ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 03 Juli 2013

Awal Konsolidasi Organisasi Organisasi

======
Awal Konsolidasi Organisasi Organisasi
======================

(Catatan Dari Muktamar NU Ke-5 Pekalongan 1930)
Begitu NU keluar dari habitat kelahirannya di Surabaya, dengan diselenggarakan Muktamar di Semarang tahun 1929, seolah perkembangannya tidak terbendung lagi. Banyak simpatisan yang berkeinginan mendukung perkembangan NU. Karena itu pada tahun berikutnya Kekuatan NU semakin menyebar, sehingga tidak aneh bila Muktamar ke-5 kemudian diselenggarakan di Hotel Araya Pekalongan, atas permintaan warga sana, yang berarti telah mampu menyediakan sarana dan dana besar untuk perhelatan Nasional itu. Bagi Pekalongan yang memiliki banyak pesantren dan juga tempat saudagar kaya, maka seluruh beaya penyelenggaraan Muktamar bisa ditanggung masyarakat sana.
Penyelenggaraan Muktamar di Pekalongan ini penting, tidak saja berarti telah membuka front baru NU di sebelah Barat, tetapi berbagai persoalan dan agenda penting dirumuskan di sana. Kalau selama ini  NU belum memiliki divisi yang jelas, maka Pada Muktamar ini pembagian tugas organisasi mulai dipertegas, dari situ kemudian dibentuk berbagai lembaga dan lajnah yang menangani berbagai tugas, ada yang menangani bidang umum, bidang dakwah, bidang pendidikan, bidang urusan luar negeri dan lain sebagainya.
Pada saat itu pendidikan memang menjadi isu penting, soalnya pendidikan kolonial sangat diskriminatif, maka saat itu ada usulan tentang penyelenggaraan pendidikan rakyat. Bahkan saat itu muncul kritik  adanya kecenderungan kalangan kiai yang hanya mengajar santrinya di pesantren, sementara mengabaikan masyarakat yang sangat membutuhkannya, maka para kiai disarankan untuk memperhatikannya. Guna merespon tuntuan rakyat, maka sat itu dilakukan langkah-langkah penerjemahan Al Quran, hadis dan beberapa kitab penting ke dalam bahasa Jawa.
Selain itu KH Hasyim Asy'ari juga mengadakan dialog dengan para saudagar setempat, yang dipimpin oleh H Ahmad Muhsin, yang membicarakan khusus soal pengembangan syirkah (koperasi), yang selama ini selalu mengalami hambatan dari bank-bank pemerintah kolonial. Padahal berkat para saudagar itulah Muktamar Nu bisa diselenggarakan dengan meriah walau tanpa bantuan pemerintah karena memang NU bersikap non kolaboratif dengan kolonial. Lagi pula bidang itu menarik perhatian Kiai Hasyim yang sejak lama merintis berdirinya Nahdlatut Tujjar, yang menjadi embrio bahkan kemudian menjadi tulang punggung perkembangan NU.
Dalam Muktamar Ke-5 ini juga diproklamirkan berdirinya Cabang luar jawa yaitu di Martapura Kalimantan Selatan. Dengan demikian perluasan pengaruh NU semakin kuat, belum lagi di kawasan pulau Jawa sendiri dukungan para Kiai kharismatik seperti Kiai Dimyati dari pesantren Termas Pacitan yang selama ini belum pernah hadir di Muktamar. Dukungan ini membuat semakin luasnya dukungan pesantren lain pada NU, terutama pesantren yang berorientasi ke Termas. Walhasil perkembangan NU sebagai pergerakan nasional menjadi semacam air bah yang tidak bisa dbendung baik oleh kekuatan kolonial atau kekuatan politik yang lain. 

sumber: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,7648-lang,id-c,fragmen-t,Awal+Konsolidasi+Organisasi+Organisasi-.phpx