Tanah Air (Peta), Lasykar Hisbullah pimpinan KH Zainul Arifin atau Lasykar Sabilillah yang di bawah komando KH Masykur.
Barisan Kiai tidak kalah gigihnya dengan ketiga lasykar di atas, dan langsung di bawah pimpinan Kiai Wahab Chasbullah sendiri, seperti dituturkan KH Saifuddin Zuhri dalam buku Berangkat dari Pesantren. Tapi, baik di buku Berkangkat dari Pesantren ataupun Guruku Orang-orang dari Pesantren, Kiai Saifuddin tidak menjelaskan mengenai struktur lengkap Barisan Kiai. Demikian juga KH Hasyim Latif, anggota Hiszullah Jawa Timur, sama sekali tidak pernah memberikan kesaksian adanaya laskar tersebut.
Memang, Kiai Saifuddin banyak menceritakan perjuangan para kiai sejak dari Banten, Parakan, hingga Jember dan Banyuwangi, tapi diceritakan secar terpisah. Tidak diorganisir secara rapi. Begitu pula peran Kiai Wahab dalam seluruh peristiwa itu, kesannya hanya respon sporadik.
Keberadaan Barisan Kiai ini memang sangat dirahasiakan, karena anggotanya terdiri dari para kiai sepuh, yang memang tidak pernah muncul dipermukaan. Bahkan di antaranya sudah tua renta, yang berjalan dan melihatpun pun sudah tidak mamapu. Namun demikian, mereka tokoh yang disegani.
Buku Hisbullah Surakarta yang diterbitkan para alumni kelasykaran kota itu, sedikit mengungkap tentang keberadaan Barisan Kiai itu. Tapi yang sedikit itu cukup membuka selimut kerahasiaan organisai Barisan Kiai itu.
Disebutkan, Ketua Barisan Kiai Jawa Tengah KH Ma’ruf, Barisan Kiai Solo dipimpin KH Abdurrahman yang usianya sudah sangat uzur, Barisan Kiai Sragen dipimpin KH Bulkin. Para kiai itu menjadi pembimbing kapan musuh datang dan harus menyerang.
Kelahiran Barisan Kiai ini tidak diketahui persis, karena ia merupakan komitmen para kiai sejak lama dan ‘khas’. Tapi, Jepang mengetahui pergerakan mereka. Dan tak lama mereka menangkap serta memenjarakan tokoh-tokoh kunci, seperti Hadrotusy Syekh KH Hasyim Asy’ari, KH Machfudz Siddiq. Dan ternyata, para kiai yang ditangkapi tidak hanya di Jombang dan Surabaya, tapi juga di Wonosobo, Banyumas, Magelang.
Sikap Jepang yang keras membuat Kiai Wahab Chasbullah, keliling Jawa, selama empat bulan, guna membela para koleganya yang dipenjara.
Disebutkan pula bahwa kelahiran Hisbullah dan Sabililah juga merupakan rintisan para ulama yang ada dalam Barisan Kiai. Sebab, dalam latihan kemiliteran Hisbullah di Cibarusa, para kiailah yang menjadi motivator dalam tiap sesi latihan. Bahkan sertifikat kelulusan latihan kemiliteran itu ditandatangani langsung oleh KH Hasyim Asy’ari, Rois Akbar NU dan sekaligus Ketua Umum MIAI.
Kesibukan Kiai Wahab semakin meningkat, setelah dikeluarkannya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad seruan wajib bagi setiap Muslim untuk berperang mempertahankan kemerdekaan melawan sekutu dan juga Jepang. Gerakan para kiai sepuh ini berperan sangat penting, yaitu sebagai penghembus spirit perlawanan.
Di bawah komando Kiai Wahab, Kiai Subhi dari Parakan-Temanggung akhirnya turun gelanggang perjuangan. Kiai Subhi memberi kaum muda senjata yang telah diberi mantra. Mereka itu yang kemudian berangkat ke Ambarawa dan Surabaya melawan Belanda dan sekutunya, terutama Inggris. Gerakan serupa juga datang dari Malang pimpinan Kiai Yahya.
Sebagai ketua Barisan Kiai, Kiai Wahab juga turun langsung ke medan perang mendampingi para komandan Hisbullah dan Sabilillah di malang, Mojokerto, Magelang, dan Ambarawa. Ia tak mengenal lelah menempuh jarak yang jauh dan penuh bahaya.
Pergerakan Barisan kiai tersium Intelijen Belanda, PID maupun Nefis. Karenanya Vander Vlaas maupun Van Mook, mendekati para kiai dengan tipu muslihatnya. Kaum penjajah mendatangi pesantren, membagikan Al-Qur’an, memberikan ucapan selamat hari besar Islam dan sebagainya.
Tapi, karena para kiai menolak kompromi dan tipu muslihat, maka ditangkapi dan disiksa. Kiai Maksum Jember ditembak mati, Kiai Ahmad dari Madura dipaksan lari ke gunung untuk bersembunyi, bahkan Kiai Abdul Ghoni ketua NU Jawa Tengah diculik, tak ketahuan nasibnya.
Kerasnya tekanan yang dilakukan Belanda selama agresi pertama dan kedua itu tidak membuat Barisan Kiai ini surut, sebaliknya mereka ini semakin solid.
Melihat kegigihannya mereka berjuang di medan perang, bisalah dimengerti jika mereka menolak mentah-mentah terhadap perjanjian yang dibuat oleh para politisi seperti Perjanjian Linggarjati maupun Renville. Perjanjian-perjanjian itu, menurut para kiai, akan mengebiri kebebasan Republik.
Sampai di sini, kita jadi mafhum, jika Barisan Kiai ini selalu bekerjasama dengan kelompok militan Tan Malaka. Basis gerakannya jadi jelas, Barisan Kiai menghendaki kemerdekaan Indonesia 100% persen. 

sumber:http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,32920-lang,id-c,fragmen-t,Barisan+Kiai-.phpx