ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Sabtu, 16 November 2013

Hukum cairan keputihan dan ketentuan - ketentuan bagi wanita yang mengalami keputihan

======

Hukum cairan keputihan dan ketentuan - ketentuan bagi wanita yang mengalami keputihan



Pertanyaan:
Ada yang tau tentang wanita keputihan, sebenarnya keputihan itu apa bagaimana hukumnya ? Mohon pencerahannya..

( Dari : Alem Roso Roso Lorewodho )


Jawaban :
Keputihan adalah getah atau cairan yang keluar dari vagina,  yang ditimbulkan oleh jamur. Dalam ilmu Kedokteran disebut jamur candida. Kelembaban dan kehangatan vagina, merupakan lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan dan berkembang biaknya jamur. Getah atau cairan yang ditimbulkan keputihan berwarna putih, kental, keruh dan     kekuning-kuningan. Biasanya rasanya gatal, membuat vagina meradang dan luka.

Penyebab timbulnya keputihan di antaranya:
a.Menopause, yaitu masa yang sudah tidak keluar haidl, sebab dengan aktif keluar haidl, ada cairan yang selalu membasahi dinding vagina dan mempertahankan vagina tetap segar dan sehat.
b.Pil penghambat atau penyubur kehamilan. Hal ini disebabkan, pil tersebut mempunyai efek mengurangi ketahanan pelindung vagina dari infeksi jamur.
c.Efek dari kontrasepsi dari rahim.
d.Stres.
 e.Celana yang terbuat dari nilon.
f.Celana ketat.
g.Sabun bubuk pembersih.

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa keputihan dalam fiqih dikategorikan sebagai “ruthubatul farji” (cairan basah vagina). Sedangkan hukum dari keputihan diperinci sebagai berikut :

1. Apabila cairan tersebut keluar dari luar farji (bagian vagina  yang nampak ketika jongkok), maka hukumnya suci.

2. Apabila cairan tersebut keluar dari farji (bagian vagiana yang tidak wajib dibasuh ketika istinja’ (cebok) dan terjangkau penis saat bersenggama), maka hukumnya suci menurut pendapat yang ashoh.

3. Apabila cairan tersebut keluar dari balik farji (vagina bagian dalam yang tidak terjangkau penis saat bersenggama), maka hukumnya najis dan menyebabkan batalnya wudlu.

Karena cairan keputihan bukanlah termasuk darah haidh atau nifas, maka wanita yag sedang mengalami keputihan tidak diwajibkan melakukan mandi besar, dan tidak diberlakukan hukum wanita haidh dan nifas baginya. Dan dihukumi seperti wanita yang suci apabila cairan yang keluar masuk dalam kategori suci (No.1 & 2)

Sedangkan apabila cairan yang keluar termasuk dalam kategori cairan yang najis (No. 3) maka hukum-hukum yang berlaku bagi wanita tersebut adalah hukum-hukum yang berlaku bagi wanita yang mengeluarkan darah istihadhoh. Dan langkah - langkah yang harus dilakukan sebelum sholat adalah sebagai berikut;

1. Menyucikan badan atau pakaian yang terkena cairan tersebut.

2. Menaruh semisal kapas pada tempat keluarnya darah untuk menyumbat darahnya agar tidak keluar. Namun menaruh kapas pada tempat keluarnya cairan itu tidak boleh dilakukan orang yang sedang puasa, karena dapat membatalkan puasanya, begitu juga hal tersebut tidak wajib dilakukan bagi wanita yang merasa sakit apabila menaruh kapas pada tempat keluarnya cairan. Apabila kapas itu tidak cukup bisa mencegah darah keluar maka wajib menambahkan kain atau pembalut .

3.Setelah itu, jika waktu sholat sudah masuk, diwajibkan segera berwudhu, dan wudhunya harus dilakukan setelah waktu sholat masuk, tidak boleh dilakukan sebelum masuknya waktu sholat. Ada dua hal yang membedakan antara wudhu wanitanya dengan wudhu pada umumnya, yaitu :

•    A.Niat wudhunya tidak seperti wudhu pada umumnya yang menggunakan niat "lirof'il hadatsi" (untuk menghilangkan hadats), karena wudhunya wanita yang sedang mengeluarkan darah istihadhoh tidak menghilangkan maka niat wudhunya sebelum melakukan sholat adalah :

NAWAITUL WUDHU'A LISTIBAHATIS SHOLATI FARDHON LILLAHI TA'ALA

"Saya niat wudhu agar diperbolehkan melakukan sholat..."

