ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 03 Juli 2013

Debat Soal Sosialisme

============
Debat Soal Sosialisme
===================

Acara yang termasuk berat dan memakan waktu berminggu-minggu dibahas dalam DPA ialah masalah Sosialisme Indonesia. Acara ini bertalian erat dengan pasal 33 UUD 1945. Bahwa: Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. Bahwa cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk kemakmuran rakyat sebesar-besarnya.
Hampir semua anggota mengambil bagian dalam diskusi besar ini. Masing-masing berpangkal tolak dari ideologi serta aliran politik mereka. Bermacam-macam gaya yang digunakan dalam mengemukakan pikiran mereka. Ada gaya ulama, politisi, orator, agitator, prajurit, sastrawan, dan sebagainya. Bung Karno mengumumkan bahwa para pembicara diberi kebebasan untuk mengemukakan buah pikirannya, tanpa dibatasi waktu, tetapi supaya jangan ngelantur atau bertele-tele.
Prof. Mr. Jokosutono mendapat giliran berbicara. Sebagai seorang sarjana, gurubesar dan wakil kaum cendekiawan, tentu saja uraiannya sangat ilmiah. Dikupas segala macam sosialisme mulai dari sosialisme utopis, sosialisme demokrasi, komunisme, anarkisme, sindialisme, dan macam-macam lagi. Diungkapkan segala macam teori mulai dari Zeno dari aliran Stoa hingga Diderot, Godwin, Proudhon, Max Stirner maupun Bakunin. Tentu saja teori-teori menurut Robert Owen dan Karl Marx tidak luput dari ungkapannya.
Buat orang yang ingin menambah ilmu seperti aku, uraian Prof. Mr. Jokosutono memang bisa menarik. Uraiannya gamblang dan terus terang. Mana-mana yang bisa diterima dan mana-mana yang harus ditentang, diuraikan dengan penuh kesungguhan.
Mungkin sebagai seorang gurubesar yang biasa memberikan kuliah diberbagai fakultas dan akademi, maka sebagian besar anggota DPA merasa diperlakukan sebagai mahasiswa saja layaknya. Dan bagi tokoh-tokoh intelektual-politikus yang tergolong senior, uraian Prof. Mr. Jokosutono dianggap nglantur dan bukan tempatnya.

Sejak tadi aku melihat Bung Karno memegang-megang palunya. Dia hendak menghentikan pembicara, menunggu giliran dari pidatonya yang dianggap titik akhir. Namun Prof. Mr. Jokosutono belum mau mengakhiri pidatonya. Meluncur saja uraiannya dari balik perbendaharaan ilmunya, hingga tidak diketahui kapan akan berakhir.

Tok, tok, tok, kedengaran suara palu dipukulkan diatas meja.Bisakah diringkas dan disimpulkan? bertanya Bung Karno. Sedikit lagi saudara Ketua,jawab Prof. Mr. Jokosutono. Uraiannya diteruskan, masih panjang juga.
Saudara harus membatasi waktu! Bung Karno menyela sambil memukulkan palunya.
Wee lhaa, kalau tidak dijelaskan nanti kan tidak jelas, jawab Prof. Mr. Jokosutono.
Ya, tetapi saudara ngelantur! Bung Karno kelihatan menahan marah. Bukan ngelantur saudara Ketua! Ini ilmiah, harus diuraikan dengan jelas, jawab sang profesor.
Tetapi saudar a bersikap textbook-thinking, Bung Karno mulai merah mukanya. Lho, saya kan mahaguru, sarjana. Kalau tidak textbook-thinking kan ngawur namanya.
Bagaimana mahasiswa saya kalau mahagurunya ngawur? kata Prof. Mr. Jokosutono menatap wajah Bung Karno. Iya, tetapi teori yang saudara kemukakan dan pendapat sarjana yang saudara sitir itu banyak yang sudah out of date, ketinggalan zaman dan salah, seru Bung Karno dengan menahan geram.
Out of date menurut siapa? Salah menurut siapa? kata Prof. Mr. Jokosutono dengan sikap menantang.
Menurut saya! jawab Bung Karno mulai marah.
Soalnya saudara Ketua ini Presiden yang sedang berkuasa, bisa mengatakan orang lain salah.
Kalau saya ini Presiden, saya juga bisa katakana bahwa saudara salah! ucap Prof Mr. Jokosutono dengan gagah.
Itu bisa kita mengadu argumentasi bung! Bung Karno meradang sambil memukul-mukul palu di mejanya.
Saya protes saudara Ketua! teriak Rangkayo Rasuna Said yan gduduk satu deretan dengan Prof. Mr. Jokosutono. Saudara tidak boleh memimpin rapat dengan marah!
Saya tidak marah, jawab Bung Karno setengah berteriak dengan wajahnya yang sudah memerah.
Yaaa, tetapi muka saudara tampak marah, cemberut, seru Rasuna Said.
Sabar, sabar, sabar, serentak suara beberapa orang.
Laa ilaaha illallaaaah! seru Prof. Iwa Kusuma Sumantri. Ingat, ingat, ingat! serunya.
GGGGrrrrrr.!, semua tertawa.
Masyaaaaaa Allaaaaaaahh.., seru Bung Karno sambil ikut tertawa juga.
Urat-urat mulai pada kendor. Sebagian berteriak: Minum, minum!Saudara Jokosutono masih akan meneruskan kuliahnya? Bung Karno bertanya.
Bukan kuliah Paduka Yang Mulia Ketua, Cuma sekedar pendapat, jawab Prof. Mr. Jokosutono.
Lha iya, masih akan diteruskan?Sudah tidak saja, saudara Ketua, terima kasih, Prof. Mr. Jokosutono mengakhiri uraiannya lalu mengambil tempat duduk.
Saudara Ketua, boleh saya bicara sedikit? bertanya Kiai Abdulwahab Hasbullah sambil mengangkat jarinya. Duduknya di ujung meja panjang di sebelah Adam Malik.

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,7621-lang,id-c,fragmen-t,Debat+Soal+Sosialisme-.phpx