ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 03 Juli 2013

Merindukan Kader Hibrida di NU (2)

==========
Merindukan Kader Hibrida di NU (2)
=============================
Kemunculan generasi pemikir di lingkungan NU tidak dapat dilepaskan dari peran intelektual Gus Dur selaku ketua umum PBNU selama lima belas tahun. Cendikiawan muda NU Ulil Abshar Abdallah menyebut Gus Dur sebagai pembuka jendela intelektual NU atas gebrakannya mengenalkan banyak pemikiran klasik dan moderen. Sejak Gus Dur itu, karya-karya Fazlurrahman (Pakistan), Muhammad Arkoun (Perancis) dan pemikir kontemporer lainya mulai memasuki pesantren secara seporadis. Tidak jarang "gus-gus" yang dahulu hanya mlototi kitab kuning, ketika itu mulai gemar membicarakan karya-karya pemikir kontemper tersebut.
Pada saat bersamaan, banyak pula pemuda NU yang terjun langsung dalam upaya-upaya advokasi masyarakat, pembelaan terhadap buruh, petani, pembinaan anak-anak jalanan, serta aktivitas-aktivitas lain yang bertujuan meningkatkan kesadaran dan kesejahteraan hidup umat. Mereka umumnya adalah pemuda yang lahir dari keluarga NU meski tidak sepenuhnya mendapat pendidikan pesantren, akan tetapi sebagian besar pernah di pesantren. Generasi aktivis ini lahir dari kampus dan disuburkan oleh ketertindasan NU oleh Orde Baru.
Aktivitas pembelaan masyarakat ini tak jarang menimbulkan konfrontasi dengan pihak penguasa. Gus Dur misalnya, bahkan harus meminta maaf kepada Soeharto (mantan presiden ke-2) berkenaan dengan pembelaannya terhadap penduduk Kedungombo, Jawa Tengah, yang tanahnya dibeli secara paksa untuk keperluan pembangunan waduk.
Sepanjang dekade 1970-80an, beberapa tokoh muda NU memang banyak terlibat dalam beberapa LSM seperti Lembaga Penelitian Pendidikan dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) dan P3M. Mereka ini di antaranya adalah Gus Dur (mantan presiden ke-4), Kiai Sahal Mahfudh (kini Syuriah NU), Abdullah Syarwani (kini Dubes RI di Syiria), Yusuf Hasjim, Zamroni, dan lain-lain. Selain itu, kebijakan politik rezim yang meminggirkan umat Islam terutama berkurangnya partisipasi NU dalam pemerintahan juga turut mempengaruhi peralihan gerakan tersebut.
Pada periode selanjutnya, negara memobilisasi rakyat dengan jargon 'pembangunanisme' (developmentalism) yang menjadi misi suci rezim Soeharto. Hal ini mengarahkan pemikiran agar tertuju ke sekitar masalah pembangunan beserta segala problem dan dampaknya bagi kehidupan. Akibat langsungnya berpengaruh terhadap debat seputar furu' (perbedaan antar umat Islam) dan kekuasaan, serta pemikiran yang legal-formal-tekstual ramai-ramai digugat dan dengan sendirinya kehilangan kesempatan. Sebaliknya, Isu-isu industrialisasi, universalisme, keadilan sosial tampak menonjol seiring dengan ide pembaharuan pemikiran Islam.
Demikian pula beberapa karakteristik yang berkembang, misalnya pola pemikiran kolektivisme menjadi individualisme (individual authinimy), keshalehan religius menjadi keshalehan sosial dengan titik tekan kepatuhan ritual menjadi liberasi pemikiran. Pada periode lampau kepentingan diarahkan pada umat secara partisipatif sedangkan generasi ini menekankan individu secara emansipatoris. Maka gerakan tersebut melahirkan poros pemikir Yogya, Jakarta dan Surabaya. Di Yogyakarta ditandai dengan LkiS, di Jakarta melalui Lakpesdam dan P3M dan di Surabaya kaum muda NU berkumpul di LSAD dengan memproduk jurnal Gerbang yang banyak mendapat pujian.
Kontong-kantong pemikir tersebut pada akhir 2003 menyatu dalam Muktamar Pemikiran Islam di NU yang berlangsung di PP Salafiyyah Sukorejo-Situbondo. Perhelatan akbar yang dikomandani oleh Masdar Farid Mas'udi, Ulil Abshar Abdallah dan Zuhairi Misrawi ini menuai sukses besar. Berbagai media nasional memberikan liputan besar terus menerus sepanjang pelaksanaan. Muhammad Fajrul Falah menggambarkan, saat ini tidak hanya es yang mudah dicari di setiap rumah warga NU, menu lainnya pun banyak tersedia. NU kini memiliki banyak cendikiawan, aktivis LSM, politisi, bahkan birokrat.
Kelahiran banyak ragam generasi terdidik tersebut diprediksi akan menghasilkan kultur hibrida [hybrid culture] dalam masyarakat NU. Kultur hibrida ini pada satu sisi memberontak terhadap apa yang dikenal sebagai kultur NU yang dianggap perlu direformasi, akan tetapi mereka tidak menolak sama sekali. Saat ini dunia sedang menunggu kelahiran kultur unggulan dari NU. Dari perkawinan antar generasi unggulan tersebut harapan besar terhadap masa depan NU dan masa depan bangsa digantungkan.

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,7626-lang,id-c,fragmen-t,Merindukan+Kader+Hibrida+di+NU++2+-.phpx