ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Sabtu, 16 November 2013

Penggunaan Alat Pengeras Suara Ketika Adzan, Sholat Jama'ah, Khutbah,dl. Bid’ahkah ? - Fatwa Syeikh Isma'il Utsman Zain Al-Yamani

=========

Penggunaan Alat Pengeras Suara Ketika Adzan, Sholat Jama'ah, Khutbah,dl. Bid’ahkah ? - Fatwa Syeikh Isma'il Utsman Zain Al-Yamani



Bismillahirrohmanirrohim
Segala puji bagi Alloh yang telah menetapkan beberapa hukum bagi kita, dan telah menjelaskan mana yang halal dan mana yang haram.
Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad pemimpin umat manusia yang telah bersabda;

مَنْ يُرِدِ الله بِهِ خَيْراً يُفَقّهْهُ في الدّين

"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan kepadanya maka Alloh akan memberikan pemahaman agama kepadanya".

Sholawat serta salam semoga terlimpahkan pula kepada keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka (tabi'in) dalam menapaki jalan lurus.

Amma ba'du,
Orang yang sangat mengharap pengampunan Alloh, Isma'il Utsman Zain Al-Yamani Al-Makki Asy-Syafi'i -semoga Alloh senantiasa mengasihinya- berkata;

Sebagian orang bertanya tentang hukum menggunakan alat pengeras suara saat adzan, sholat jama'ah, sholat jum'at, khutbah sholat jum'at, dan hal-hal lain yang dianjurkan untuk mengeraskan bacaan dan disengar oleh orang lain, sebab sebagian orang yang menganggap dirinya seorang 'alim mengatakan bahwa hal tersebut tidak diperbolehkan dan menyatakannya sebagai perbuatan bid'ah.

Aku berkata; Ketahuilah bahwasanya setiap permasalahan yang sedang terjadi atau akan terjadi hingga hari kiamat nanti ada hukumnya dalam syari'at kita yang sangat jelas. Baik hal tersebut terdapat dalam nash atau dengan penggalian hukum yang dilakukan oleh ulama' ahli fiqih yang mengerti dan sudah diakui kebaikannya yang sempurna, dan diakui oleh orang-orang yang pandai dan memiliki keutamaan dalam berpikir. Mereka itu adalah orang-orang yang disebutkan dalam firman Alloh;

وَمَا يَعْقِلُهَا إِلاَّ الْعَالِمُونَ

“ dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-‘Ankabut : 43)

dan firman Alloh;

وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ

“dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri  di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri) (QS. An-Nisa’ : 83)

Selain itu sebagian dari qoidah-qoidah yang telah ditetapkan dan sudah dikenal dikalangan ahli ilmu terutama dikalangan madzhab syafi'i -semoga Alloh merahmati beliau dan para pengikutnya-  adalah; "Lil Wasa'il Hukmul Maqoshid" (Semua perantara memiliki hukum sebagaimana tujuannya). Qoidah ini mencakup kelima hukum islam tergantung dari tujuannya, jadi apabila yang dituju adalah perkara yang wajib maka perantara kepada perkara tersebut hukumnya juga wajib, apabila yang dituju adalah perkara yang sunat maka perantara kepada perkara tersebut hukumnya juga sunat, apabila yang dituju adalah perkara yang haram maka perantara kepada perkara tersebut hukumnya juga haram, apabila yang dituju adalah perkara yang makruh maka perantara kepada perkara tersebut hukumnya juga makruh, dan apabila yang dituju adalah perkara yang wajib maka perantara kepada perkara tersebut hukumnya juga makruh.

Sebagian contohnya adalah kewajiban bagi khotib untuk memperderngarkan rukun khutbahnya kepada 40 jama'ah sholat jum'at, karena itu apabilahal tersebut tak bisa terlaksana kecuali dengan menggunakan pengeras suara maka penggiunaan pengeras suara tersebut hukumnya adalah wajib, sebab sesuatu yang dapat menyempurnakan perkara yang wajib juga dihukumi wajib, sedangkan apabila hal tersebut sudah bisa terlaksana dengan tanpa menggunakan pengeras suara maka penggunaan pengeras suara tersebut hukumnya sunatuntuk menambahkan faedah (pembacaan khutbah) dan kesempurnaan tujuannya (tujuan khutbah agar bisa didengar semua jama'ah yang hadir).

