ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 03 Juli 2013

Keistimewaan Pesantren Jampes

===========
Keistimewaan Pesantren Jampes
=========================

Walaupun pesantren Jampes Kediri tidak terlampau besar tetapi sejak dulu memiliki keistimewan sendiri, sebab seperti kriteria besar tidaknya pesantren tidak diukur dengan sedikit banyaknya santri, melainkan ditentukan oleh kualitas kiai dan kualitas santrinya. Di pesantren Jampes itulah terdapat seorang ulama besar bernama Kiai Dahlan, ia diangap seorang ulama wali yang memiliki ilmu ladunni. Tidak hanya itu di sana juga muncul anaknya yang bernama kiai Ihsan seorang pujangga besar yang menulis beberapa kitab yang dikagumi seluruh dunia.
Siapapun umat dan santri selalu mengharap barakah dari sang kiai terutama kiai sepuh, dan salah satu bentuk barakah yang aneh yang sudah menjadi mitos saat itu adalah barang siapa yang diludahi olehya maka ia akan mendapatkan ilmu ladunni. Pada suatu hari kiai Dahlah kehadiaran santri seniornya bernama Yahya yang berasal dari Gading Malang, ia seorang santri kelana tulen, sebelum ke pesantren Jampes ia sudah melahap berbagai ilmu dari pesantren lain, baru berani nyantri pada  Kiai Dahlan, ternyata santri satu ini mendapat perhatian khusus, sehingga pada suatu hari diludahilah mulut si santri itu. Bukan marah melainkan sangat bahagia, berarti ketangguhan keilmuannya diakui dan memiliki kemampuan untuk memperoleh ilmu ladunni.
Ketika hendak pulang dari pesantren ia sempat minta diajarkan amalan wirid tarekat kepada sang Kiai,  padahal sebalumnya Yahya sudah pernah mengikuti tarekat Khalidiyah  dari Kiai Thohir Singosari namun permintaan itu tidak dikabulkan oleh sang guru dengan mengatakan  sabar saja dulu, sekarang amalkan dulu wirid yang telah ada, karena suatu ketika akan datang seorang Guru (Mursyid ) yang akan mengajarkan tarekat kepadamu� 
Mendengar jawaban sang kiai ia terus pergi dari Jampes untuk melanjutkan pengembaran ke pesantren lain, yakni ke Tulungagung. Sepeninggal Kiai Dahlan Pesantren Jampes diasuh oleh Kiai Ihsan, maka Yahya segera balik ke Jampes dengan harapan bisa berguru pada kiai muda brilian itu,  sebab banyak ilmu yang harus digali dari kiai pujangga itu. Selain ngaji, sebagai santri senior ia ditugasi Kiai Ihsan untuk ikut mengajar, dan ini dijalankan dengan baik, sebab selama di Jampes ia bisa banyak berdiskusi dengan Kiai muda pengarang itu. 
Persis pada tahun 1930 ia balik ke Malang untuk mengelola pesantren dan kemudian juga turut terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan, baik zaman Belanda maupun zaman Jepang Maka tanpa di duga datanglah kepadanya Kiai Zainal Makarim   dari  Solo, seorang Mursyid Tarekat Qadiriyah-Naqshabandiyah. Maka diajarkan amalan tarekat tersebut, bahkan kemudian Kiai Yahya diangkat sebagai Mursyid tarekat tersebut. Peristiwa membuktikan kebenaran ucapan Kiai Dahlan   30 tahun yang lalu, yang ia sendiri hampir melupakan  ucapan sang guru  waskita itu. Itu antara lain bentuk ilmu ladunni yang dimiliki Kiai Dahlan Jampes, yang kemudian dia warisi juga. (MDZ)

Disadur dari buku Lentera Kehidupan dan Perjuangan Kiai Yahya, Malang  2003.

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,7631-lang,id-c,fragmen-t,Keistimewaan+Pesantren+Jampes-.phpx