ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 03 Juli 2013

Perdebatan Ulama NU - Muso

========
Perdebatan Ulama NU - Muso
===================

Jakarta, NU.Online
Tiba-tiba saja Muso muncul di Yogyakarta pada tanggal 12 Agustus 1948 di tengah-tengah massa FDR. Ia rebut pimpinan FDR dari tangan Mr. Amir Syarifuddin dengan lagak Julius Caesar tatkala menendang Portus di dekat Zela sambil menepuk dada: Vini, Vidi, Vici ' saya datang, saya lihat dan saya menang. Sejak itu FDR dilebur hanya sebagai PKI, Partai Komunis Idonesia, langsung dipimpin oleh Muso yang didampingi Mr. Amir Syarifuddin, Maruto Darusma, Tan Ling Djie, Abdulmajid dan Setiadjit. Alimin, tokoh kawakan PKI di-'kotak'-kan sebagai tokoh yang gagal. Sebagai kita ketahui, Alimin, Semaun, Darsono dan Muso adalah tokoh-tokoh PKI satu angkatan yang menjadi arsitek pemberontakan pada tahun 1926. Konon Muso diselamatkan oleh Van Der Plas ke luar negeri.
Ada sebuah kisah menarik tentang Muso, tokoh PKI yang terkenal berangasan, lekas marah dan senang berkelahi. Suatu ketika terlibat dalam perdebatan dengan Kiai Abdulwahab Hasbullah mengenai Tuhan. Sebagai seorang ateis, Muso tentu saja tidak mau percaya pada Tuhan. Perdebatan semakin seru dan kasar karena pembawaan Muso yang cepat naik darah. Beberapa orang menyaksikan perdebatan itu merasa cemas juga melihat Muso yang bersikap awut-awutan dan badannya jauh lebih kekar dan lebih tegap dibandingkan dengan Kiai Wahab yang berperawakan pendek dan kecil itu. Kiai Wahab mulai berpikir, tidak ada gunanya melanjutkan diskusi dengan 'orang jahil' macam Muso. Kiai Wahab bukannya gentar menghadapi tubuh Muso yang bagaikan beruang itu. Kiai Wahab terkenal sebagai pendekar pencak silat yang berpengalaman dikeroyok 3 atau 4 orang penyamun dalam perjalanan yang angker antara Makkah dan Madinah sekitar tahun 1920-1925, mengalahkan penyamun-penyamun yang tubuhnya lebih besar dan tegap melebihi Muso. Yang menjadi pikiran Kiai Wahab adalah berdiskusi mengadu hujjah mencari kebenaran. Karena Muso hanya mengandalkan 'otot dan cocot' (main jotos dan mulut besar) Kiai Wahab merasa tidak ada gunanya melayani orang jahil. Senjata manusia adalah akal pikiran dan akhlaq mulia, bukan kepalan tinju.
Haji Hasan Gipo, Presiden Tanfidziyah HBNU ketika itu, 1926, mengambil alih tempat Kiai Wahab dalam berdebat dengan Muso. Haji Hasan Gipo terkenal sebagai seorang tokoh yang serba bisa, bisa bermain menurut irama gendang, main halus, atau main kasar semua bisa dilayani.
Muso ditantang untuk bersama-sama Hasan Gipo menghampiri jalan kereta api Surabaya-Batavia di dekat Krian (antara Surabaya-Mojokerto) menantikan kereta api ekspres yang sedang berlari kencang. Begitu kereta api nongol dalam kecepatan tinggi, mereka berdua harus meletakkan batang leher mereka masing-masing diatas rel agar digilas lokomotif beserta seluruh rangkaian kereta api, hinga tubuh mereka masing-masing hancur berkeping-keping. Nah, dengan jalan demikian mereka akan memperoleh keyakinan 'ainul yaqin haqqul yaqin ' TENTANG ADANYA Allah Subhanahu wa Ta'ala!
Muso yang bertubuh kekar dan besar tetapi jiwanya kerdil itu tidak berani melayani ajakan Haji Hasan Gipo Presiden Hoofd Bestuur NU (Ketua Umum PBNU) yang bisa melayani Muso dalam debat cocot maupun 'otot' itu'!

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,7608-lang,id-c,fragmen-t,Perdebatan+Ulama+NU+++Muso-.phpx