Begitu pula pemilik syari'at yang bijaksana menganjurkan untuk mengeraskan suara ketika adzandan mennyampaikan suaranya sampai jauh dan menganjurkan untuk menempati tempat yang tinggi seperti menara. Selain itu sianjurkan juga untuk meletakkan 2 jari telunjuk pada kedua telinga dengan tujuan agar suara yang dihasilkan bisa didengar dari jarak yang jauh. Berdasarkan itu semua maka penggunaan pengeras suara ketika adzan hukumya sunat sebab penggunaan alat tersebut dapat membantu agar suara adzan yang dikumandangkan bisa terdengar sampai jauh. 

Disini kami akan sedikit mengemukakan pernyataan para fuqoha' dari kalangan madzhab syafi'i dalam kitab-kitab matan dan syarah mereka yang menunjukkan bahwa mengeraskan suara agar bisa didengar sampai jauh itu dianjurkan dengan tujuan agar menambah penyampaian;

1. Dalam kitab Mughil Muhtaj, jilid 1, halaman 128 dijelaskan;

"Pelaksanaan adzan disunatkan untuk dilakukan oleh orang yang  suaranya paling tinggi. Hal ini didasarkan pada sabda rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan Abdullaoh bin Zaid;

أَلْقِهِ عَلَى بِلاَلٍ فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا

"Ajarkanlah kepada Bilal karena sesungguhnya dia lebih kencang suaranya daripada kamu." (Sunan Abu Dawud, no.512, Sunan Baihaqi, no.1873. Hadits ini dishohihkan Ibnu Hibban).

Pada halaman 127 diterangkan;

"Disunatkan untuk mengerjakan adzan ditempat yang tinggi seperti menara atau diatas atap, berdasarkan hadits dalam shohih bukhori dan shohih muslim;

كَانَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُؤَذِّنَانِ بِلَالٌ وَابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ ، وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا إِلَّا أَنْ يَنْزِلَ هَذَا وَيَرْقَى هَذَا

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mempunyai dua orang muadzin, yaitu Bilal dan Ibnu Ummi Maktum. Dan tidak ada jarak antara keduanya, kecuali waktu Bilal turun (dari sini) dan Ibnu Ummi Maktum naik dari sini " (Shohih Muslim, no.1092)

2. Dalam kitab Fathul Jawad, Juz 1, halaman 104

"Dan dianjurkan untuk mengeraskan suaranya dengan sangat asalkan tidak sampai memayahkan dirinya, sebab rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untyuk mengeraskan suara. Beliau juga menjelaskan alasan (illat) dari perintah itu, yaitu bahwa manusia dan jin yang mendengar suara adzan tersebut kelak akan memberikan saksi pada hari kiamat".

3. Penjelasan dalam kitab Syarah Al-Muhadzdzab yang diberi nama "Al-Majmu'" karya Imam Nawawi rahimahullah;

"Kedua: Dsisunatkan untuk adzan ditempat yang tinggi, seperti menara atau tempat lainnya, dan hal ini sudah disepakati oleh ulama'. Ashab kita (ashab madzhab syafi'i) mendasarkan kesunatan ini pada dalil yang dikemukakan oleh mushonnif (maksudnya pengarang kitab Muhadzdzab, yaitu Imam Al-Shirozi) dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata;

كَانَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُؤَذِّنَانِ بِلَالٌ وَابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ الْأَعْمَى، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ» قَالَ: وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا إِلَّا أَنْ يَنْزِلَ هَذَا وَيَرْقَى هَذَا

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mempunyai dua orang mudzin, yaitu Bilal dan Ibnu Ummi Maktum yang buta. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Sesungguhnya Bilal itu adzan di malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan." Dan tidaklah jarak antara keduanya, kecuali waktu Bilal turun (dari sini) dan Ibnu Ummi Maktum naik dari sini".(Shohih Muslim, no.1092)

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari riwayat Ibnu Umar dan Aisyah, sedangkan yang dipakai diatas adalah redaksi Imam Muslim.

Kesunatan tersebut juga didasarkan pada hadits yang diriwayatkan Urwah bin Az-Zubair dari seorang wanita dari Bani Najar, ia berkata;

كَانَ بَيْتِي مِنْ أَطْوَلِ بَيْتٍ حَوْلَ الْمَسْجِدِ وَكَانَ بِلَالٌ يُؤَذِّنُ عَلَيْهِ الْفَجْرَ

"Rumahku adalah rumah yang paling tinggi di antara rumah-rumah yang lain di sekitar Masjid, dan Bilal mengumandangkan adzan subuh di atasnya" (Sunan Abu Dawud, no.519)

Dan kini alat pengeras suara sudah dianggap mencukupi dan tak perlu lagi naik ketempat yang tinggi seperti menara atau tempat semisalnya, hal tersebut sudah sangat jelas dan hal tersebut adalah suatu kesunatan yang tak diragukan lagi.

