ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 03 Juli 2013

Liku-liku Berdirinya Gedung PBNU

========
Liku-liku Berdirinya Gedung PBNU
======================

Sebagaimana organisasi perintis lainnya NU mengalami perpindahan tempat berkali-kali dari Surabaya, ke Pasuruan Madiun, sebelum akhirnya nyampai di Jakarta. Ini merupakan karir dan pengalaman sendiri sebuah organisasi kaum santri yang mencoba mengembangkan perannya secara nasional. Di Jakarta sendiri kantor NU juga beberapa kali melakukan perpindahan, pertama kali di jalan Menteng Raya, di sebuah tempat yang dihadiahkan oleh pimpinan NU wilayah Jakarta, Djamaluddin Malik, baru kemudian pindah ke Kramat Raya yang menempati gedung berlantai delapan hingga saat ini.
Di lingkungan NU sendiri, tidak banyak orang yang mengetahui bahwa Kiai Muhammad Dahlan merupakan tokoh yang sangat berjasa dalam menyediakan dan menjaga kantor PBNU. Hal itu dilakukan jauh sebelum ia terpilih menjadi ketua Umum PBNU. Ketika Surabaya direbut Belanda akibat meletusnya perlawanan rakyat melawan penjajah pada 10 November 1945, Dahlanlah yang memindahkan kantor PBNU yang semula terletak di Jalan Bubutan, Surabaya ke jalan Pengadangan Nomor 3, Pasuruan.Saat terjadi Agresi Belanda I di tahun 1947  kantor PBNU dari Pasuruan di pindah lagi ke arah barat yang lebih aman yakni ke Jalan Dr. Sutomo Nomor 9 Madiun. Sialnya setahun kemudian, meletus pemberontakan PKI di Madiun pada September 1948 dan tiga bulan berikutnya disusul dengan Agresi Belanda II. Mengingat situasi yang tidak aman dan penuh ancaman itu maka kantor PBNU kembali pindah ke Surabaya.
Setelah menjadi politik besar pasca Pemilu 1955, aktivitas NU semakin padat, sehingga kantor lama tidak memadai lagi, karena itu pada akhir tahun 1956, selaku Sekjen PBNU KH. Saifuddin Zuhri merasa kantor yang ditempati PBNU di Jalan Menteng Raya Nomor 22, Jakarta sudah tidak memenuhi persyaratan lagi. Dalam suatu percakapan di sebuah rumah makan yang lebih tepat disebut warung di Jalan Raden Saleh, Jakarta, ia meminta bantuan Kiai Dahlan untuk mencarikan kantor baru yang cukup pantas ditempati PBNU. Ikut hadir dalam percakapan itu pengusaha kaya Djamaluddin Malik dan intelektual terkemuka Subchan ZE. Masa itu, warung di Jalan Raden Saleh tersebut merupakan tempat yang kerap dikunjungi keempat tokoh NU tersebut karena masakan sop, gulai dan sate kambingnya yang lezat.
Beberapa minggu kemudian, Dahlan berjumpa dengan KH. Saifuddin Zuhri dan menyampaikan bahwa ia telah berhasil mendapatkan gedung yang layak dijadikan kantor PBNU, terletak di Jalan Kramat Raya Nomor 164. Ketika melihat bangunan fisiknya, Saifuddin merasa kurang cocok dengan gedung itu, baginya gedung tersebut hanya layak digunakan sebagai toko, bukan potongan kantor sebuah partai yang mulai tumbuh besar. Namun Dahlan meyakinkan bahwa letak gedung itu cukup strategis dan harganya hanya Rp. 1.250.000,- yang dapat diangsur dalam dua kali pembayaran. Dahlan pun menyatakan bahwa sulit mencari gedung yang baik tetapi dengan harga yang dapat dijangkau PBNU. Perlu diketahui Jalan Kramat raya saat itu merupakan kawasan paling bergengsi, semua partai besar sejak dari PNI, NU, Masyumi PKI ada di kawasan itu, termasuk beberapa partai politik lain seperti Parkindo.
Walhasil Saifuddin dapat diyakinkan olehnya dan hingga kini setelah 45 tahun lebih berselang, gedung tersebut tetap dimanfaatkan sebagai kantor PBNU. Belakangan, Saifuddin Zuhri baru mengetahui dari Subchan ZE, bahwa salah satu alasan kuat mengapa pak Kiai Dahlan begitu gigih mengusahakan agar gedung di Kramat Raya 164 itu dijadikan kantor PBNU, karena letaknya yang hanya 300 - 400 meter saja dari warung yang kerap ia kunjungi dengan menu-menu khas seperti gulai kambing dan nasi kebuli.
Sebelum menempati gedung megah berlantai delapan di Jalan Kramat Raya 164, kantor PBNU juga sempat singgah selama dua tahun di Jalan Agus Salim, Jakarta Pusat, dari bulan Januari 2000 sampai dengan bulan November 2001. Segala aktivitas organisasi dijalankan digedung yang cukup refresentatif, sambil menunggu selesainya pembangunan gedung delapan lantai, kebanggaan warga NU ini. 

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,7638-lang,id-c,fragmen-t,Liku+liku+Berdirinya+Gedung+PBNU-.phpx