ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Selasa, 12 November 2013

Sholawatan Bisa Jadi Gerakan Sosial

===========
Sholawatan Bisa Jadi Gerakan Sosial
====================

Solo, NU Online
Membincang tentang shalawat, pada umumnya tak lepas dari topik shalawat sebagai sebuah ibadah sekaligus wujud kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, pernahkah kita membayangkan majelis shalawat yang ada di lingkungan kita menjadi sebuah gerakan sosial?

Hal ini pernah menjadi bahan diskusi sejumlah elemen pemuda di Solo, Jawa Tengah. Salah satu pembahasan dalam diskusi tersebut, mengkaji tentang bagaimana potensi majelis-majelis shalawat yang kini tengah menjamur di masyarakat.

Di wilayah Soloraya misalnya, kehadiran Habib Syech menjadi magnet bagi para jamaah untuk bergabung mengumandangkan shalawat. Dari waktu ke waktu, jumlah jamaah semakin meningkat. Dalam perkembangannya, lahir juga komunitas-komunitas shalawat baru di berbagai daerah. Umumnya mereka adalah masyarakat pinggiran dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah.

Aktivis muda NU Solo, M Dalhar, menilai hal tersebut merupakan sebuah fenomena menarik. Fenomena Syecher, sebutan pecinta Habib Syech, merupakan potensi besar yang dimiliki Kota Solo.

“Modal yang besar ini merupakan kesempatan bagi pemuda untuk menjadikan jamaah tidak sekadar menjadikan shalawat sebagai kegiatan ‘pelarian’ dari kesibukan kota, tetapi menjadi sebuah forum produktif,” terang Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Kota Surakarta itu, belum lama ini.

Menurutnya, selain dibacakan pujian dan sejarah Rasulullah Saw, dalam kegiatan shalawatan dapat juga disampaikan permasalahan publik yang terjadi di sekitar. Selain itu, jamaah yang ada juga menjadi sebuah potensi untuk melakukan gerakan sosial dan pemberdayaan ekonomi.

Senada dengan Dalhar, Ketua Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Sukoharjo, Fitria Ayu, menambahkan kegiatan shalawatan selain menjadi ruang pengkaderan juga dapat dibuat sebagai sebuah gerakan sosial.

“Jadi secara kasarnya, shalawatan tidak hanya sekadar ibadah, tapi juga memiliki nilai sosial,” ujarnya kepada NU Online, Ahad (10/11) .

Fitria menjelaskan, saat ini majelis shalawat seperti Ahbabul Musthofa, Jamuro, dan sebagainya layak untuk dibentuk sebagai sebuah gerakan sosial. “Paling tidak majelis shalawatan yang sudah ada ini memiliki dua syarat untuk menjadi sebuah gerakan sosial. Yaitu figur dan massa,” pungkasnya.

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,48133-lang,id-c,nasional-t,Shalawatan+Bisa+Jadi+Gerakan+Sosial-.phpx