Kesimpulan akhir dari semua yang telah kami paparkan dalam lembaran-lembaran ini adalah bahwa penggunaan alat pengeras suara ketika adzan dan hal-hal lain yang dianjurkan untuk mengeraskan bacaan adalah merupakan perbuatan yang terpuji secara syari'at, dan inilah pendapat yang benar.

Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk kita pada jalan yang lurus. Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan pada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga beliau dan para sahabatnya, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي شرع لنا الأحكام، وبيّن الحلال من الحرام. والصلاة والسلام على سيدنا محمد سيد الأنام القائل: {مَنْ يُرِدِ الله بِهِ خَيْراً يُفَقّهْهُ في الدّين}. وعلى آله وصحبه والتابعين لهم على النهج القويم والطريق المستقيم

أما بعد: فيقول الفقير إلى عفو الله تعالى إسماعيل عثمان زين اليمني المكي الشافعي، لطف الله به: سألني بعض المحبين عن حكم مكبّرات الصوت أثناء الأذان وصلاة الجماعة والجمعة وخطبتيها وغير ذلك مما يطلب فيه الجهر وإسماع الغير، لأن بعض من يدعي العلم يرى أن ذلك لا يجوز، لأنه بدعة

فأقول وبالله التوفيق: إعلم أنه ما من موضوع كائن أو يكون إلى يوم الدين إلا وله حكم في شرعنا المبين، سواء كان نصا أو استنباطا يستنبطه الفقهاء العارفون المشهود لهم بالخيرية الكاملة، ويعرفه العلماء الأذكياء، ذوو الألباب الفاضلة الذين قال الله تعالى فيهم: وَمَا يَعْقِلُهَا إِلاَّ الْعَالِمُونَ. وقال فيهم:  وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ

ثم إن من القواعد المقررة المشهورة بين أهل العلم، خصوصا في مذهب إمامنا الشافعي رحمه الله تعالى وأصحابه رضوان الله عليهم أن للوسائل حكم المقاصد. وهذه القاعدة تدخلها الأحكام الخمسة بحسب المقاصد، فمتى كان المقصد واجبا فالوسيلة إليه واجبة، ومتى كان مندوبا فالوسيلة إليه مندوبة، ومتى كان حراما فالوسيلة إليه محرمة، ومتى كان مكروها فالوسيلة إليه مكروهة، ومتى كان مباحا فالوسيلة إليه مباحة

فمن أمثلة ذلك أنه يجب على الخطيب إسماع أربعين من أهل الجمعة أركان الخطبة، فإذا لم يتأتّ ذلك إلا باستعمال المكبر كان استعماله واجبا، لأن ما ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب، وإن تأتى بدون ذلك فاستعماله حينئذٍ مندوب لمزيد الفائدة وتمام الغَرَض

وإذا كان الشارع الحكيم قد طلب في الأذان رفع الصوت وإبلاغه إلى مدى بعيد ونَدَب الوقوفَ على مكان عالٍ كالمنارة مثلا وندب وضع السبابتين في الأذنين لأنه أندى وأبعد للصوت، فيكون استعمال المكبر فيه مندوبا، لأنه مما يستعان به على إبلاغ صوت المؤذن إلى مدى بعيد
 
وقد بينت السنة النبوية الشريفة فوائد ذلك، وإن منها أنه لا يبلغ مدى صوت المؤذن شيئا، جِنًّا أو إنسا، حيوانا أو جمادا إلا شهد له يوم القيامة كما سيأتى. ومن الفوائد أيضا أن الشيطان يشرد ويهرب عند سماع الأذان فكلما كان المدى بعيدا كانت الفائدة أكثر

ولا ينبغى الإغترار بما يقوم به الآن بعض من يدعى العلم من الإنكار على بعض الأمور التي لها دَخَلٌ في أحكام الدين، ولها به إتصالٌ قويٌّ متين مدّعيا أن ذلك بدعة، لأنه ليس من فعل السلف. وهؤلاء الكثير منهم يلهجون بلفظ السلف ولا يعرفون من هم المستحقون لهذا الوصف، ويلهجون بالدليل وهم لا يعرفون كيفية الإستدلال به، ولا يحسنون الإستفادة من معناه، ولا يعلمون أن الأخذ بالدليل يحتاج إلى أهل لذلك، بحيث يعرفون الصالح للإستدلال وغير الصالح، يعرفون هل هو صحيح أو حسن، ثم يعرفون هل هو محكم أم منسوخ، ثم يعرفون عام أو خاص. وإذا كان عاما ينظرون هل له مخصص أم لا، ويعرفون هو مطلق أم مقيّد، ويعرفون هل هو مما أطبق أهل العلم على العمل بمقتضاه، وإلا فهو شاذ متروك ولو كان في أعلى درجة الصحة

