ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 03 Juli 2013

Indonesia Raya Vs Kamigayo

===========

Indonesia Raya Vs Kamigayo
===========================

Sebelum Jepang mendarat di Indonesia, tiap hari siaran radio Tokyo mendengungkan lagu Indonesia Raya dan menganjurkan rakyat Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih untuk menyambut kedatangan Balatentara Dai Nippon. Banyak orang yang percaya propaganda Nippon bahwa mereka akan membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Tentu saja Nippon tidak mengatakan: kedatangannya untuk menjadi penjajah baru. Rakyat merasa terkecoh oleh propaganda Nippon. Padahal propaganda itu masih baru beberapa hari didengungkan dan maklumat pemerintah balatentara Dai Nippon tanggal 7 Maret 1942 masih segar dalam ingatan. Bagaimana kita tidak tertegun?

Namun begitu pasukan penjajah itu datang, bendera merah putih tidak boleh dikibarkan. Sebagai gantinya, Hinomaru, bendera Nippon harus dikibarkan setiap hari pada kantor-kantor pemerintah dan sekolah-sekolah. Rakyat dilarang menyanyikan dan memperdengarkan lagu Indonesia Raya. Sebagai gantinya, Nippon mewajibkan lagu kebangsaan mereka, Kimigayo. Barisan propaganda Nippon, serdabu, membagi-bagikan buku pelajaran bahasa Nippon. Bagaimana tidak tertegun, bagaimana tidak tercengang-cengang?. Begitulah kesaksian KH Saifuddin Zuhri terhadap apa yang dilihat dan dialami.

Seumur-umur baru aku mengalami bahwa hitungan waktu bisa diubah. Sejak 22 April 1942 bilangan tahun yang biasa kita pergunakan diganti oleh Nippon untuk disamakan dengan bilangan tahun yang digunakan oleh bangsa Jepang. Sejak itu bilangan tahun 1942 diganti dengan tarikh Kokki atau juga disebut dengan tahun Samura menjadi tahun 2602. Menurut dongeng, Kaisar Jepang yang pertama bernama JIMMU TENNO bertakhta 660 tahun sebelum Masehi. Sebab itu hitungan tahun Nippon menjadi: tahun Masehi ditambah 660 (1942+660=2606).
Sistem perhitungan waktu juga diganti menjadi waktu Tokyo. Itu artinya: jam 07.00 (waktu Jakarta, kini WIB) menjadi jam 08.30 (dimajukan 1  jam). Semua ini termasuk sebagian dari tujuan Nippon datang ke Indonesia untuk memperbaiki nasib rakyat Indonesia- yang sebangsa dan seketurunan dengan bangsa Nippon (?). Bilangan tahunnya disamakan, system waktu (jamnya) disamakan, dan benderanya juga disamakan serta lagu kebangsaannya pun disamakan. Siapa yang percaya bahwa Nippon tidak mengganti kedudukan Belanda sebagai penjajah?

Berhari-hari aku melihat orang-orang Belanda dan orang-orang kulit putih lainnya ditangkapi Nippon, mereka dinaikkkan ke truk-truk, ada yang tak mengenakan baju, atau pakaiannya lusuh dan brewoknya tak dicukur. Mereka diangkut entah mau kemana, tentu saja ke tempat pemusatan pengasingan (concentratie kamp). Dibelakang hari aku menemukan catatan bahwa jumlah mereka (sebagai tawanan perang) sebanyak 66.219 orang Belanda, 10.636 orang Inggris, dan 883 orang Amerika. Teringatlah aku akan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an: Raja-raja itu jika memasuki suatu negeri (untuk mengalahkan), mereka menghancurkan negeri itu dan menjadikan orang-orang mulianya (yang terpandang) menjadi hina dina. Demikianlah mereka berbuat (Surat an Naml 34).

Sementara itu kaum wanitanya dikumpulkan di tempat lain untuk dilindungi Nippon (?).Sistem pendidikan ala Nippon mulai diterapkan untuk mengganti system pengajaran yang berlaku pada zaman Hindia Belanda. Sekolah-sekolah yang memberikan pelajaran bahasa Belanda dilarang. Dengan sendirinya sekolah dimana aku mengajar agama, Islamitisch Westerse School NU, ditutup. Para muridnya disalurkan ke madrasah-madrasah atau sekolah-sekolah rakyat. Guru-guru IWS-NU harus bisa mencari lapangan kerja lain.

Barisan Propaganda Balatentara Dai Nippon membagi-bagikan buku pelajaran bahsa Nippon. Menyusul orang-orang yang menggunakan kesempatan memperdagangkan buku-buku pelajaran Nipponggo, bahasa Nippon, dan bermunculan penerbit-penerbit buku itu seperti cendawan. Tapi aku tak bernafsu mempelajari bahasa Nippon itu, apalagi mempelajari huruf-hurufnya yang berjumlah ribuan dan amat ruwet itu. Semua partai politik dan ormas dilarang.
***
Disadur dari buku KH Saifuddin Zuhri, Berangkat Dari Pesantren, Gunung Agung, Jakarta

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,7617-lang,id-c,fragmen-t,Indonesia+Raya+Vs+Kamigayo-.phpx