ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 03 Juli 2013

Kaderisasi NU di Masa Lalu

========
Kaderisasi NU di Masa Lalu
========================

Orang sering kaget dalam Nu yang katanya belum memiliki kaderisasi yang mantab tetapi tidak jarang muncul kader-kader yang kemampuannya seperti kader yang dipersiapkan secara sistematis, bagaimana misalnya muncul orang seperti Wahid Hasyim, Muhammad Dahlan, Saifuddin Zuhri, Ahmad Syaichu, kemudian Subhan ZE dan Abdurrahman Wahid. Bahkan belakanagan ini tiba-tiba hampir semua kandidat calon wakil presiden RI dari NU. Semua itu sulit dipahami bagaimana system tradisional bisa melahirkan pemimpin kaliber nasional dan internasional, kalau tidak melihat tradisi keilmuan yang terdapat di pesantren pada umumnya.
Sebagai ilustrasi ada contoh menarik yang dialami  Kiai Muhammad dahlan Ketua Umum PBNU yang juga Menteri Agama RI. Menjelang keberangkatan Dahlan ke Tanah Suci, kakeknya (dari pihak ayah) jatuh sakit yang cukup parah karena memang sudah lanjut usia. Kondisi fisiknya yang telah lemah, memaksa sang kakek untuk melakukan segala aktivitas kesehariannya dengan berbaring diatas ranjang. Terkadang, sang kakek ini mengigau, mengatakan sesuatu yang sulit diketahui apa maksud  dari pembicaraannya.
Suatu kali ia menyatakan sesuatu permintaan yang sulit bahkan tidak mungkin untuk dipenuhi. Kali yang lain terkadang menceritakan suatu kejadian yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. Biasanya, bila ia sedang mengigau para sanak keluarga yang mendampinginya hanya bersikap pasif, sekedar meladeni sang kakek agar ia tidak tersinggung dan tidak berkecil hati.
Di tengah para  anggota keluarga yang  setia mendampinginya selama ini sang kakek mengatakan bahwa ia bermaksud menghajikan kedua cucunya, yaitu Muhammad Hasyim dan Muhammad Dahlan.  Ia mengatakan bahwa telah lama menyiapkan sejumlah uang untuk membiayai perjalanan haji kedua cucunya itu, uang itu kini disimpan di laci lemari. Para sanak keluarga yang mendengar ucapan tersebut merasa yakin bahwa apa yang diutarakan sang kakek tidak lain hanya igauan belaka. Biaya yang harus disediakan untuk perjalanan haji sangatlah besar, dan sepengetahuan mereka sang kakek tidak memiliki uang sebanyak itu.
Namun berbeda dengan yang lain, Dahlan mempunyai dugaan kuat bahwa ucapan kakeknya itu benar. Dengan seizin kakeknya, ia lalu bergegas menuju lemari yang terletak di sudut kamar, kemudian membuka laci yang ada di dalamnya. Ternyata benarlah apa yang diduga. Dalam laci tersebut ditemukan setumpuk uang dalam bilangan yang cukup besar. Dari uang itulah Dahlan bersama kakak sulungnya pergi berhaji dan bermukim di Makkah untuk belajar. Dengan uang itu Dahlan beserta saudaranya pergi ke Makah.
Tidak sampai berbilang tahun sejak kepulangannya dari Tanah Suci, Dahlan menghadapi kenyataan yaitu  ayahnya meninggal dunia. Sepeninggal ayahnya, kehidupan Dahlan berangsur-angsur berubah. Tanggung jawab menghidupi keluarga tidak saja dipikul oleh kakak sulungnya, tetapi juga ada pada pundaknya.
Pengaalaman hidupnya itu yang membuat kematangan hidupnya, karena itu yang digunakan sebagai modal merintis organisasi NU di desanya, yang kemudian secara bertahab karirnya sebagai ketua cabang hingga menjadi ketua umum PBNU, bahkan kemudian menjadi Menteri Agama RI, sebuah kaderisasi tradisional, tetapi melahirkan pemimpin modern yang sangat inovatif, dalam penataan organisasi dan pengembangan gerakan wanita.  Kaderisasi model lama ini mesti diubah agar lebih sistematis, programatis dan lebih luas cakupannya, sehingga tidak hanya berlaku dilingkungan elite NU tetapi menjangkau seluruh kader yang ada. Konsep kaderisasi sudah ada bahkan telah disahkan oleh Munas Ke 31, tinggal implementasinya. 

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,7636-lang,id-c,fragmen-t,Kaderisasi+NU+di+Masa+Lalu-.phpx