وهاك نصَّ الإمام الشافعي رحمه الله تعالى، وهو من فضلاء السلف وخيارهم. قال رحمه الله تعالى: كل ما له مستند من الشرع فليس ببدعة ولو لم يعمل به السلف، لأن تركهم للعمل به قد يكون لعذر قام لهم في الوقت، أو لما هو أفضل منه، أو لعله لم يبلغ جميعهم علمٌ به انتهى

فهكذا يكون جواب أهل العلم والإتصاف. ولا عبرة بأهل الجهل والجراءة والإعتساف وإن كثروا، فقد جاء في الأحاديث الصحيحة ـأنه في آخر الزمان يقل العلم ويكثر الجهل، وقد أصبح الكثير الآن يدعى العلم وليس له من عُدّةٍ سوى الجراءة والتمسك بالشواذ والإستدلال بما لا يعرف المقصود منه أو بالنفي للدليل ولا يدرى هذا المسكين أن عدم دليل الفعل ليس دليلا للمنع. فأمثال هؤلاء يعتبر الواحد منهم شخصيةً مؤذيةً وفتنةً تمشى على رجلين آخذٌ بالشاذّ من القول أو بالقول المهجور فَقَاهَتُهُ بالتشهّى ودعواه بلا برهان. والله المستعان

ولنذكر هنا نبذة يسيرة من كلام الفقهاء الشافعية في متونهم وشروحهم الدال على طلب زيادة مدى الصوت لزيادة الإبلاغ

ففي مغنى المحتاج الجزء الأول صفحة 128: "ويسن للأذان مؤذن حر لأنه أكمل من غيره صيِّتٌ أي عالى الصوت لقوله صلى الله عليه وسلم في خبر عبد الله بن زيد {أَلْقِهِ عَلَى بِلاَلٍ فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا} أي أبعد ولزيادة الإبلاغ" انتهى

وفي صغحة 127: "ويسن أن يؤذن على موضع عال كمنارة وسطح لخبر الصحيحين: {كَانَ لِرَسُولِ اللّهِ صلى الله عليه وسلم مُؤَذّنَانِ: بِلاَلٌ وَابْنُ أُمّ مَكْتُومٍ، وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا إِلا أَنْ يَنْزِلَ هَذَا وَيَرْقَىَ هَذَا}، ولزيادة الإعلام" انتهى

وفي فتح الجواد الجزء الأول صفحة 104: "ويبالغ في الجهر مالم يُجْهِدْ نفسَهُ، لأمره صلى الله عليه وسلم برفع الصوت، وعلله بأنه لا يسمع مدى صوت المؤذن جنٌّ ولا إنسٌ إلا شهد له يوم القيامة" انتهى

وعبارة شرح المهذب المسمى بالمجموع للإمام النووي رحمه الله تعالى: "الثانية يستحب أن يؤذن على موضع عال، من منارة  أو غيرها. وهذا لا خلاف فيه، واحتج له الأصحاب بما ذكر المصنف، وبحديث ابن عمر رضي الله عنهما قال: {كَانَ لِرَسُولِ اللّهِ صلى الله عليه وسلم مُؤَذّنَانِ: بِلاَلٌ وَابْنُ أُمّ مَكْتُومٍ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُوْمٍ، قَالَ: وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا إِلا أَنْ يَنْزِلَ هَذَا وَيَرْقَىَ هَذَا} رواه البخاري ومسلم من رواية ابن عمر وعائشة، وهذا لفظ مسلم. وعن عروة بن الزبير عن إمرأة من بني النجار قالت: {كانَ بَيْتِيْ أَطْوَلَ بَيْتٍ حَوْلَ المَسْجِدِ، فَكَانَ بِلاَلٌ يُؤَذِّنُ عَلَيْهِ الفَجْرَ} رواه أبو داود

وقد صارت آلة مكبرات الصوت مُغْنِيَةً عن الصعود على موضع عالٍ كالمنارة وأشباهها، وذلك ظاهر بلا خفاء ومستحب بلا مراء

والحاصل من جميع ما ذكرناه ونقلناه في هذه الوريقات أن استعمال مكبّرات الصوت في الأذان وغيره مما يطلب فيه الجهر أمرٌ محمودٌ شرعًا، وهذا هو الحق والصواب

والله الهادى إلى سواء السبيل. وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا. والحمد لله رب العالمين
 
sumber:http://www.fikihkontemporer.com/2013/07/penggunaan-alat-pengeras-suara-ketika.html