Atau bisa juga dengan niat secara umum, maksudnya entah itu mau sholat atau melakukan hal-hal lain yang diharuskan wudhu dahulu, yaitu :

NAWAITUL WUDHU'A LISTIBAHATI MUFTAQIRIN ILA WUDHU'IN FARDHON LILLAHI TA'ALA

"Saya niat wudhu agar diperbolehkan melakukan perkara yang membutuhkan wudhu'..."

•    Ketika wudhu, diwajibkan untuk muwalah (terus menerus) dalam membasuh dan mengusap anggota badannya. Maksud dari muwalah adalah pembasuhan atau pengusapan anggota badan dilakukan sebelum anggota badan yang dibasuh atau diusap sebelumnya kering.
4. Setelah wudhu, diwajibkan untuk segera melakukan sholat dan tidak boleh mengakhirkannya kecuali apabila mengakhirkannya karena melakukan hal-hal yang berkaitan dengan sholat, seperti menjawab adzan, melakukan sholat sunat qobliyah atau menunggu dimulainya sholat jama'ah.

Semua hal diatas dilakukan setiap kali akan melakukan sholat fardhu, termasuk mengganti kapas dan pembalutnya, atau mencuci kain yang dipakai sebagai pembalut sebelumnya.Dan bila semua hal diatas sudah dilakukan, maka sholat yang dikerjakan sah dan tidak usah mengqodho' (mengulaingi)nya lagi. Wallohu a'lam.

( Dijawab oleh : Kudung Khantil Harsandi Muhammad, Farid Muzakki dan Siroj Munir )


Referensi :
1. Hasyiyah Al-Jamal Ala Syarah Al-Manhaj,  Juz : 1  Hal : 179
2. Hasyiyah I’anatut Tholibin, Juz : 1  Hal : 104
3. At-Taqrirot Asy-Syadidah, Hal : 171


Ibarot :
Hasyiyah Al-Jamal Ala Syarah Al-Manhaj,  Juz : 1  Hal : 179

قوله ورطوبة فرج) هي ماء أبيض متردد بين المذي والعرق ومحل ذلك إذا خرجت من محل يجب غسله، فإن خرجت من محل لا يجب غسله فهي نجسة؛ لأنها رطوبة جوفية وهي إذا خرجت إلى الظاهر يحكم بنجاستها وإذا لاقاها شيء من الطاهر تنجس وحينئذ يشكل قولهم بعدم تنجيس ذكر المجامع مع أنه يجاوز في الدخول ما يجب غسله إلا أن يقال عفي عن ذلك كما عفي عن الولد الخارج من الباطن

Hasyiyah I’anatut Tholibin, Juz : 1  Hal : 104

قوله: وهي) أي رطوبة الفرج الطاهرة على الاصح. (قوله: متردد بين المذي والعرق) أي ليس مذيا محضا ولا عرقا كذلك. (قوله: الذي لا يجب غسله) خالف في ذلك الجمال الرملي، وقال: إنها إن خرجت من محل لا يجب غسله فهي نجسة، لانها حينئذ رطوبة جوفية
وحاصل ما ذكره الشارح فيها أنها ثلاثة أقسام
طاهرة قطعا، وهي ما تخرج مما يجب غسله في الاستنجاء، وهو ما يظهر عند جلوسها
ونجسة قطعا، وهي ما تخرج من وراء باطن الفرج، وهو ما لا يصله ذكر المجامع
وطاهرة على الاصح، وهي ما تخرج مما لا يجب غسله ويصله ذكر المجامع

At-Taqrirot Asy-Syadidah, Hal : 171
الأحكام العامة للمستحاضة
تختلف المستحاضة عن الحائض والنفساء, فالمستحاضة يجب عليها أن تصلي, وصلاتها صحيحة ولا قضاء عليها, وإذا حل رمضان وجب يجب عليها الصوم, ويجوز لزوجها أن يأتيها ولو مع سيلان الدم

الخطوات التي تتخذها المستحاضة إذا أرادت الصلاة
يجب عليها أن تتطهر من النجاسة الدم وغيره
يجب عليها الخشو في موضع خروج الدم بقطن أو نحوه, إلا غذا كانت تتأذى, أو كانت صائمة, لأن ذلك يفطرها, ويجب عليها التعصب إن لم يكف الحشو
يجب عليها المبادرة بعد ذلك بالوضوء, وشرطه أن يكون بعد دخول الوقت, والموالة فيه
يجب عليها المبادرة إلى الصلاة, فلا يجوز تأخيرها, إلا إذا كان التأخير لمصلحة الصلاة كإجابة مؤذن ونافلة قبلية وانتظار جماعة
 
 
sumber:http://www.fikihkontemporer.com/2013/06/hukum-cairan-keputihan-dan-ketentuan.html