ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 03 Juli 2013

Pesantren Sebagai Lembaga Sosial

===========
Pesantren Sebagai Lembaga Sosial
============================

Kalau sekarang ini banyak pesantren yang dibangun sebagai sebuah korporasi atau perusahaan yang menjadi lahan bisnis untuk  pengumpulan harta, ini sangat bertentangan dengan misi dibangunnya pesantren pada mulanya. Pada masa lalu pesantren benar-benar menjadi lembaga pengabdian pada masyarakat, tidak hanya dengan jiwa, tenaga dan pikiran tetapi juga dengan harta, sebagaimana dicontohkan oleh Kiai Yahya di Pesantren Gading Malang, dan ini sangat lazim terjadi pada semua pesantren saat itu.
Para santri di pesantren Gading tidak dipungut biaya, terserah mereka mau infak atau tidak yang penting mereka bisa menjangkau belajar di pesantren, sehingga pengurus pesantren tidak memiliki uang kas yang tetap. Bahkan suatu ketika terkuras habis sama sekali, sehingga mereka mengadu pada penanggung jawan tertinggi pesantren yaitu sang kiai.
Maaf Kiai kas kita habis, sehingga kita tidak mampu membeli peralatan ngaji, membeli minyak untuk penerangan dan belanja yang lain, apa tidak sebaiknya ditarik iuran dari para santri, demikian usul lurah pesantren.
Jangan membebani santri dengan iuran apapun Jawab sang Kiai tegas kasihan mereka, jangan dibebani lagi, mereka mau belajar mengaji itu saja sudah sangat untung, karena itu kita harus meringankan beban mereka Kang. Mendengar jawaban itu para pengurus tidak bisa lain harus mengikuti kehendak sang kiai, dan tidak lama kemudian kiai malah mengasih uang pada pengurus pesantren agar tidak mencari ke tempat lain.
Para santri memang selalu mendapatkan beasiswa dari kiai, bebas iuran, malah mereka mendapatkan sedekah berbagai macam bahan makanan, bila ada santri pulang seringkali masih perlu membantu ongkos perjalanan. Selain itu juga membuka lahan perkebunannya untuk para santri menanam dan memetik sayur serta mencari kayu bakar untuk memasak. Karena itu kiai juga melarang santri masuk ke kebun orang lain karena itu termasuk ghasab, menjarah.
Itulah sebabnya pada zaman dulu tidak ada kiai yang mau membesarkan pesantrennya sebagai pendidikan massal, lantaran kiai selalu mengukur kemampuannya dalam mengasuh dan mendidik para santri, karena itu jumlahnya agak terbatas, sehingga santri mumpuni secara moral dan intelektual, selain itu juga mengukur kapasitas yang dimiliki untuk memfasilitasi santri, dalam hal kebutuhan makan dan sarana masak lainnya. Pada dasarnya memang kiai ingin menciptakan kehidupan santri yang berkualitas mandiri, dari ketergantungan pada para saudagar, dan penguasa kolonial. (MDZ)

Diolah dari buku Lentera kehidupan dan Perjuangan Kiai Yahya, Malang 2003. hal 30-31.
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,7629-lang,id-c,fragmen-t,Pesantren+Sebagai+Lembaga+Sosial-.phpx