ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Minggu, 03 November 2013

Thoriqotul Husul dan Tradisi Menulis Kitab Berbahasa Arab

==========
Thoriqotul Husul dan Tradisi Menulis Kitab Berbahasa Arab
======================
Kitab Thoriqotul Husul karya KH Sahal Mahfudh barangkali bukanlah termasuk salah satu dari 100-an kitab berbahasa Arab yang karya ulama Nusantara yang dikoleksi oleh peneliti kitab kuning asal Belanda Martin van Bruinessen pada tahun 1990-an. Kitab setebal lebih dari 500 halaman di bidang usul fiqih ini baru dicetak secara terbatas pada tahun 2001.
Tradisi menulis dalam bahasa Arab tidak berakhir sampai awal abad ke-20, atau era perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, namun terus berlanjut, bahkan hingga sekarang. Berbeda dengan kalangan modernis atau reformis yang lebih senang menulis dalam bahasa Indonesia, bagi kalangan pesantren karya-karya berbahasa Arab mempunyai point tersendiri. (Meskipun karya kiai pesantren yang ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah jauh lebih banyak dari karya berbahasa Arab)
Namun kitab berbahasa Arab yang ditulis oleh para kiai, termasuk yang berupa nadzam (syair-syair bahasa Arab) memang tidak sengaja ditulis untuk disebarkan ke pesantren-pesantren lain, menjadi bahan kajian atau mata pelajaran di pesantren. Kitab-kitab itu lebih merupakan kreatifitas kiai bersangkutan dan disimpan sendiri atau dipresentasikan untuk kalangan terbatas. Ini menjadi salah satu jawaban dari pertanyaan yang disampaikan di awal Seri Kajian Kitab Kuning NU Online tentang mengapa karya ulama Indonesia tidak dikaji di pesantren-pesantren.
Kitab Thoriqotul Husul (Jalan Menuju Sukses: red) yang menjadi pokok pembicaraan kali ini ditulis oleh KH Sahal Mahfudh hanya sebagai semacam diktat untuk mengajarkan kitab Ghoyatul Wushul karya ulama Syafiiyyah abad ke-9 H Abu Zakariya Al-Anshori, bukan untuk diterbitkan dan diedarkan di pasaran. Dalam pengantar kitab itu disebutkan, pada sekitar tahun 1380 H (tahun 1960-an) Kiai Sahal (lahir 1937) diminta mengajarkan Ghoyatul Wushul saat beliau masih nyantri di pondok pesantren yang diasuh oleh Kiai Zubair bin Dahlan (ayah KH Maimun Zubair) di Sarang Jawa Tengah. Di tahun itu juga Kiai Sahal menuliskan khasyiyah atau penjelasan atas kitab Ghoyatul Wushul.
Yang menarik dicatat, selain kitab Thoriqotul Husul itu, ada lagi khasyiyah atau penjelasan atas kitab Ghoyatul Wushul sebelumnya yang juga ditulis oleh ulama Indonesia, KH Muhammad Mahfud (wafat 1919) dari Termas Jawa Timur yang diberi judul “Nailul Ma’mul”. Karya dari guru Rais Akbar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari ini juga banyak dikutip oleh Kiai Sahal dalam Thoriqotul Husul. Kitab Nailul Ma’mul itu juga tidak diterbitkan dan beredar luas di kalangan pesantren sampai saat ini. Namun keberadaan Nailul Ma’mul yang dirujuk oleh Kiai Sahal dalam menuliskan Thoriqotul Husul cukup menunjukkan bahwa komunikasi ilmiah antara ulama Indonesia dari generasi ke generasi terjalin melalui kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab dan beredar secara terbatas.
Tradisi menulis dalam bahasa Arab dimulai setelah banyaknya ulama Indonesia yang menimba Ilmu dan bertemu dengan banyak ulama dari berbagai penjuru dunia di tanah suci Makkah, meski tidak semua kiai yang menulis dalam bahasa Arab itu belajar berlama-lama di Makkah. Kiai Sahal sendiri hanya berada di Mekkah selama 2-3 bulan. Di sana, ia bertemu dengan Syekh Yasin bin Isa dari Padang yang memberikan ijazah banyak sekali kitab berbahasa Arab dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Ijazah –yang diperoleh setelah Kiai Sahal berkomunikasi intens dengan Syekh Yasin melalui surat-- merupakan satu pernyataan syah bahwa Kiai Sahal telah berhak membaca dan mengamalkan berbagai kitab berbahasa Arab itu dengan bermodal ilmu yang telah dipelajarinya dari pesantren ke pesantren di Indonesia.
Tradisi menulis dalam bahasa Arab itu dilanjutkan oleh para ulama Indonesia di banyak pesantren. Khazahan bahasa Arab sudah akrab di lingkungan pesantren. Kiai Ihsan bin Dahlan Jampes Kediri yang menulis kitab fenomenal di bidang tasawuf yang dikaji di banyak negara muslim Sirojut Thalibin (tahun 1940-an), serta Manahijul Imdad di bidang fiqih (baru diterbitkan 2005) dan banyak kitab berbahasa Arab itu juga hanya belajar di pesantren, dan tidak mengenyam pendidikan resminya di Timur Tengah. 
 
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,47956-lang,id-c,nasional-t,Thoriqotul+Husul+dan+Tradisi+Menulis+Kitab+Berbahasa+Arab-.phpx