ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 03 Juli 2013

Perdebatan Menjelang Kelahiran Ansor(Muktamar NU Ke 14 Magelang)

=========
Perdebatan Menjelang Kelahiran Ansor
========================

(Muktamar NU Ke 14 Magelang)
Kalau selama ini sering terjadi perbedaan pendapan antara NU dengan Ansor, maka itu bisa dipahami bila dilihat proses kesejarahan organisasi pemuda NU itu di masa lalu. Dalam Muktamar NU ke-14 di Magelang pada tahun 1939 kelompok muda NU meminta persetujuan PBNU  terutama pada Muktamirin untuk mengesahkan berdirinya BANU (Barisan Ansor NU) sebagai sebuah organisasi pemuda militant dengan bentuk jeugdstorm atau jeugdbeweging yang sifatnya lebih dewasa dari sekedar kepanduan.
Walaupun greenlight belum secara formil diberikan oleh NU, akan tetapi sebagian kaum tua dalam NU telah merestui berdirinya BANU hingga hampir seluruh kota di Jawa telah berdiri dengan pesatnya. Mereka mengenakan pakaian seragam kemeja hijau dan celana putih dengan peci dan dasi berwarna hijau dengan lambang NU berwarna putih. Mereka berbaris dengan mengikuti alunan suara genderang dan terompet.

Ternyata tidak semua ulama dalam Muktamar ke-14 dapat menyetujui organisasi BANU sebagai sebuah jeugdbeweging yang sudah di luar batas apa yang mungkin bisa diizinkan. Ketika golongan pro dan kontra sudah sampai dipuncaknya, Kiai Wahab cepat naik ke podium. Diperingatkan bahwa pertikaian pendapat terjadi karena kedua pihak belum memahami aspirasinya masing-masing. Kedua pihak bertahan pada posisinya sendiri-sendiri. Diambil contoh oleh Kiai Wahab, ketika bala tentara Islam bertempur menghadapi tentara Parsi, orang-orang Islam dengan pasukan kuda, sedang orang Parsi menggunakan pasukan gajah. 
Akan tetapi karena kuda orang-orang Islam tidak pernah mengenal gajah, demikian halnya gajah-gajah orang Parsi sama sekali belum pernah makhluk yang bernama kuda, yang dikendarai orang Islam, maka kedua angkatan perang ini tidak pernah bisa bertempur, baru berhadap-hadapan saja masing-masing kuda dan gajah lari tunggang langgang. Melihat gelagat itu panglima pasukan Islam mempunyai sebuah gagasan, agar orang-orang Islam membeli gajah sebanyak-banyaknya, lalu dilatih berhari-hari supaya �hidup� rukun dengan kudanya masing-masing.
Ketika dipandang telah tiba waktunya, pasukan Islam menyerang tentara gajah Parsi. Kuda orang Islam yang telah mengenal gajah-gajah dengan mudah menggempur pasukan gajah orang Parsi, sebaliknya gajah orang Parsi yang tidak pernah bergaul dengan kuda tetap mempunyai ketakutan kepada kuda, hingga akhirnya mereka dengan mudah diserbu kuda orang-orang Islam. Kekalahan orang Parsi menurut Kiai Wahab antara lain karena gajah-gajah mereka tidak pernah ber-�komunikasi� dengan kuda, akibatnya mereka takut dan dapat ditaklukkan.

�Kita memerlukan gajah dan kuda sekaligus� kata  Kiai Wahab  �toh keduanya sama-sama makan rumput. Sebab itu kita kumpulkan mereka dalam satu kandang, yakni kandang Nahdlatul Ulama.�

Setelah mendengar argumen Kiai Wahab itu kontan saja para Muktamirin dengan suara bulat menyetujui  berdirinya BANU dengan uniform pakaian hijau putih, dengan genderang dan terompetnya. Jurang telah dijembatani. Kalangan Syuriyah merestui dan mendorong aktivitas BANU karena memahami aspirasi kaum muda yang disiapkan untuk mewaris kepemimpinan di masa datang, demikian pula anak-anak muda tetap mentaati kaidah-kaidah Syuriyah agar aspirasinya tetap diatas garis kebenaran, agar tidak hanyut dalam gelombang modernisasi asal sembarang modernisasi yang tidak karuan ujung pangkalnya. (MDZ)


(Dikutip dari Buku Saifuddin Zuhri, Kiai Wahab Hasbullah Bapak dan Pendiri NU, Pustaka Falakhiyah Yogya, 1983.)

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,7640-lang,id-c,fragmen-t,Perdebatan+Menjelang+Kelahiran+Ansor-.phpx