ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Selasa, 19 November 2013

Sholat yang ternyata salah arah kiblatnya, wajibkah mengulangi?

===========

Sholat yang ternyata salah arah kiblatnya, wajibkah mengulangi?


Pertanyaan :
Assalamu'alaikum warohmatulloh
Yang terhormat yai, ustadz/dzah, serta jama'ah FK yang dirahmati Alloh, mohon penjelasan beberapa pertanyaan dibawah:
Diantara syarat sholat adalah menghdp qiblat, disana disebutkan 'ainul qiblat (menghadap ka'bah secara langsung), bukan jihatul qiblat (arah kiblat/ka'bah).

Pertanyaanya:
1. Sahkah sholat seorang yang bermadzhab syafi'i dengan menghadap arah qiblat?
2. Kalau tidak sah, apakah berkewajiban mengulangi sholatnya?

Karena hal ini banyak terjadi, yang mana masjid, musholla yang dibangun waktu itu pengqiblatanya hanya dgn kira" ( menghadap kebarat, keutara sedikit ). Setelah diadakan pengqiblatan ulang ternyata melenceng dri 'ain qiblat.

( Dari : Wong Kemlinthi )


Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Dalam Bughyatul Mustarsyidin, Sayyid Abdurrohman Al Masyhur menjelaskan :

"Pendapat yang unggul menyatakan bahwasanya diwajibkan menghadap 'ainul qiblat (ketika sholat), walaupun bagi orang yang berada diluar kota Mekah, sehingga wajib serong sedikit ketika shof (barisan) sholatnya panjang sekiranya diduga kuat (dhon) bahwa dirinya menghadap lurus ke kiblat ketika jaraknya jauh.

Pendapat ke dua menyatakan bahwa dianggap cukup menghadap jihatul qiblah, maksudnya arah dimana ka'bah itu berada, kebolehan menghadap arah kiblat ini bagi orang yang tempatnya jauh dari ka'bah. Pendapat ini adalah pendapat kuat yang dipilih oleh imam Al Ghozali, dan juga dishohihkan oleh imam Al Jurjani, Ibnu Kajin, dan Ibnu Abi 'Ishrun. Pendapat ini juga ditegaskan oleh Al Mahalli. Al Adzroi mengatakan bahwa sebagian ulama madzhab Syafii menuturkan bahwasanya pendapat kedua ini adalah Qoul Jadid (pendapat baru)nya imam Syafii.

Pendapat ini (pendapat kedua) adalah  pendapat yang dipilih oleh ulama dengan alasan bahwa bentuk ka'bah itu kecil yang tidak mungkin bagi penduduk bumi untuk bisa menghadap persis ke ka'bah, sehingga sudah dianggap cukup dengan menghadap arah kiblat saja. Dengan demikian sholatnya barisan yang panjang dan tempatnya jauh dari ka'bah hukumnya sah, padahal sudah jelas pasti sebagian makmum tidak menghadap persis ke ka'bah.

....jadi kalau jelas terjadi kesalahan, entah itu kekanan atau kirinya, apabila terjadinya setelah sholat yang dilakukan dengan cara ijtihad (dalam menghadap kiblat), maka sama sekali tidak berpengaruh (pada sah dan tidaknya sholat), baik terjadi ketika sholat atau sesudah sholat".

Dalam fiqih, dikenal satu kaedah yang berbunyi ;

الِاجْتِهَادُ لَا يُنْقَضُ بِالِاجْتِهَادِ

"Ijtihad itu tidak bisa dianulir (dibatalkan) dengan ijtihad yang lain"

Salah satu masalah fiqih yang termasuk dalam kaedah ini adalah apabila ada orang sholat yang ijtihad dalam hal menghadap kiblatnya berubah, maka yang digunakan adalah ijtihad yang kedua, namun sholat yang dikerjakan sebelumnya yang dikerjakan berdasarkan ijtihad yang pertama tetap sah dan tidak perlu diqodho'. Bahkan seumpama ada orang yang dalam empat roka'at sholat menghadap keempat arah, sholatnya sah dan tidak harus diqodho'.

Kesimpulannya, apabila sholat sebelumnya dilakukan dengan ijtihad (usaha) untuk menghadap kiblat, maka ketika terbukti bahwa kiblatnya salah, sholat yang dilakukan sebelumnya tetap sah, dan tidak perlu diqodho' (diulangi). Wallohu a'lam.

( Dijawab oleh : Farid Muzakki, Rifqi Muhammad Syafiqul Umam, Kudung Khantil Harsandi Muhammad dan Siroj Munir )


Referensi :
1. Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 78
2. Al-Asybah Wan-Nadho'ir, Hal : 101


Ibarot :
Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 78

مسألة ك : الراجح أنه لا بد من استقبال عين القبلة ، ولو لمن هو خارج مكة فلا بد من انحراف يسير مع طول الصف ، بحيث يرى نفسه مسامتاً لها ظناً مع البعد ، والقول الثاني يكفي استقبال الجهة ، أي إحدى الجهات الأربع التي فيها الكعبة لمن بعد عنها وهو قويّ ، اختاره الغزالي وصححه الجرجاني وابن كج وابن أبي عصرون ، وجزم به المحلي ، قال الأذرعي : وذكر بعض الأصحاب أنه الجديد وهو المختار لأن جرمها صغير يستحيل أن يتوجه إليه أهل الدنيا فيكتفى بالجهة ، ولهذا صحت صلاة الصف الطويل إذا بعدوا عن الكعبة ، ومعلوم أن بعضهم خارجون من محاذاة العين ، وهذا القول يوافق المنقول عن أبي حنيفة وهو أن المشرق قبلة أهل المغرب وبالعكس ، والجنوب قبلة أهل الشمال وبالعكس ، وعن مالك أن الكعبة قبلة أهل المسجد ، والمسجد قبلة أهل مكة ، ومكة قبلة أهل الحرم ، والحرم قبلة أهل الدنيا ، هذا والتحقيق أنه لا فرق بين القولين ، إذ التفصيل الواقع في القول بالجهة واقع في القول بالعين إلا في صورة يبعد وقوعها ، وهي أنه لو ظهر الخطأ في التيامن والتياسر ، فإن كان ظهوره بالاجتهاد لم يؤثر قطعاً ، سواء كان بعد الصلاة أو فيها

Al-Asybah Wan-Nadho'ir, Hal : 101


القاعدة الأولى الاجتهاد لا ينقض بالاجتهاد
الأصل في ذلك إجماع الصحابة رضي الله عنهم نقله ابن الصباغ وأن أبا بكر حكم في مسائل خالفه عمر فيها ولم ينقض حكمه، وحكم عمر في المشركة بعدم المشاركة ثم بالمشاركة وقال ذلك على ما قضينا وهذا على ما قضينا، وقضى في الجد قضايا مختلفة. وعلته أنه ليس الاجتهاد الثاني بأقوى من الأول فإنه يؤدي إلى أنه لا يستقر حكم وفي ذلك مشقة شديدة فإنه إذا نقض هذا الحكم نقض ذلك النقض وهلم جرا
ومن فروع ذلك: لو تغير اجتهاده في القبلة عمل بالثاني ولا قضاء حتى لو صلى أربع ركعات لأربع جهات بالاجتهاد فلا قضاء
 
SUMBER:http://www.fikihkontemporer.com/2013/01/sholat-yang-ternyata-salah-arah.html