ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Senin, 04 Maret 2013

Revolusi di Mata Seorang Anak

====================
Revolusi di Mata Seorang Anak
==========================

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Belanda datang lagi. “Ah, masa orang-orang tak bisa baca itu kalahkan kita,” mungkin begitu para penjajah ngomong-ngomong di geladak kapal sambil minum teh.
Kali ini, mereka dibonceng tentara Sekutu (sebelumnya kawan). Pecahlah revolusi fisik. Republik yang baru lahir ini tak rela kemerdekaannya direnggut kembali. Perlawanan dimana-mana.
Pada tahun 1946, Jakarta kota paling tidak aman untuk pusat pemerintahan. Yogayakarta jadi kota pilihan. Bung Karno dan Bung Hatta, sebagai presiden dan wakil, hijrah bersama sejumlah pejabat negara. Rombongan ini  menggunakan kereta api yang luar biasa. Hingga beberapa tahun ke depan, terjadi berbagi peristiwa bersejarah.
Seorang anak berusia 13 tahun turut merasakan pahit getirnya revolusi. Ia ikut hijrah meninggalkan tanah kelahirannya, Tanah Abang, Jakarta. Itu disebabkan ayahnya, KH Muhammad Djunaidi, seorang pegawai negeri. Oleh jawatannya, disediakan rumah di Solo. Di situlah mereka mengungsi.
Meski situasi sangat sulit, anak itu tetap meneruskan sekolah SD. Bangunan sekolah sama saja dengan rumah-rumah penduduk, yang membedakan keduanya hanyalah papan nama.
Selain di SD, ia harus belajar agama, di Madrasah Manbaul Ulum. Tapi justru di madrasah itulah anak kecil mendapat banyak asupan buku dari salah seorang gurunya, Kiai Amir. Di situlah --perlu penekanan di madrasah, bukan di sekolah-- ia bergaul dengan buku-buku sejarah dan satra.
Tak hanya itu, ia harus belajar nahwu dan sorof (gramatika bahasa Arab), juga menghapal kitab barzanji (biografi Nabi Muhammad). Dan ayahnya berencana mengirimnya ke sebuah pesantren di Lasem. Karena situasi darurat, niat itu urung. Akhirnya dibimbing secara ketat oleh ayahnya.
Anak itu memang berasal dari keluarga yang taat beragama. Neneknya, peceramah agama yang berkeliling dari satu majlis ke majlis lain. Ayahnya, tokoh NU yang ketika zaman Jepang melarang seikerei sampai 45 derajat.
Dari hari ke hari, anak itu menyimak revolusi fisik dari tahun 1946-1949.  berbagai peristiwa terjadi. Belanda datang lagi dibonceng tentara sekutu. Niat awal mereka adalah melucuti tentara Jepang yang kalah perang. Tapi kenyataannya mereka ingin berkuasa kembali.
Perlawanan terjadi dimana-mana. TKR terus bergerilya. Masyarakat sipil membentuk kesatuan laskar, misalnya Hizbullah yang dipimpin KH Zainul Arifin, Sabilillah pimpinan KH Masykur.
Di sisi lain, benaknya yang kecil, mulai tumbuh pertanyaan, kenapa situasi negeri ini demikian sengsara. Kemakmuran, kesuburan, alih-alih jadi kesenangan, malah berbuah kesengsaran. Hasil bumi dikeruk ratusan tahun. Keringat rakyat diperas kaya gombal yang sudah lama tak dicuci.
Lalu setelah merdeka diraih, kenapa ada perjanjian Linggarjati dan Renville?  Apakah pemimpin republik ini tidak belajar sejarah? Bukankah dari dulu Belanda pembual ulung? Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin mengecap getirnya.
Karena itulah ulama-ulama Nahdlatul Ulama menentukan sikapnya dengan tegas menolak perjanjian ini. Alasannya tidak benar mengadakan gencatan senjata dengan pihak musuh yang terang-terangan akan merebut kedaulatan negara.
Ulama-ulama itu berlandaskan dalil yang tertera dalam Al-Qur’an, “Janganlah Kamu memperlihatkan kelemahanmu, dan jangan pula Kamu ajak mereka (musuh-musuh kamu) untuk damai, padahal Kamu dalam menang (mampu) dan Allah senantiasa beserta kamu.”
Perjanjian itu adalah siasat Belanda.
Mereka terdesak dalam setiap peperangan dengan tentara dan rakyat yang kadung berjuang. Sejarah membuktikan, perjanjian Linggarjati digunakan Belanda semata-mata untuk mengumpulkan kekuatan. Setelah mereka merasa kuat, pada bulan Juli 1947, mereka melancarkan agresi militernya.
“Ada apa dengan perdana mentri Sutan Syahrir? Ada apa Amir Syarifuddin?”
Anak itu kembali bertanya. Bukankah TKR siap perang? Laskar Hizbullah dan Sabilillah, mengisi bambu runcingnya dengan tuah dari berkah kiai. Mereka lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai. Tapi pertanyaan itu hanya berputar-putar di benak kecilnya.
Di kemudian hari, anak ini menjadi penulis pilih tanding. Ia pendekar pena. Ia wartawan, kolumnis bernas dengan gaya humor. Ia penerjemah berbagai buku.
Salah satu bukunya pernah terbit 16 kali dalam dua tahun. Terjamahan lain, membuat ia dipenjara oleh pemerintahan Orde Baru. Ia menulis novel yang pernah mendapat penghargaan dari DKJ (1974). Ia menulis naskah drama. Ia juga politikus.
Tidak hanya itu, ia juga aktivis. Dia aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Gerakan Pemuda (GP) Ansor, ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dan menggenapkannya menjadi salah seorang ketua PBNU.
Ia mengagumi Soekarno, Pramudya Ananta Toer, lebih-lebih KH As’ad Syamsul Arifin. Ia pernah mengatakan bahwa Pancasila itu lebih hebat dari piagam PBB dan Manifesto Komunias.
Anak itu adalah porselen bagi keluarganya, NU dan bangsa Indonesia. Ia bernama Mahbub Djunaidi.

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,34307-lang,id-c,fragmen-t,Revolusi+di+Mata+Seorang+Anak-.phpx